Super, SMKN 1 Turen Ciptakan Batik Motif Bambu

Busana batik khas lokal Turen yang ditampilkan siswa siswi SMKN 1 Turen pada Ajang Kreasi Batik Kabupaten Malang

BERITABANGSA.COM-MALANG – Sekolah Menengah Kejuaraan Negeri (SMKN) 1 Turen Kabupaten Malang membuat terobosan dan inovasi baru hasil karya berupa busana kasual dengan motif batik lokal khas Turen (Bambu,red) di ajang Zona Kreasi Batik Kabupaten Malang di museum Singhasari, Sabtu (1/10/2022).

Rini Choiriyah, Kepala Laboratorium Praktik Tata Busana mengatakan, busana khas lokal Turen dibuat pelajar SMKN 1 ini menonjolkan motif perpaduan gambar bambu dan topeng.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Wisuda II Tahun 2021-2022, UNUSA Hadirkan Menteri dan Gelar ’Virtual Job Fair’
banner 1920x1080

“Busananya kasual, dengan dua corak warna dasar biru dan hijau turkey. Motifnya bambu, menggambarkan khas Turen dengan kekayaan pring (bambu), serta Malang yang terkenal topengnya,” kata Rini Choiriyah, selaku Kepala Laboratorium Praktik Tata Busa SMKN 1 Turen.

Rini menjelaskan makna filosofis motif batik yang dikenalkan dan warna-warni pada topeng menggambarkan karakter dan latar belakang masyarakat Kabupaten Malang yang beragam.

Sementara, motif bambu bergerombol seperti karakter pohon bambu yang hidup bergerombol, dan membentuk satu kesatuan.

“Dari paduan motif batik ini, bisa diartikan masyarakat Kabupaten Malang beragam karakter dan budayanya, namun hidup bersatu dan saling mendukung, sehingga akan tetap satu kesatuan membangun Kabupaten Malang,” jelasnya.

Berita Menarik Lainnya:  Polisi Temukan Fakta Laka Truk Tewaskan 4 Buruh Tani di Jombang

Sepasang busana batik khas kreasi SMKN Turen 1 ini dikenalkan dalam peragaan busana di acara Pesona Kreasi Batik Kabupaten Malang, yang digelar di Museum Singhasari.

“Batik yang kami tampilkan pada Pesona Kreasi Batik Kabupaten Malang di museum Singhasari adalah kreasi busana batik khas Turen, bahannya dari kain batik tulis yang dikerjakan langsung pengrajin setempat, dan bukan batik cetakan yang dijual di pasaran,” tandas Rini.

Soal kreasi busana sendiri, dikerjakan dengan proses yang tidak asal. Desainnya dibuat agak beda, bajunya asimetris dan bertumpuk-tumpuk dengan kombinasi dua warna kain.

Berita Menarik Lainnya:  Kasus Covid-19 di Madura Meningkat, KKN UNTAG Surabaya Fokus Sosialisasi Patuh Protokol Kesehatan dan Edukasi Vaksinasi Covid-19

“Proses menjahitnya yang lumayan sulit, seperti menyatukan motif gambar batik, bambu yang utuh berdiri, dan tidak boleh putus-putus. Penyelesaian baju dalam waktu dua hari,” kata Ita Dwi, penjahit baju, siswa kelas XII Tata Busana-2.

Ditambahkan pula manik-manik kristal dengan sulam payet, sehingga memberi kesan elegan dan glamour secukupnya. Sedangkan, model baju asimetris sendiri, agar penggunanya tetap terkesan muda.

“Dengan manik manik kristal sulam payetakan memberi kesan elegan dan glamaur kental terasa serta penggunanya akan tetap muda,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *