Status Placenta sebagai Obyek Teknologi Stem Cell

Ilustrasi Placenta | Foto: halodoc.com
Ilustrasi Placenta | Foto: halodoc.com
Silahkan Share ke :

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa sumber stem cell adalah bisa berasal dari plasenta, blastosit, sel kanker, dan sel dewasa yang dimiliki oleh diri pasien itu sendiri atau kerabat dekatnya, khususnya yang memiliki garis keturunan sama dengan pasien. Berangkat dari siniah, maka timbul permasalahan, bagaimana bila plasenta dijadikan sumber stem sel? Di sinilah awal kajian ini dilakukan.

Mengenal apa itu Plasenta?
Plasenta merupakan tali pusar bayi. Orang Jawa menyebutnya sebagai ari-ari (masyimah). Fungsi dari plasenta adalah sebagai wasilah penghubung makanan bayi dari ibu ke janin. Dalam fikih, organ yang memiliki fungsi ini disebut oleh Ibnu al-A’raby sebagai masyimah, dengan shighah jama’nya yaitu Masyaim.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

وَقَالَ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ: يُقَالُ لِمَا يَكُونُ فِيهِ الْوَلَدُ الْمَشِيمَةُ، وَالْكِيسُ، وَالْغِلَافُ وَالْجَمْعُ مَشِيمٌ بِحَذْفِ الْهَاءِ وَمَشَايِمُ مِثْلُ مَعِيشَةٍ وَمَعَايِشَ اهـ

“Ibnu Araby berkata: Terkadang ada yang menyebut bahwa tali pusar yang menempel pada bayi itu sebagai masyimah, kais (kantong) dan ghilaf (bungkus). Jamak dari masyimah adalah masyimun dengan dibuang huruf ha’-nya, atau masyaim mengikut pola penyebutan jamak dari lafadh ma’isyah, yakni ma’ayisy.” (Hasyiyatul Jamal ‘Ala Syarhi al-Minhaj Futuhat al-Wahab bitaudlihi Manhaj al-Thullab, halaman 55)

Karena fungsi tersebut, dan karena plasenta merupakan bagian dari bayi, maka dalam fiikihnya, ari-ari adalah termasuk juz munfashil (bagian tubuh yang terpisah/terpotong) dari bayi. Di dalam Hasyiyatu al-Jamal Juz 2, halaman 190, hal ini dijelaskan:

( فَرْعٌ ) آخَرُ هَلْ الْمَشِيمَةُ جُزْءٌ مِنْ الْأُمِّ أَمْ الْمَوْلُودِ حَتَّى إذَا مَاتَ أَحَدُهُمَا عَقِبَ انْفِصَالِهَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ الْمَيِّتِ فَيَجِبُ دَفْنُهَا ، وَلَوْ وُجِدَتْ وَحْدَهَا وَجَبَ تَجْهِيزُهَا وَالصَّلَاةُ عَلَيْهَا كَبَقِيَّةِ الْأَجْزَاءِ أَوَّلًا ؛ لِأَنَّهَا لَا تُعَدُّ مِنْ أَجْزَاءِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خُصُوصًا الْمَوْلُودَ فِيهِ نَظَرٌ فَلْيُتَأَمَّلْ .ا هـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَأَقُولُ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ فِيهَا شَيْءٌ ا هـ .وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّا الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ ، فَلَيْسَتْ جُزْءًا مِنْ الْأُمِّ وَلَا مِنْ الْوَلَدِ انْتَهَتْ

Berita Menarik Lainnya:  Pengendalian Etika di balik Kemajuan Ilmu Biologi Lewat Fikih

“Permasalahan cabang yang lain: Apakah masyimah (plasenta) merupakan juz bagian dari ibu ataukah bagian dari anak, sehingga apabila salah satu dari keduanya meninggal setelah terpisahnya tali pusar, maka apakah wajib untuk dirawat dan dishalati seperti anggota tubuh yang lain, atau tidak sama sekali. Sebab jika diamati, nampak bahwa seolah plasenta itu bukan bagian salah satu dari kedua ibu dan anak, bahkan untuk anak sekalipun. Dalam hal ini, jawaban menghendaki ketelitian. Demikian menurut Imam Sibramulsi yang tertuang dalam Kitab Al-Minhaj. Adapun menurut beberapa pendapat yang dhahir, bahwasanya tidak ada satu entitas kewajiban apapun atas plasenta. Sementara itu menurut Imam al-Barmawy, Plasenta yang biasa disebut sebagai al-Khalash, maka hukumnya seperti bagian anggota tubuh. Dan karena ia bersifat dipotong dari anak, maka ia merupakan bagian dari tubuh Si Anak. Adapun masyimah yang menjadi wadah bayi, maka bukan termasuk anggota tubuh baik untuk anak maupun untuk ibunya.” (Hasyiyatul Jamal ‘Ala Syarhi al-Minhaj Futuhat al-Wahab bitaudlihi Manhaj al-Thullab, Juz 2, halaman 190)

