Mengenal Robi Sali, Musisi Madura Bertalenta

Robi Sali Musisi Madura
Robi Sali Musisi Madura
Silahkan Share ke :

Beritbangsa.com, Pamekasan – Setiap orang punya hak untuk suka pada bidang tertentu dan berkarya melalui jalur itu, bahkan mengangkat kearifan lokal lewat karyanya.

Seperti suka musik dan mencoba produksi lagu menggunakan Bahasa Madura yang notabene dianggap sebagai ‘Bahasa Ibu’ oleh orang Madura.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Jika awalnya hanya menikmati lagu karya musisi lain, bukan tidak mungkin menciptakan lagu di kemudian hari.

Begitu narasi yang tepat untuk menggambarkan perjalanan bermusik Robi Sali, musisi muda berbakat asal Madura.

Pria kelahiran Sumenep ini sudah merilis dua lagu ciptaannya di tahun ini: Lagu berjudul “Kaso’on Lokana” dirilis pada 21 Mei lalu. Sedang “Lara” dirilis pada 8 Desember lalu.

Dia cerita, menyukai dunia musik sejak kecil. “Saya suka musik dari kecil. Waktu itu saya masih zaman DVD. Jadi dari saking girangnya sama musik. Kalau ke pasar niat beli DVD, saya bisa beli 1 sampai 10 DVD,” katanya, Kamis (9/21/2021).

Hobi bermusiknya terus tumbuh dari waktu ke waktu. Robi mengaku, saat silaturahim ke rumah sanak familinya pun sering belajar bermain gitar milik salah satu saudaranya. Waktu itu dia masih masih duduk di kelas 3 MTs.

Sarjana kok bermain musik? Hukum Ekonomi Syariah, lagi! Kesarjanaan Robi tidak dibuang begitu saja. Dulu awal-awal baru lulus, pernah coba cari kerja sana sini, bahkan melamar kerja salah satu bank.

“Jadi dulu saya pernah daftar di bank. Pernah dipanggil setelah beberapa bulan mendaftar. Tapi saya tidak hadir. Karena di sela-sela menunggu panggilan untuk interview, kurang lebih 4 bulan, saya sempat ditawari teman untuk mengembangkan bakat dibidang musik ini. Jadi tepat dengan moment itu, saya sudah berjanji kepada teman untuk rekaman di Jombang,” kenang Robi.

Berita Menarik Lainnya:  Mengenal Lebih Dekat Sosok Pj Sekdaprov Jatim Wahid Wahyudi

Sebenarnya, lanjut Musisi bernama lengkap Robitullah itu, orangtuanya menginginkan dia kerja kantoran. Jika mengingat itu, ungkapnya, sama saja memutar memori dilematisnya.

Satu sisi orangtuanya menyarankan agar kerja kantoran dengan memenuhi panggilan untuk interview. Sisi lain, sudah siap berangkat rekaman bersama temannya.

“Jadi waktu itu pun berpikir gini. Misal penuhi panggilan interview, saya bisa gagal berkarya di musik ini. Memilih bermusik, jelas gagal kerja kantoran. Tapi dengan pertimbangan bakat itu, saya putuskan untuk rekaman bersama Efrecord di Jombang. Dan Alhamdulillah, orangtua saya akhirnya menyetujui keputusan itu,” cerita alumnus MA Sumber Bungur Pakong itu.

Ingin Angkat Nama Madura Lewat Musik

“Alasan itu bermula dari fenomena 2014 silam. Waktu itu saya tahu lagu-lagu Banyuwangi-an dengan bahasa khasnya, Bahasa Using. Yang saya tahu, lagu-lagu itu diterima di kancah nasional bahkan ke luar negeri. Sedang lagu Madura, hanya sekadar ada. Itu pun banyak yang cover lagu orang, hanya ganti lirik,” bebernya kepada Beritabangsa.com.

Dari situ dia berpikir untuk menciptakan lagu sendiri. Menurutnya, musisi sejati itu menciptakan lagu original, bukan mengcover, meskipun secara hukum cover lagu tidak ada larangan.

Robi tidak mempermasalahkan banyak orang yang cover lagu orang lain, sudah merasa nyaman dengan itu, dan bisa dapat penghasilan dari karya cover lagunya.

Menurutnya, tidak ada larangan mengcover lagu orang lain selama ada etika. Etika tersebut berupa, izin ke pencipta, jika tidak memungkin untuk izin karena sulit respon maka setidaknya lampirkan keterangan dan mencatutkan link lagu aslinya.

“Cover mengcover lagu orang, itu hak mereka. Tapi bagi saya, itu kurang baik dan kurang mensyukuri potensi yang dimiliki. Umumnya, lagu itu kan diciptakan dari intuisi, perenungan yang dirangkai dengan huruf yang penuh makna, dan dibuat oleh manusia. Saya kira, kita juga bisa. Kalau bisa buat sendiri, kenapa harus cover?” ujar pria kelahiran 16 September 1995 ini.

