Multi Peran Nyai untuk Sangu Urip Santri

Rabithah Masjid Islamiyah PWNU Jatim, dalam forum Silaturahmi Nyai Nusantara di Hotel Shangri-La, yang dihadiri Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachin, Istrinya, Minggu (19/12/2021) | Foto: Humas Pemprov Jatim
Rabithah Masjid Islamiyah PWNU Jatim, dalam forum Silaturahmi Nyai Nusantara di Hotel Shangri-La, yang dihadiri Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachin, Istrinya, Minggu (19/12/2021) | Foto: Humas Pemprov Jatim
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-SURABAYA – Santri di Pondok Pesantren (Ponpes) berbeda dengan murid di sekolah umum. Di Ponpes, untuk pembelajaran, pendidikan dan pengasuhan ditangani Kiai dan Nyai menggantikan tugas ayah dan ibu, guna memberi sangu urip santri.

Semua peran orang tua diambil alih oleh para Kiai dan Nyai. Bahkan, Bu Nyai dapat membentuk gambaran perempuan sebagai bagian dari usaha pemberdayaan masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Multi peran diambil Bu Nyai sehingga dari sinilah Bu Nyai tak hanya berkontribusi terhadap kelembagaan dan keagamaan saja melainkan budaya, sosial, serta pemberdayaan masyarakat.

Berita Menarik Lainnya:  Wakil Komisi A DPRD Resmi Menjabat Ketua Fatayat NU Surabaya

Fungsi dan multi peran Kiai dan Bu Nyai ini dibahas dalam forum silaturrahim dan refleksi tema “Sejarah Peran Bu Nyai Nusantara Dalam Pendidikan di Indonesia” yang diprakarsai oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PW RMI NU) Wilayah Jawa Timur dan dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Surabaya, Minggu (19/12/2021) kemarin.

Bu Nyai memberikan pendidikan dan membangun anak bangsa yang bukan hanya cakap tapi juga bermartabat. Mengingat, pondok pesantren merupakan wadah pembentukan karakter.

Menurut Arumi Bachin Dardak, istri Wakil Gubernur Jawa Timur, pesantren adalah penyelenggara fungsi pendidikan yang memiliki kekhasan, tradisi, dan kurikulum khas pesantren.

Berita Menarik Lainnya:  Bagian Ikhtiar, MWCNU Wilayah Barat Situbondo Silaturrahmi ke PWNU Jatim

Tidak sedikit pesantren yang melahirkan lulusan unggul dan mampu menghadapi perkembangan zaman termasuk perspektif kesetaraan gender.

Hal itu kata Arumi Bachsin tak terlepas dari kemampuan Bu Nyai Nusantara dalam mengasuh santri. Apalagi jika dibayangkan mengasuh ratusan orang santri sekaligus adalah kegiatan yang sulit dilakukan.

“Dari kaca mata saya, pengabdian Bu Nyai ini 24 jam. Betapa hati harus lapang menerima keluhan ratusan anak, kenakalan anak, dan mengurus anak soal gizi, dan pendidikan,” ujarnya.

Apalagi di masa pandemi, kata Arumi, di masa sulit itu kehadiran Bu Nyai sangat penting untuk memberi kenyamanan dan keamanan di kalangan santri.

Arumi juga berharap forum diskusi dan silaturahim Nyai Nusantara dapat memberi masukan apa yang dibutuhkan untuk terus meningkatkan kualitas pengasuhan.

Berita Menarik Lainnya:  Peringati Harlah Ke-99 NU, PBNU dan PWNU se-Indonesia Ziarah Pendiri NU di Jombang

Peran Nyai yang jelas adalah 100% pengabdian. Tidak ada sekolah yang mengajarkan cara untuk menjadi Nyai. Sehingga forum ini bisa dijadikan wadah support dan saling share membentuk santri yang baik dan berakhlak budi.

Usai dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, acara dimulai dan dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Arumi Bachsin Emil Dardak, Plt Ketua Pengurus PW RMI NU Wilayah Jatim KH Abdussalam Sochib, Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ Jawa Timur Agoes Ali Masyhuri, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, beserta 175 Bu Nyai Nusantara dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur.

banner 600x310
banner 1024x1280