Ketua Umum PBNU: Lima Jenis Kekayaan Jadi Kebesaran Indonesia

Keterangan foto : Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. (Foto/Panitia Muktamar)
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-LAMPUNG– Organisasi terbesar di negeri ini yakni Nahdlatul Ulama (NU) sedang menggelar Muktamar ke-34 untuk melahirkan format program ke depan bagi bangsa Indonesia ini.

Sebagai organisasi terbesar maka pantas kiranya Muktamar NU ke-34 ini dibuka resmi oleh Presiden Joko Widodo, dan mendapat perhatian cukup luas di negeri ini maupun di dunia.

Bacaan Lainnya
Ads

Kebesaran NU itu sebagai aset bangsa Indonesia. Melihat Indonesia yang begitu besar dan majemuk juga bisa dari sudut pandang santri dan pesantren, ciri khas NU.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj, menyampaikan ada lima jenis kekayaan besar bangsa Indonesia.

Pertama, sumber daya sosial 17 ribu lebih pulau, 300 etnis dan 1.340 suku bangsa, dan 1.211 dialek bahasa adalah fakta keragaman dan kemajemukan bangsa ini.

Berita Menarik Lainnya:  Sidang Tuntutan Sopir Vanessa Angel Ditunda, Jaksa Belum Siap

“Kemajemukan yang disatukan di bawah tenda besar Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Presiden RI Joko Widodo secara resmi membuka Muktamar NU ke-34 di Pondok Pesantren Darussaadah, Provinsi Lampung | Foto: Panitia Muktamar NU
Presiden RI Joko Widodo secara resmi membuka Muktamar NU ke-34 di Pondok Pesantren Darussaadah, Provinsi Lampung | Foto: Panitia Muktamar NU

Di tenda besar itu, ormas – ormas keagamaan berperan sebagai semen perekat sosial.
Mereka mengonsolidasikan nasionalisme sebagai proyek integrasi bangsa yang tumbuh dari bawah, tidak perlu dipaksakan dari atas dengan tangan besi.

Kekayaan kedua, adalah budaya. Di satu sisi, kebudayaan Nusantara membuka diri pada interaksi dan kolaborasi dengan kebudayaan global asing.

Di sisi lain, kebudayaan setempat atau lokal menjadi identitas, nafas, dan aktualisasi nilai-nilai.

Di negeri ini, Islam Nusantara menjadi bukti dari kematangan hadlarah. Islam Nusantara matang karena ia menggunakan budaya sebagai infrastruktur utamanya.

Kekayaan ketiga adalah simbolis bangsa ini amat kaya dengan kemandirian simbolik.

“Buah dari interaksi global – lokal adalah produk – produk kebudayaan yang dinyatakan dalam simbol – simbol yang hidup dalam keseharian. Penjabaran kekayaan simbolik ini memang bisa panjang sekali. Namun demi keringkasan, izinkan saya meminjam sarung dan peci yang Anda sekalian pakai. Kita semua langsung paham bahwa sarung dan peci itu adalah simbol identitas Islam. Dalam sekali tarikan nafas, melalui peci dan sarung, orang langsung mengenali Islam tak harus Arab. Alhamdulillah, kita juga senang peci menjadi busana nasional. Siapapun bisa memakainya, bahkan oleh saudara – saudara kita yang non-muslim,” ujarnya.

Berita Menarik Lainnya:  Polemik Pernyataan Menag, Begini Kata Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim

Kekayaan keempat adalah kekayaan material Indonesia punya potensi sumber daya alam yang luar biasa.

Daratannya dipenuhi hutan – hutan penopang paru – paru dunia, di bawahnya terkandung kekayaan mineral yang banyak.

Lautannya mengandung potensi ekonomi biru tiada tara, di bawahnya tersimpan bukan hanya ikan, tetapi cadangan migas dan mineral yang berlimpah.

Yang dibutuhkan adalah SDM unggul, yang mampu mengolah kekayaan alam itu sebagai modal pembangunan. Orientasi kebijakan pemerintah adalah pembangunan sekaligus pemerataan.

Berita Menarik Lainnya:  Muktamar NU ke-34, 9 Ulama Anggota Ahwa Ditetapkan

“Tidak hanya menggenjot pertumbuhan (growth) tanpa memperhatikan ketimpangan. Pemerataan distribusi kesejahteraan adalah prasyarat mutlak terciptanya perdamaian,” ujarnya.

Kekayaan kelima adalah sumber daya politik. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga dan negeri muslim terbesar di dunia.

Indonesia bukan negara agama, tetapi negara Pancasila yang menaungi semua pemeluk agama.

Islam berjalan seiring dengan demokrasi, stabilitas politik, dan pertumbuhan ekonomi.

Memang bukan hal yang mudah. Bangsa ini sudah diuji oleh berbagai prahara sejarah.

Setiap kali jatuh, bangsa ini bangkit lebih tinggi lagi. Dan dari sana semua yakin bahwa sepanjang cara mengelola demokrasi didasari kemaslahatan bersama, kemauan untuk mendengar, kejernihan akal – budi, dan kelapangan hati untuk menerima perbedaan, maka bangsa besar ini akan semakin terhormat dan bermartabat.

“Dan pada saatnya nanti, aktif berkiprah dalam mendorong dunia yang lebih damai, aman, dan beradab,” tandasnya.

Pos terkait

banner 768x1152