Berita Menarik Lainnya:  Begini Cara Wanita Paruh Baya di Jombang Sulap Tanah Liat Jadi Pundi-Pundi Rupiah

Dia mengaku, tidak bisa memaksa para pengcover lagu untuk segera menciptakan sendiri. Karena itu hak semua orang. Akan tetapi, dia mencoba memulainya.

Meskipun bukan hanya dia satu-satunya orang berpikir ke arah sana. Dia bersyukur bisa memulai dari diri sendiri dan sudah mendapat respon positif dari teman-teman dan penggemarnya.

Robi menjelaskan, sudah banyak yang mensupportnya. Dan jika bertanya karya siapa lagu yang dirilisnya.

“Saya akan bilang, ini karya teman dan siapapun yang mendukung saya. Jadi bukan lantas ini murni karya saya. Makanya, kalau bicara lagu atau karya Robi Sali, saya berani bilang, itu karya mereka yang mensupportnya,” katanya.

Kepada pemuda lain dia berpesan, agar mengembangkan potensinya. Semisal bidang fotografi, videografi, menulis, olahraga, musik, dan lainnya.

Mereka yang sekarang sukses di bidangnya, pasti berawal dari kesukaan lalu dikembangkan secara profesional. Bila perlu, bergabunglah bersama orang-orang seirama. Robi pun mewajibkan diri untuk belajar lebih giat lagi.

“Saya menulis lagu secara otodidak. Tapi saya sering begini. Menulis lirik dulu, lalu saya konsultasikan kepada orang yang sayang anggap dan memang punya pengetahuan perihal penulis bahasa daerah. Lagu saya tidak sekali nulis langsung jadi. Kadang saya edit berkali-kali. Baru setelah dirasa pas, saya konsultasikan perihal kaidah penulisannya,” jelasnya.

Suatu saat, harapnya, dapat berkolaborasi dengan siapapun. Baik itu di pemerintahan atau swasta untuk mengangkat Madura melalui lagu original berbahasa Madura.

Misalkan ada yang mau menfasilitasi atau jadi manajer, apa yang akan dilakukan? Dia mengaku, belum pikiran ke sana. Saat ini, hanya ingin berkarya untuk siapapun yang mau mensupportnya. Karena perihal difasilitasi dan memasang manajer perlu belajar lebih untuk dijadikan pertimbangan.

Berita Menarik Lainnya:  Pemuda di Jombang Ini Raup Cuan Dari Burung Peliharaan Saat Pandemi

“Yang saya sangat harapkan, misal ada teman yang mau kolab dari sisi skill. Misal ada yang punya skill di bidang konten kreator, jago akting bahkan memiliki produk lokal, mari berkolaborasi. Dalam video klip yang Lara, saya pun mengajak beberapa teman yang punya skill di akting juga memiliki produk lokal,” ujarnya.

Hadapi Banyak Tantangan

Perjalanan bermusiknya bukan tidak ada tantangan. Dia membeberkan, jadi pemula itu berat. Karena pemula punya banyak keinginan, tapi kadang terbatas di modal. Utamanya materi.

Tidak hanya itu, juga soal respon. Ada saja orang merespon negatif, baik itu cuek, bahkan menjelek – jelekan.

Robi mengaku, lebih baik terus berkarya untuk mereka yang mensupport, daripada meladeni orang yang berkarakter sinis.

Dia bilang, jadi musisi di Madura itu tidak mudah. Terkadang dianggap kompetitor oleh mereka yang sinis kepadanya.

“Jadi di Madura. Yang saya lihat, jika ada pendatang baru dalam dunia apapun, seakan itu saingan. Bahkan dianggap kompetitor yang harus dipatahkan. Berbeda dengan di luar Madura yang justru saling support. Ini hanya analisis dan pengalaman saya saja. Dan semoga atmosfer seperti ini segera sirna,” ungkapnya.

Dia menilai, ada sebagian pemusik di Madura tidak menunjukkan solidaritasnya kepada pemusik lain. Robi mengaku menjadi imbas dari sikap itu.

Pernah suatu saat, jelasnya, mengontak salah satu seniman atau pegiat musik di Madura, tapi tidak mendapat respon baik.

“Bahkan nomor saya diblokir,” ujarnya.

Dia bilang, banyak pemusik hebat di Madura. Hanya saja, mungkin masih sedikit yang mau bermusik secara original. Oleh karena itu, katanya, saling mendukung satu sama lain untuk memajukan musik Madura.

Menurutnya, kemajuan Madura tidak hanya dari sisi pemerintahan, pembangunan, dan tidak harus formalistik. Tapi kemajuan itu bisa juga dari sisi musik.

banner 600x310
banner 1024x1280