Syarat dan Ketentuan Robot Trading dalam Trading Online

Ilustrasi robot trading | Foto: belajartrading.co.id
Ilustrasi robot trading | Foto: belajartrading.co.id
Silahkan Share ke :

Trading merupakan istilah lain dari tijarah, yang ditandai dengan aktifitas beli di satu waktu dan menjual di waktu yang lain.

Karena merupakan cabang dari jual beli, maka segala aktifitas yang terjadi dalam trading senantiasa wajib memenuhi syarat dan rukun jual beli.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Imam Nawawi dalam Kitab Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, menyebutkan bahwa rukun jual beli dalam Islam, ada , yaitu:

وأرْكانُهُ ثَلاثَةٌ صِيغَةٌ وعاقِدٌ ومَعْقُودٌ عَلَيْهِ
“Rukun jual beli ada 3, yaitu shighah, orang yang berakad, dan obyek akad.”

Berita Menarik Lainnya:  Bursa Cryptocurrency Hukumnya Haram Syar’an

Shighah merupakan bahasa, lafadh atau isyarat yang bisa dimengerti dan dipahami oleh setiap pihak yang berakad. Shighah ini ditandai oleh adanya lafadh ijab dan qabul.

Keberadaan dua orang yang berakad yang dibatasi oleh statusnya sebagai ahli tasharruf harta. Batas ketentuan ahli tasharruf harta adalah aqil dan baligh.

Ada obyek yang diakadi dengan batasan wajib bisa diterima sebagai komoditi secara syara’, bisa diserahkan, terdiri dari ain musyahadah atau syaiin maushuf fi al-dzimmah, harus maklum harga dan barangnya, tidak ada unsur keharaman, dan lain sejenisnya.

Kedudukan Robot Trading dalam Fikih

Di dalam akad tijarah (trading), robot trading atau yang dikenal dengan istilah Expert Advisory (EA) menempati kedudukan sebagai “instrumen jual beli”. Sebagai instrumen, maka Robot Trading menempati maqamnya shighah yang disampaikan dengan bahasa isyarat.

Berita Menarik Lainnya:  Hukum menyimpan Uang Donasi Pembangunan di Rekening Pribadi

Syarat dan ketentuan suatu isyarat dapat disebut sebagai lafadh pengganti shighah akad, adalah apabila isyarat itu ma’qul al-ma’na (maknanya bisa diterima oleh rasio/akal) baik oleh pihak yang diajak melakukan akad (broker) maupun oleh pihak yang mengajak berakad (trader).

Ketentuan ini karena berkaitan erat dengan syarat, bahwa seseorang bisa disebut sebagai ahli tasharuf adalah apabila ia memiliki kecakapan akal (‘aqil).

Keharusan ma’qul al-ma’na, lahir karena adanya dua alasan, yaitu:

(1) Karena yang dinamakan bahasa adalah apabila pihak mukhathab (pihak yang diajak berdialog) bisa memahami maknanya.

(2) Selain pihak yang diajak berdialog, pihak yang mengajak dialog harus sadar dengan bahasa yang disampaikannya, tidak seumpama orang dalam kondisi tidur, seumpama menyeracau karena sakit, menyeraIlustrasi robot trading | Foto: belajartrading.co.idcau karena gila atua mabuk, dan sejenisnya.

Berita Menarik Lainnya:  Menuju PCNU Besuki, 5 MWCNU Wilayah Barat Gelar Rapat Pemantapan

Berdasarkan uraian ini, maka apabila salah satu pihak muta’aqidain tidak memahami istilah-istilah yang dipergunakan dalam robot trading, maka instrumen tersebut berubah kedudukannya sebagai “instrumen spekulatif” semata, sebab tidak ma’qul al-ma’na (tidak bisa dirasionalkan). Hukum melakukannya, bagi pelaku adalah haram.

Penyampai isyarat dalam robot trading adalah musytari (pembeli) yang terdiri atas seorang trader. Penerima isyarat, adalah pedagang (bai’) yang dalam dunia trading diperankan oleh broker (Perusahaan Pedagang Efek (PPE).

*) Muhammad Syamsudin – Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280