Mengulik Sejarah Icon Jombang, Ringin Contong dan Menara Air

Ringin Contong
Penampakan Ringin Contong, Bangunan Melegenda di Kabupaten Jombang
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-JOMBANG – Setiap daerah memiliki ikon tersendiri. Baik berupa bangunan bersejarah atau bentuk lain. Jombang misalnya. Daerah kelahiran Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini berjuluk Kota Santri, dan Kota Beriman. Bentuk lain, berupa ciri pohon Beringin Tua di tengah kota, bersandingan dengan menara air buatan penjajah Belanda.

Ciri khas atau icon Kota Jombang ini adalah Ringin Contong. Ada yang menyebut Contong dari posisi tanahnya, mengerucut atau bottle nect, ada yang menyebut karena warga yang mampir di menara air menadahi air dengan Contong.

Bacaan Lainnya
banner 800x800

Di Jakarta bangunan tinggi dan besar menjulang di area Gambir, disebut Tugu Monas. Di Jombang ada bangunan tinggi menara air dan pohon Beringin disebut Tugu Ringin Contong.

Ringin Contong adalah sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah Jombang kota. Tepatnya di Simpang 3 antara Jalan Gus Dur, Jalan KH Wahid Hasyim dan Jalan A Yani, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Bangunan di tengah jantung kota ini menjulang tinggi dan di diberi pagar tanaman bunga.

Bagi warga Jombang dan sekitarnya, keberadaan ikon Kota Jombang ini. Di bundaran jalan di Ringin Contong ini ada saluran penyimpan dan penyuplai air, ada tanaman-tanaman bunga, dan dipertegas dengan papan nama berbunyi, Ringin Contong Jombang.

Berita Menarik Lainnya:  Tumbuh Subur Di Pesantren, Keluarga Ponpes Sumber Wringin Akui Ajaran PSHT Selaras Dengan Pesantren

Keberadaan pohon Beringin Contong besar dan menara air ini menyimpan banyak sejarah.

Sebutan Lokasi Tanah Menjorok

Hal itu diungkap penelusur sejarah Jombang dari Komunitas Pelestari Sejarah (KompaS) Jombang, Moch Faisol.

Menurut M Faisol, Monumen Ringin Contong itu dulunya berupa lahan kosong di tengah persimpangan jalan poros Surabaya-Madiun.

“Berdasarkan data surat kabar lama De Indische Courant, pembangunan menara air itu dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Belanda, Burgelijke Operbare Werken (BOW) sejak 24 Agustus 1928. Pembangunan dirancang arsitek Belanda, Ir Snuyf itu berjalan satu tahun lamanya. Bangunan mukai difungsikan itu pada 1929 nya,” ujar Moch Faisol kepada wartawan, Jumat (27/5/2022) siang.

Mengetahui fungsi tandon air ini, kata dia diperuntukkan menampung air dari sumber air di Desa Ngampungan, Bareng. Sumber air itu dialirkan untuk melayani penduduk Kota.

Pada 21 Oktober 1910, barulah ditanami pohon beringin oleh Bupati Jombang pertama Raden Adipati Arya Soerodiningrat.

Penanaman pohon Beringin sebagai penanda berdirinya Kabupaten Jombang setelah memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto.

“Jadi yang ditanam pertama itu beringinnya, menandai pisahnya Kabupaten Jombang dengan Mojokerto pada 21 Oktober 1910 di sebelah watertoren (tower air, red) nya,” jelasnya di ruang kerjanya di Jalan Airlangga, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Penyebutan Ringin Conthong bukanlah berasal dari pohon beringin dan tower air melainkan berasal dari posisi lahan yang menjorok lalu mengerucut dari jalan utama atau nyontong dalam bahasa Jawa.

Ads

Jalan utama yang dimaksud adalah Jalan Gus Dur ke Jalan A Yani atau dari arah timur ke barat. Di tengah-tengahnya terdapat lahan yang menjorok ke selatan atau ke Jalan KH Wahid Hasyim.

Berita Menarik Lainnya:  Pemkab Asahan Terima Kunjungan Tim Evaluasi TP. PKK Provinsi Sumatera Utara

Tanah yang menjorok itu disebut Contong. Di tengah lahan itu juga berdiri pohon beringin besar. Sehingga orang-orang kala itu menyebutnya Ringin Contong hingga saat ini.

“Contong itu bukan tower air itu. Contong itu merujuk pada lahan yang menjorok dari jalan poros utama Surabaya-Madiun,” kata Faisol.

Contong untuk Tadah Air

Sementara itu budayawan Jombang Nasrul Illah atau Cak Nas menerangkan soal Ringin Conthong. Lahan yang kini jadi lokasi landmark kota santri itu, kata Cak Nas, sudah ada sejak zaman kerajaan. Namun, saat itu baru berupa hamparan lahan yang berdiri pohon beringin besar dengan sejumlah sumber air alami di dekatnya.

Lokasi Ringin Conthong kala itu berada di tengah-tengah poros jalan utama yang kerap dilalui penduduk saat itu. Jalan utama itu juga ramai lalu lalang para saudagar, prajurit kerajaan hingga keluarga dan tamu kerajaan yang kala itu hilir mudik melalui jalan tersebut.

“Posisinya yang strategis, sejak zaman sebelum Mataram Kuno di sini Ringin Contong sudah ada. Tapi baru berupa tempat peristirahatan orang yang lewat. Karena di situ ada sumber air, ada pohon beringin yang sejak dulu sudah ada,” kata Cak Nas.

Dikatakan Cak Nas, penyebutan Ringin Conthong itu merujuk dari pohon beringin dan sumber mata air yang ada di sekitrnya. Oleh warga kala itu, tempat sumber air dibuatkan penampungan-penampungan sehingga disebut contong. Dari situ muncul istilah Ringin Contong yang juga jadi tetenger warga waktu itu.

Berita Menarik Lainnya:  Dikbud Bondowoso Gelar Pertunjukan Seni dan Budaya Secara Virtual

“Sumber air di situ sejak dulu memang besar. Nah agar air ini bermanfaat, akhirnya orang-orang bikin tembok agar air terwadahi atau dicontong. Jadi Contong itu bukan tower air, tapi wadah air berupa tembok itu,” terang adik kandung Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu.

Saat ini, Ringin Contong berubah menjadi ruang terbuka hijau dengan pagar keliling. Terdapat dua pohon beringin besar dan bangunan tower air di tengah-tengahnya. Tower air ini menjadi aset PDAM Jombang.

Direktur PDAM Jombang Khoirul Hasyim mengatakan, tower air di monumen Ringin Contong dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1929. Tower air itu berfungsi untuk cadangan air warga Jombang kala itu.

“Jadi air itu mengalir dari Pacet (Mojokerto), Ngampungan, Kecamatan Bareng (Jombang) hingga ke tower air di Ringin Contong ini. Itu sudah ada sejak zaman Belanda,” ucapnya.

Namun, kata Hasyim, tower air yang berfungsi untuk kebutuhan air warga Jombang itu berlangsung hingga 1990. Kla itu masih dikelola oleh Badan Pengelola Air Minum (BPAM) provinsi Jatim.

Setelah itu, tower air di Ringin Contong tidak lagi difungsikan. “Mulai dari tahun 1993 itu beralih jadi milik PDAM Jombang. Sejak itu kita sudah tidak memanfaatkan tower air itu lagi,” imbuhnya.

>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google Beritabangsa.com

Pos terkait