Ulama Kharismatik di Jombang Wafat, Berikut Biografi Kiai Djamal

Proses menghantarkan Jenazah Ulama Kharismatik Jombang KH Djamaluddin Ahmad
Proses menghantarkan Jenazah Ulama Kharismatik Jombang KH Djamaluddin Ahmad
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-JOMBANG- Innalilahi wa Inna ilaihi raji’un, kabar duka menyelimuti umat Islam terutama keluarga Nahdlatul Ulama (NU) serta keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Pasalnya, Pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang KH Djamaluddin Ahmad meninggal dunia. Wafatnya ulama kharismatik ini diketahui pada dini hari Kamis (24/2/2022).

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Semasa masih hidup, Kiai Djamal ini dikenal santun mewarnai perubahan akhlak puluhan ribu santrinya. Tak hanya begitu, mendiang juga disebut -sebut sebagai pendakwah hebat karena memiliki Ilmu yang cukup luas.

Kajian Kitab Al Hikam yang disampaikan oleh Kiai Djamal, sapaan akrabnya sangat menyentuh kalbu jamaah yang menghadiri majelis Ilmunya. Jumlahnya sampai ribuan orang dari berbagai daerah.

Selain para santri saat mendengarkan pengajian mendianf, takdzim dalam menyimak. Untaian kalimat yang disampaikan mengenai di hati, sementara suaranya begitu lembut, teratur, dan terasa keluar dari hati.

Penjelasan Kitab Al Hikam ketika disampaikan Ulama Thariqah Sadziliyah ini mengena di hati. Al Hikam sendiri ditulis oleh Syaikh Athailah As Sakandariy, cucu murid Syaikh Abi Hasan As-Sadzili.

Gemuruh debar jantung ungkapan duka cita sangat terasa bahkan menyeruak di akun media sosial group WhatsApp alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas. Hingga semua alumni membuat story mengabarkan Kiai Kharismatik yang disayangi ratusan ribu santri dan jamaah ini kapundut, kembali ke hadirat Allah SWT.

KH Djamaludin Ahmad merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Muhibbin (Bumi Damai) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Ia adalah menantu dari KH Abdul Fatah yang juga guru almarhum sewaktu nyantri di Ponpes Tambakberas.

Biografi KH Djamaluddin Achmad

Kelahiran

Mendiang bernama lengkap Moh Djamaluddin bin Achmad bin Hasan Mustajab bin Hasan Musthofa bin Hasan Mu’ali. Lahir 31 Desember 1943 di kampung Kedungcangkring Desa Gondanglegi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Ayahnya bernama Achmad bin Hasan Mustajab dan ibunya bernama Hj Mahmudah / Djumini (nama sebelum haji) binti Abdurrahman bin Irsyad bin Rifai.

Kiai Djamaludin adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu:
1. Imam Ghozali yang meninggal pada umur 6 tahun,
2. Jawahir
3. Moh. Djamaluddin
4. Zainal Abidin

Masa Kecil

Di waktu kecil sebelum sekolah di SR (SD sekarang), Djamal kecil senang tidur di rumah kakeknya dari ibu yang bernama Abdurrahman dan neneknya yang bernama Ummi Kultsum binti K Tamyiz Banten.

Ini disebabkan karena kakek dan neneknya suka bercerita tentang Nabi-nabi dengan dilagukan tembang-tembang Jawa, sampai sekolah di SR masih suka tidur di rumah kakeknya dan bila siang hari suka mengikuti kakeknya.

Sekitar 1952, Djamal kecil kalau malam hari mengaji di pondok Selorejo Peduluhan Combre Desa Gondanglegi, yang diasuh oleh Kiai Abu Amar.

Berita Menarik Lainnya:  Dari Pasuruan, Mensos Risma Kunjungi Probolinggo Pantau Penyaluran Bansos

Suatu saat selama berbulan-bulan mengaji di tempat KH Abdul Djalil Gondanglegi. Dan melanjutkan mengaji di KH Abdul Ghofur, adik dari neneknya sendiri.

Semenjak dari usia itu, selain belajar, di sore hari suka memancing. Selepas mengaji, malam hari sering ikut teman-temannya yang sudah dewasa melihat wayang kulit.

Sehingga Djamal muda itu punya hasrat untuk belajar di pesantren karena diilhami dari nonton wayang kulit yang kebetulan lakonnya adalah Raden Abimanyu yang berguru pada eyangnya Begawan Abiyoso.
Di benaknya pun menggambarkan sosok Raden Abimanyu seperti santri dan Begawan Abiyoso seperti kiai yang memakai surban yang selalu membawa tongkat dan selalu diikuti para cantrik.

Setelah tamat SR, Djamal remaja ingin belajar di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang atas saran pamannya, Suhat. Pamannya pernah belajar di Pondok Tambakberas di KH Abdul Fattah.

Singkat cerita perjalanan pembelajarannya hingga sampailah di Pondok Tambakberas Jombang. Dia membawa bekal uang pas pasan, ludes untuk membayar becak saja.

