PWNU Jatim Tak Ingin KH Miftachul Akhyar Mundur dari MUI

KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU saat sambutan Munas NU di Hotel Grand Sahid Jaya Sabtu 25/9/2021 (Dok: Istimewa)
Keterangan foto : KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU saat sambutan Munas NU di Hotel Grand Sahid Jaya Sabtu 25/9/2021 (Dok: Istimewa)
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-SURABAYA – Terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-34 di Lampung, kian menguatkan komitmen memperhatikan kemaslahatan umat.

Ads

Untuk itu jajaran Pengurus Wilayah NU, Jawa Timur, memohon kepada Rais Am PBNU tidak mundur dari posisinya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Bacaan Lainnya

“Kami memohon kepada Rais Aam PBNU untuk tidak mundur dari Ketua Umum MUI untuk kepentingan kemaslahatan yang lebih besar bagi agama, bangsa dan negara, serta mengusulkan kepada seluruh PWNU se-Indonesia agar bersikap serupa dengan PWNU Jatim,” tutur Sekretaris PWNU Jatim Prof Akh. Muzakki Grad Dip SEA, MAg, M Phil, Ph.D.

Ungkapan itu merupakan hasil keputusan rapat gabungan PWNU Jawa Timur yang dipimpin Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Manshur dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Selasa ?(28/12/2021).

Rapat gabungan, dihadiri jajaran syuriah dan tanfidziyah, seperti KH Anwar Iskandar (Wakil Rais), KH Syafruddin Syarif (Katib Syuriah PWNU), KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Prof KH Ali Maschan Moesa, KH Reza Ahmad Zahid, KH Abdus Salam Shohib, KH Ahmad Fahrur Rozi, KH Abdurrahman Alkautsar.

5 Poin Hasil Ratgab PWNU Jatim

Selanjutnya, Prof Akh Muzakki menyampaikan lima poin penting keputusan Rapat Gabungan (Ratgab) PWNU Jawa Timur di Ponpes Lirboyo Kediri, antara lain: bahwa dinamika Muktamar dianggap selesai dan tidak akan berlanjut. Selanjutnya PWNU mendukung mandataris Muktamar, yakni KH Miftachuk Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memimpin PBNU ke depan.

Dalam membentuk Tim Perumus yang berkompeten melakukan sinkronisasi hasil sidang komisi dan pleno, PWNU siap untuk mengawal tim perumus dimaksud dengan baik.

Bahkan PWNU mengharap PBNU agar dalam membentuk kepengurusan baik di PBNU mempertimbangkan prinsip kemandirian pengurus yang harus mencerminkan kemandirian dari campur tangan siapapun, baik parpol, partisan dan pemerintah.

“Prinsip the right man on the right place dalam bidang apapun, termasuk pendidikan dan ekonomi. Memiliki paham wasathiyah dalam menerjemahkan aswaja annahdliyan dalam beragama serta memiliki kepekaan merespon isu strategis agar NU tidak buruk di ruang publik, seperti moderasi beragama yang kebablasan dan kekerasan seksual di lembaga pendidikan,” ujarnya.

Untuk itu, Rais Aam PBNU diminta tidak mundur dari Ketua Umum MUI dan mengajak PWNU se-Indonesia agar bersikap serupa dengan PWNU Jatim.

Pos terkait

banner 768x1152