Rencana Penyederhanaan Varian BBM, Begini Respon PMII Surabaya dan ISOMA

Silahkan Share ke :

Surabaya, Beritabangsa.com – Rencana penyederhanaan varian BBM oleh direktur PT Pertamina Nicke Widyawati dengan menghapus BBM jenis premium dan pertalite mendapat respon dari PC (Pengurus Cabang) PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Surabaya dan ISOMA (Ikatan Sopir Mahasiswa) Surabaya.

Nurul Haqqi ketua PC PMII Surabaya mengatakan bahwa Pertamina harus bertanggung jawab kalau memang pertamina menginginkan BBM yang ramah lingkungan sebagaimana peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 20 tahun 2017.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Terungkap Apa Itu Padepokan Tunggal Jati Nusantara
banner 1024x1366

PT Pertamina (Persero) sempat menjadi perbincangan di media sosial setelah mencatat kerugian sebesar 11.13 triliun rupiah di semester 1 di tahun 2020.

“Jangan sampai kerugian yang dialami oleh Pertamina dibebankan semerta-merta kepada masyarakat yang masih dalam kondisi menanggung beban bencana atau di musim Pandemi Covid-19,” ujar Haqqi, Sabtu (5/9/2020).

“Jangan hanya berpatokan pada permen LHK nomer 20 tahun 2017 saja, tapi juga harus memperhatikan permen ESDM no 13 Tahun 2018 tentang penyaluran BBM, BBG dan LPG, dimana pemerintah harus bisa memastikan penyaluran serta pengawasan produk ESDM berupa BBM dan lain sebagainya kepada masyarakat Indonesia selaku konsumen dengan harga yang wajar,” imbuhnya.

Berita Menarik Lainnya:  Sempat Alami ODGJ dan Dipasung, Ditangani Puskesmas Normal Lagi

Senada dengan Ketua PC PMII Surabaya, M Hakim selaku ketua ISOMA menyebut bahwa rencana penghapusan BBM jenis premium dan pertalite sangat memberatkan rakyat kecil yang sedang berjuang melawan wabah covid-19.

“Selain kita para sopir, teman-teman ojek online juga menggantungkan pilihannya pada BBM jenis pertalite dan premium, jika itu dihapuskan akan sangat memberatkan kami apalagi saat ini rakyat sedang menderita baik secara ekonomi dan kesehatan.” ujar hakim yang ditemui di terminal Joyoboyo, Surabaya.

Berita Menarik Lainnya:  Cegah Klaster Tahun Baru 2021, Pemkab Bondowoso Tutup Alun-Alun Dua Pekan

Hakim juga menambahkan dirinya tidak menolak upaya Pertamina untuk menghadirkan BBM ramah lingkungan sebagaimana permen LHK nomer 20 tahun 2017 yang mengharuskan Indonesia sudah mengadopsi kendaraan BBM berstandar euro 4 dengan researtch oktane number RON diatas 91 dan kadar sulfur diatas 50 ppm.

“Masyarakat juga akan senang menggunakan BBM bersih karena akan bermanfaat bukan hanya untuk lingkungan hidup tapi juga untuk mesin kendaraan kami,” jelasnya.

“Tapi rakyat kecil juga rasional kalau harus memilih antara BBM bersih atau BBM murah, di lapangan ternyata kenyataan teman-teman lebih memilih BBM murah,” pungkasnya.

Reporter : Dayat

banner 600x310
banner 1024x1280