Persyaratan-persyaratan masuk pondok dan madrasah sudah disiapkan. Bekal uang habis namun bekal bahan makanan semisal beras dan kelapa diandalkan untuk bertahan hidup beberapa bulan.

Masa Pendidikan

Djamaludin remaja berangkat ke pondok pesantren Tambakberas Jombang pada medio 1956. Belajar di MI kelas II dan di pertengahan tahun langsung masuk kelas III. Karena pondok mulai membangun Madrasah Mu’allimin, maka murid kelas I Mu’allimin diambil dari murid kelas VI MI, otomatis kelas V menjadi kelas VI, kelas IV menjadi kelas V dan kelas II menjadi kelas III.

Selama di Tambakberas bekal Djamal remaja selalu kekurangan, pernah selama beberapa bulan bahkan sampai setahun hanya memasak nasi dan untuk lauknya hanya merebus air yang diberi garam, tumbar dan merica saja.

Terkadang disuruh ibunya membawa kedelai dan tepung untuk membuat peyek di pondok. Jika bekal bahan sudah habis maka keadaan akan kembali seperti semula. Puasa.

Terkadang selama beberapa bulan hidup jarang makan. Pagi hari membeli sepotong singkong rebus dan kolak kacang hijau satu mangkok begitu pula di sore hari.

Pada pagi hari kedua sama. Menginjak sore hari yang kedua membeli nasi satu piring dan minum air kendi. Tapi itu semua belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perutnya sehingga bila malam tiba setelah jam 12 malam, ia mencari sisa-sisa nasi di kuali tempat masak.

Medio 1959 Djamal remaja tamat MI kemudian masuk Mu’allimin. Sampai pertengahan 1964 Djamal tamat Mu’allimin lebih cepat karena dari kelas III dia langsung masuk kelas V. Di waktu duduk di kelas III, dia sudah diperintah KH Fattah untuk mengajar di Madrasah Wajib Belajar (MWB) di lingkungan pondok Tambakberas juga..

Adapun murid-muridnya pada waktu itu adalah; Luthfi Arif, Ansori Shehah, Lahnan dan Shohib .

Selain mengajar di MWB Djamal muda juga mengajar di Pondok Putri Al-Fathimiyyah dan Pondok Putra (pondok induk sekarang) yakni di komplek Pangeran Diponegoro.

Berita Menarik Lainnya:  Gandeng Pemkab, Kejari Probolinggo Resmikan 'Rumah Damai'

Pada waktu kelas V Djamal muda sudah dipercaya oleh kepala sekolah Mu’allimin KH Ahmad Al Fatih sebagai Ketua OSIS, dan dipercaya memimpin Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz, dan dipercaya oleh pelajar pesantren se- Kediri yang berdomisili di PP. Tebuireng, Sambong, Denanyar dan Tambakberas sebagai Ketua Orda yang bernama IKPK (Ikatan Keluarga Pelajar Kediri).

Begitu tamat dari Mu’allimin, Djamal diambil menantu oleh KH Fattah, dinikahkan dengan perempuan cantik bernama Churriyyah yang masih kelas I Mu’allimat.

Pada akhir 1964 Djamal mempunyai keinginan untuk pindah ke Pondok Lasem, namun masih belum tahu kepada kiai siapa, karena banyaknya kiai di sana.

Saat beristikhoroh pertama melihat sebuah jeding dan musala, lalu mengambil air wudlu dan salat dhuha di musala tersebut. Sesampainya di Lasem ternyata dia menemukan sejarah bahwa pondok Al- Wahdah yang diasuh KH Baidlowi bin Abdul Aziz, seorang ‘arif billah yang kala itu menjadi Ro’is Thoriqoh se-Indonesia.

Pada istikhoroh kedua, Djamal merasa naik kendaraan yang berjalan begitu jauh yang kemudian turun di pasar, lalu berjalan kaki turun ke jurang terus naik ke gunung, turun ke jurang lagi lalu naik ke gunung lagi, ternyata di atas gunung itu ada sebuah Masjid.

Dia pun masuk masjid itu terus langsung sampai ke jerambahnya, waktu memandang ke timur tampak sebuah pondok yang banyak kamarnya, begitu pula waktu memandang ke barat dan utara, dan ketika memandang ke selatan tampak pemandangan yang bebas.

Ternyata itu adalah sebuah pondok yang diasuh oleh Kiai Asy’ari Poncol Salatiga, sifat-sifat pondok itu persis seperti dalam mimpi. Pondok yang ditempati para santri berada di timur, barat dan utara masjid, sedang di selatan masjid terdapat sebuah sawah yang luas sekali sejauh mata memandang. Di pondok ini belajar mengaji setiap bulan Jumadil akhir mulai dari tahun 1967, 1968 dan 1969. yang dikaji yakni kitab Bukhari Muslim dan Dala’ilul Khoirot.

Di pondok Salatiga dia tetap di Lasem pada 1965. Sedangkan pondok Poncol Salatiga hanya saat Jumadil akhir saja.

