Parenting Menurut Pandangan KH Agus Muhammad Najib

SMA Islam Shafta
Pembantu Rektor 1 INKAFA Gresik sekaligus pemateri tinggal di SMA Islam Shafta, KH Agus Muhammad Najib MA
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-SURABAYA- Sejumlah wali murid Sekolah Islam Shafta Surabaya mengikuti kajian rutin, Sabtu (06/08/2022).

KH Muhammad Najib, Pembantu Rektor 1 Infaka Gresik, pemateri tunggal dalam kajian kali ini. Temanya adalah memaknai belajar di hari kemerdekaan RI ke-77 dan parenting Islam.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Menurut KH Najib, keberhasilan pendidikan didukung oleh tiga unsur. Yaitu sekolah, orang tua dan siswa. Jika ketiga unsur saling memenuhi, maka misi visi pendidikan akan mudah dicapai.

Namun, peran orang tua yang paling mendukung, sedangkan sekolah hanya menggantikan peran ortu terbatas di lingkup sekolah.

Seorang anak atau siswa dalam meraih kesuksesan harus seimbang. Cerdas di bidang umum, dan bidang agama.

Berita Menarik Lainnya:  Tingkatkan Syiar di Era Digital, DKM Al Haq Teken MoU Bersama PT Media Jaya Lestari

“Kini tidak zamannya lagi mengasuh anak dengan kekerasan. Harus berimbang, Insyaallah anak-anak kita menjadi generasi yang mandiri dan berbudi luhur,” tuturnya.

KH Najib memaparkan, anak adalah sesuatu yang paling berharga bagi orang tua. Bagaimana cara mendidik anak sejak usia dini, baik atau tidaknya pendidikan adalah sebab akibat di masa mendatang.

“Anak adalah aset kita, jika kita benar-benar menjaga aset kita dengan baik, tentu kita akan menuai yang baik, begitu pula sebaliknya,” jelasnya kemudian.

KH Najib sangat mengapresiasi adanya lembaga Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah di kota besar, semisal Sekolah Islam Shafta, Surabaya.

“Karena sekarang ini banyak lembaga besar berlabel Islam tapi alirannya bukan ahlussunnah wal jamaah, ini kita harus hati-hati,” ungkapnya.

Berita Menarik Lainnya:  Ada Zakat Fitrah yang Salah Kaprah

Ia mengimbau wali murid harus selektif dalam memilih lembaga pendidikan. Karena, bukan tidak mungkin ada sekolah beraliran wahabi yang memiliki motif dan cara untuk menanamkan doktrin pada saat siswa terlanjur menempuh pendidikan cukup lama.

“Ini harus diwaspadai, jangan sampai kita salah pilih, jika mendapatkan pendidikan tidak benar kita sendiri yang akan menanggung akibatnya,” ujar Pengasuh Ponpes Mambaus Sholihin, Suci, Gresik ini.

Salah satu wali murid dalam dialog interaktif menanyakan bagaimana cara membedakan antara sekolah Islam ahlussunnah wal jamaah dan sekolah wahabi serta pencegahannya.

KH Najib memaparkan, hal itu tergantung bagaimana orang tua memilih sekolah untuk anaknya. Tergantung dari literasi dari masing-masing orang tua dalam mencari informasi, di mana dan bagaimana sekolah yang akan menjadi tempat belajarnya anak.

Berita Menarik Lainnya:  Puasa Membentuk Pribadi Ahli Syukur

Dia berharap pihak Sekolah Islam Shafta dan wali santri agar serius dalam menangani sekolah ini guna membendung aliran-aliran yang berpotensi merusak akidah anak didiknya.

“Ajaran Ahlussunah wal jamaah kita ini merupakan warisan dari para waliyullah yang sanadnya sangat jelas, Aswaja inilah yang nanti bisa diharapkan menjadi tameng bagi aliran-aliran di luar sana,” tandasnya.

Perlu diketahui, bahwa anak termasuk individu unik yang mempunyai eksistensi dan memiliki jiwa sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas.

Masa kehidupan anak sebagian besar berada dalam lingkup keluarga, maka dari itu pola asuh orang tua terhadap anak sangat menentukan dan mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280