Santer Maju Pilwali Surabaya, Pakar Hukum Unair Anggap Eri Cahyadi Cacat Hukum

Silahkan Share ke :

Surabaya, Beritabangsa.com – Dosen hukum Universitas Airlangga (Unair) I Wayan Titip turut memberikan komentar terkait santernya kabar nama Kepala Bappeko Pemkot Surabaya Eri Cahyadi akan maju dalam Pilwali Surabaya 2020 mendatang. Dalam hal ini Wayan bersikap kontra meski disebut Eri didukung Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Fenomena ngawur, pejabat cacat hukum, tapi dikampanyekan. Sementara pejabat yang baik dan tanpa cacat hukum tidak dikampanyekan,” ujarnya ketika dimintai pendapat. Senin (9/12/2019)

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Wayan berkata demikian karena nama Eri Cahyadi pernah disebut terlibat dalam kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng. Selain Eri, saat itu nama anak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Fuad Bernardi, juga turut disebut. Dan keduanya sudah pernah diperiksa pihak Polda Jatim.

Berita Menarik Lainnya:  RS Mayapada Jadi Alternatif Warga Surabaya yang Berobat ke Luar Negeri

Nama Eri turut disebut dalam kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng karena dia dianggap tahu persis perizinan gedung sebelah RS Siloam. Sebab, sebelum menjabat sebagai kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), Eri merupakan kepala di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Pemerintah Kota Surabaya yang membawahi perizinan.

Dalam perkara itu, Eri sudah diperiksa dua kali. Yaitu, oleh pihak penyidik Polda Jatim dan yang kedua oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Surabaya. Namun, kapasitasnya bukan sebagai orang yang diduga bersalah atau hanya sebatas saksi.

Berita Menarik Lainnya:  Ini 55 Catatan DPRD di LKPJ, Bupati Bondowoso: Semua Kita Tindaklanjuti

Dalam hal ini, Wayan beranggapan sudah bukan rahasia umum lagi bahwa dalam urusan perizinan, banyak kepentingan pemberi izin.

Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah? Pada tahap ini sudah lazim terjadi gratifikasi, pemerasan oleh pemberi izin. Semisal pungli. Untuk itulah, kenapa dinas perizinan menjadi lahan basah bagi ASN,” ujarnya.

Menurut Wayan, dalam keseharian, ASN di bagian perizinan jauh lebih makmur daripada ASN di dinas lain. Hal itu juga bisa dilihat dari gaya hidup keseharian.

Sebab itu, Wayan berharap calon wali kota Surabaya nanti adalah orang yang bersih. Soalnya, bagaimanapun itu akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi lagi di masyarakat.

Berita Menarik Lainnya:  Eri Cahyadi, Hadapi Pandemi Surabaya Madura Satu Kesatuan

Dimintai pendapat soal anak Wali Kota Risma, Fuad Bernardi yang belum dihadirkan dalam pengadilan, Wayan menilai wajib sebenarnya.

Ada apa putra wali kota tidak dihadirkan dalam persidangan? Advokat terdakwa dapat memohon kepada majelis hakim agar saksi yang bersangkutan dihadirkan,” tegasnya.

Jika nanti dihadirkan, imbuh Wayan, kasus pidana ini pasti akan menjadi terang-benderang.

Karena ada diskriminasi perlakuan, maklum anak pejabat. Andai kata yang bersangkutan bukan anak pejabat, tentu lain lagi perlakuan aparat penegak hukum,” imbuhnya.

Citra Wali Kota Risma sendiri tercederai dengan dugaan keterlibatan putranya dalam kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng. Hal itu menjadi simalakama jika Risma paksakan dukung calon di Pilwali Surabaya. (AIS/Red)

banner 600x310

Pos terkait