Masjid Ini Berusia 100 Tahun Lebih, Dulunya Jadi Markas Pejuang Jombang Lawan Belanda

Penampakan halaman Masjid Jami' Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang
Penampakan halaman Masjid Jami' Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-JOMBANG – Kabupaten Jombang, tak hanya dikenal sebagai kota seribu pesantren. Namun juga dikenal sebagai kota dengan banyak tempat bersejarah. Mulai dari sejarah kerajaan hindu, Islam, hingga di masa penjajahan Belanda. Salah satu tempat bersejarah adalah Masjid Jami Bahrul Ulum, Tambakberas, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Ads

Masjid ini berlokasi di dalam kawasan pondok pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Usia bangunan Masjid ini sudah lebih dari satu abad, 100 tahun.

Bacaan Lainnya

Bangunan Masjid ini tergolong bangunan tua. Namun masih berdiri kokoh. Tempat ibadah yang sudah berdiri sejak 1910 silam ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga dikenal sempat dijadikan markas para pejuang Indonesia melawan penjajah Belanda, 1942–1948 di bawah komando KH Wahab Chasbullah. Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

KH Hasib Wahab Chasbullah, putra dari mendiang KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) ini, membenarkan sejarah masjid tersebut.

Masjid tua itu dahulu kala menjadi markas penjuang Islam ketika melawan Belanda di masa penjajahan.

“Benar, termasuk masjid tertua di Jombang. Jadi berdirinya Masjid Jamik Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini, sudah lebih dari 1 abad. Awalnya masjid ini didirikan oleh KH Hasbullah Wahid, atau ayah dari KH Wahab Hasbullah,” ujar Gus Hasib saat dijumpai awak media pada Kamis (7/4/2022) siang.

Kala itu, bangunan masjid dimaksud hanya dibangun sederhana saja. Namun lambat laun, santri serta warga sekitar datang untuk menimba ilmu di tempat suci ini.

“Lama kelamaan, santrinya tambah banyak. Dan setelah KH Hasbullah Wahid wafat, masjid ini langsung direhab oleh KH Wahab Chasbullah. Ya sejak 1920 an, sampai saat ini, bangunannya masih kokoh,” katanya, ditemui beritabangsa.com di halaman kediamannya.

Sebagian material bangunan masjid diambilkan dari sisa-sisa material bangunan pendapa Bupati Kabupaten Jombang yang hancur usai dibom tentara Jepang.

Sementara disinggung pemimpin daerah Jombang kala itu, Gus Hasib belum bisa memastikan. Hanya saja menurutnya, mengenal tokoh tersebut merupakan sosok pemimpin pertama di daerah Kabupaten Jombang ini.

“Kurang tau ya kepemimpinannya siapa waktu itu, mungkin Bupati pertama di Jombang. Jadi setelah pendapa kena bom, hanya tersisa 4 pilar. Kemudian Bupati mengadakan sayembara kepada para kiai, siapa saja yang mau mengambil 4 pilar itu,” katanya.

Tak segan, KH Wahab Chasbullah siap untuk menerima sayembara dan langsung mengambilnya. Usai berhasil diambil, 4 pilar bangunan itu dibawa langsung dengan menggunakan cikar atau delman bersama sejumlah santri.

“Sesampai di pondok, ya dipasang itu hingga bangunannya besar. Cara bawanya itu bisa dibayangkan begitu sulitnya, karena dulu tidak ada mesin dan segala macam. Sedangkan material pilar penyangga dari kayu jati memiliki diameter 40 sentimeter. Kalau panjangnya sekitar 13 meteran. Berat sekali, sehingga ditarik pakai rantai,” cetusnya.

Lambang atau tanda kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, kata Gus Hasib bisa dilihat 4 huruf arab yang ditulis di menara masjid, yakni kha, ra, ta, dan mim ( ح ر ت م).

“Itu artinya kemerdekaan yang sempurna. Sekilas ceritanya itu dulu Mbah Hasbullah Said menginginkan kemerdekaan. Namun kata yang bermakna kemerdekaan yang sempurna itu, sudah ada sebelum Indonesia merdeka itu. Akan tetapi tidak diketahui oleh penjajah, maka dari itu pejuang Islam kala itu aman berada di situ,” bebernya.

Hingga saat ini, tulisan itu masih terlihat jelas di tembok masjid bercat putih. Sementara tulisan Arab berwarna kekuningan itu berada di dalam menara masjid.

“Waktu itu masih belum ada teras, jadi di halaman menara dalam mesjid itu masih tanah dan ada pohon juga jenis sawo. Nah setelah santri tambah banyak, ribuan lebih, akhirnya sama Mbah Wahab, bangunan masjid ini diperluas. Kalau barang yang masih asli dari dulu di masjid itu, rata rata semuanya. Terkecuali terasnya itu, itu masih baru,” pungkasnya.

Dengan arsitektur khas zaman penjajahan membawa hawa sejuk dan nyaman saat berada di dalam Masjid. Corak bangunan dari luar, terlihat bergaya era zaman Belanda dan terlihat masih kokoh. Desain, bentuk, dan ornamen Masjid masih asli. Tak banyak ada perubahan.

Sementara aktivitas para santri ketika bulan Ramadan di masjid ini terlihat jelas, ada yang sedang menunaikan ibadah salat dan ngaji. Sebagian juga terdapat beberapa santri yang sedang istirahat tertidur nyenyak di halaman masjid setempat.

Pos terkait

banner 768x1152