Polemik Pernyataan Menag, Begini Kata Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim

KH Ma'ruf Khozin Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim
KH Ma'ruf Khozin Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-SURABAYA- Polemik pernyataan Menteri Agama (Menag) RI tentang pengeras suara menjadi sorotan publik dan membuat Ketua Komisi Fatwa MUI angkat suara.

“Niku kan mengatur waktu mawon (itu hanya mengatur waktu saja). Ada Masjid yang setengah jam sebelum azan sudah menyetel suara murattal. Saling bersahutan banter-banteran (keras-keras). Maka diatur menjadi 10 menit sebelum azan,” jelas KH Ma’ruf Khozin Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, ketika dikonfirmasi Beritabangsa.com via WhatsApp, Jumat (25/2/22).

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Polres Pelabuhan Tanjung Perak Ungkap Kasus Tawuran Antar Geng
banner 1024x1366

“Sebenarnya ini sudah disosialisasikan sejak menteri Surya Darma Ali, sebab saya berada di Dewan Masjid Indonesia 2013 sudah ada. Tapi saat itu tidak ramai dan tidak dipatuhi, karena memang surat edaran menteri sifatnya anjuran, bukan kewajiban yang kena hukum sanksi,” imbuhnya.

Untuk surat edaran dari Kemenag RI sudah keluar dan bersifat anjuran, tidak mewajibkan.

Kemenag Luruskan Pernyataan

Kementerian Agama (Kemenag) pun mencoba untuk meluruskannya.

“Menag sama sekali tidak membandingkan suara azan dengan suara anjing, tapi Menag sedang mencontohkan tentang pentingnya pengaturan kebisingan pengeras suara,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag, Thobib Al-Asyhar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/2/2022).

Menurut Thobib, Menag Yaqut menjelaskan penerbitan Surat Edaran (SE) Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala saat kunjungan kerja di Pekanbaru.

Berita Menarik Lainnya:  Kasus Keracunan Podoroto Jombang, Begini Pengakuan Tuan Rumah

Menag menyatakan bahwa dalam hidup di masyarakat yang plural diperlukan toleransi, sehingga perlu pedoman bersama agar kehidupan harmoni tetap terawat dengan baik, termasuk tentang pengaturan kebisingan pengeras suara apa pun yang bisa membuat tidak nyaman.

“Dalam penjelasan itu, Gus Menteri memberi contoh sederhana, tidak dalam konteks membandingkan satu dengan lainnya, makanya beliau menyebut kata misal. Yang dimaksud Gus Yaqut adalah misalkan umat muslim tinggal sebagai minoritas di kawasan tertentu, di mana masyarakatnya banyak memelihara anjing, pasti akan terganggu jika tidak ada toleransi dari tetangga yang memelihara,” katanya.

Berita Menarik Lainnya:  Pelatih Aji Jelaskan Alasan Persebaya Kalah dari Rans FC

“Jadi Menag mencontohkan, suara yang terlalu keras apalagi muncul secara bersamaan, justru bisa menimbulkan kebisingan dan dapat mengganggu masyarakat sekitar. Karena itu perlu ada pedoman penggunaan pengeras suara, perlu ada toleransi agar keharmonisan dalam bermasyarakat dapat terjaga. Jadi dengan adanya pedoman penggunaan pengeras suara ini, umat muslim yang mayoritas justru menunjukkan toleransi kepada yang lain. Sehingga, keharmonisan dalam bermasyarakat dapat terjaga,” tuturnya.

Menag, lanjut Thobib, tidak melarang masjid-musala menggunakan pengeras suara saat azan. Sebab, itu memang bagian dari syiar agama Islam.

Edaran yang Menag terbitkan hanya mengatur antara lain terkait volume suara agar maksimal 100 dB (desibel). Selain itu, mengatur tentang waktu penggunaan disesuaikan di setiap waktu sebelum azan.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280