Setelah ada kepastian akan mondok di Poncol Salatiga, beliau berpamitan kepada KH Fattah, namun oleh dia disuruh menunggu sejenak kurang lebih setahun, karena Kiai Fattah beserta istri mau berangkat haji. Awal 1965 dia bertolak ke Lasem diantar adiknya yang bernama Zainal Abidin.

Perjalanan Jombang-Lasem memakan waktu 2 hari 2 malam karena sulitnya kendaraan disebabkan saat pecah G 30 S PKI.

Setelah satu tahun di Lasem, dia dipercaya oleh santr dari Madura dan Jatim yang ada di pondok Al-Ikhlas (Syaikh Masduqi Lasem), Al-Hidayah (Syaikh Ma’shum), serta pondok Al-Wahdah (KH. Baidlowi) untuk mendirikan organisasi santri yang disebut PUTRA SUNAN AMPEL, yang kegiatannya meliputi:
1. Bahtsul Masa’il
2. Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffaz
3. Jamiah Dziba’iyyah

Pada 1967 dia dipercaya oleh santri-santri Al- Wahdah sebagai Ketua Pondok, di samping itu banyak juga yang meminta ngaji, calon santrinya ngaji adalah para kyai, seperti: Kiai Sulaiman yang mondoknya di Al-Ikhlas, minta ngaji Al-‘Arudl, Gus Abdul Halim (putra Kiai Muslim Kempek Cirebon), Gus Masyhadi putra (Kiai Harun Cirebon), Gus Nur, Gus Muhlisun dari Watu congol Magelang yang minta ngaji ‘Uqudul Jinan, disamping juga dari para santri Al-Wahdah yang meminta ngaji Riyadlus Sholihin dan ‘Idatul farid, begitu pula santri-santri dari pondok-pondok lain.

Berita Menarik Lainnya:  Tempat Ibadah Ditutup, Begini Kata Ketum ARSINU PBNU

Selama kurang lebih 3 tahun mondok di Lasem, beliau tidak pernah pulang ke rumah, suatu hari setelah ‘ashar beliau mendapat surat dari ibunya yang isinya “Djamal muliho aku wis kangen.” Beliau menangis karena waktu itu beliau sudah berencana dan menabung untuk mondok di Mranggen Demak yang diasuh oleh KH Muslih bin Abdurrahman untuk khataman kitab Al-Mahalli.

Pada waktu itu semua pakaian, kitab-kitab dan koper telah disiapkan, karena besoknya akan berangkat ke Demak. Beliau hanya bisa menangis karena satu sisi dia ingin mengaji dan disisi lain harus patuh pada ibunya. Akhirnya sowan pada Kiai Baidlowi tanpa mengatakan apapun dan hanya menangis saja, tanpa bertanya Kiai Baidlowi berkata: “Cung, anak iku sing apik manut wong tuo. (Cung, anak yang baik adalah yang taat kepada orang tua.)”

Setelah sowan, ia langsung pulang, sampai di Jombang malam hari pukul 23.00 WIB, terpaksa menginap di kamar pondok dan tidak sowan KH Fattah karena takut akan diakadi sebab sebelum berangkat ke Lasem, beliau sudah positif diambil menantu tapi belum akadan karna permohonan keluarga Nganjuk agar menyelesaikan dulu menuntut ilmu di pondok pesantren.

Ternyata kepulangan Kiai Djamaluddin diketahui oleh Kiai Fattah dan Ibu Nyai Fattah yang ketika itu disertai ibu Nyai Iskandar, kemudian Ibu Nyai Fattah berpesan, oleh karena akhir Sya’ban itu akan diadakan Haflah Akhir Sanah (Imtihan), maka keluarga Gondanglegi beserta ayah ibu Kiai Djamal dan saudara-saudaranya diundang agar datang ke Tambakberas.

Akhirnya pada Akhirus Sanah, seluruh keluarga Gondanglegi menghadiri dan pulang keesokan harinya, tapi Kiai Djamal oleh Kiai Fattah tidak boleh pulang dulu seraya berkata kepada keluarga Gondanglegi “Djamal kersane kintuntun rumiyen.”

Kira-kira keluarga masih ada di tengah perjalanan, Kiai Djamal dipanggil oleh Kiai Fattah dan berkata “Djamal engko bengi kowe ta’ aati, Mumpung Mbah Bisri isih sugeng, lan iki duit kanggo Mas kawin” sambil mengambil uang Rp1.000 tanpa amplop dan dimasukkan ke dalam sakunya.

Setelah sampai di kamar dia menangis karena bingung, satu sisi ayah dan ibu menghendaki akad nikah setelah selesai belajar di pondok dan di sisi lain gurunya menghendaki dipercepat, dua hal yang bertentangan ini dipikir secara mendalam dan ia ingat akan pelajaran guru akhlak ketika ngaji kitab Al-Mathlab bab akhlaq, yakni apabila terjadi perbedaan pendapat maka yang didahulukan adalah guru.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280