Plasenta yang dipotong dari bayi yang masih hidup berstatus suci. Namun, bila diperoleh dari bayi yang meninggal sebelum dipotong ari-arinya, maka hukumnya mengikuti hukum asalnya, yaitu berstatus mayit (bangkai). Disampaikan dalam Hasyiyatu al-Jamal Juz 1, halaman 177:

(فَائِدَةٌ) رَوَى أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهُوَ مَيْتَةٌ اهـ كَرْخِيٌّ عَلَى الْجَلَالِ. (قَوْلُهُ فَجُزْءُ السَّمَكِ وَالْبَشَرِ إلَخْ) ، وَمِنْهُ الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ طَاهِرَةٌ مِنْ الْآدَمِيِّ نَجِسَةٌ مِنْ غَيْرِهِ أَمَّا الْمُنْفَصِلُ مِنْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَهُ حُكْمُ مَيْتَتِهِ بِلَا نِزَاعٍ اهـ شَرْحُ م ر.

“Faidah: Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan al-Tirmidzy, dan beliau menghasankan hal ini bahwasanya segala sesuatu yang terpotong dari hewan yang masih hidup, maka potongan itu hukumnya adalah bangkai. Demikian disampaikan oleh Imam Al-Karkhy dalam Kitab al-Jalal. (Bagian tubuh ikan dan manusia): di antaranya adalah masyimah yang menjadi wadah dari bayi, maka hukumnya adalah suci apabila berasal dari anak adam. Sementara jika berasal dari selainnya, maka termasuk najis. Bagian tubuh yang terpisah setelah kematian, hukumnya adalah mengikuti hukum asal kematiannya, tanpa adanya perbedaan pendapat.”

Berita Menarik Lainnya:  Kewajiban Pengembalian Harta Hasil Korupsi, Tak Hilang Meski Sudah dipenjara

Berdasarkan keterangan Syeikh Jamal di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Plasenta dan wadah bayi, yang terpisah dari bayi anak adam, baik ketika masih hidup maupun yang sudah mati, maka statusnya adalah termasuk suci.
  2. Adapun plasenta dan wadah bayi yang terpotong dari selain anak adam, maka dihukumi sebagai bangkai sehingga najis.

Ibarat pendukung dari mafhum ini bisa ditilik pada ibarat sebelumnya, yaitu Hasyiyatu al-Jamal Juz 2, halaman 190, di sini dijelaskan:

( فَرْعٌ ) آخَرُ هَلْ الْمَشِيمَةُ جُزْءٌ مِنْ الْأُمِّ أَمْ الْمَوْلُودِ حَتَّى إذَا مَاتَ أَحَدُهُمَا عَقِبَ انْفِصَالِهَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ الْمَيِّتِ فَيَجِبُ دَفْنُهَا ، وَلَوْ وُجِدَتْ وَحْدَهَا وَجَبَ تَجْهِيزُهَا وَالصَّلَاةُ عَلَيْهَا كَبَقِيَّةِ الْأَجْزَاءِ أَوَّلًا ؛ لِأَنَّهَا لَا تُعَدُّ مِنْ أَجْزَاءِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خُصُوصًا الْمَوْلُودَ فِيهِ نَظَرٌ فَلْيُتَأَمَّلْ .ا هـ سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَأَقُولُ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ فِيهَا شَيْءٌ ا هـ .ع ش عَلَى م ر .وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّا الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ ، فَلَيْسَتْ جُزْءًا مِنْ الْأُمِّ وَلَا مِنْ الْوَلَدِ انْتَهَتْ

“Satu persoalan cabang lagi, apakah masyimah termasuk bagian dari ibu ataukah merupakan bagian darii anak sehingga apabila salah satu dari keduanya meninggal dan kondisi masyimah tersebut sudah lepas, maka dihukumi sebagai bagian dari hukum pihak yang meninggal tersebut? Alhasil, menjadi wajib dipendam. Atau, apakah apabila masyimah itu hanya terpisah sendiri (tanpa ada yang meninggal), maka wajib mentajhizkannya dan menshalatinya sebagaimana bila terjadi lepasnya anggota tubuh yang laiin? Wajib ataukah tidak? Sebagai jawabnya, karena masyimah tidak bisa dikategorikan sebagai bagian tubuh dari salah satu ibu dan anak, apalagi kepada anak itu sendiri, maka dalam hal ini perlu penelitian. Oleh karenanya, sebaiknya anda mencermatinya. Namun, beberapa pendapat yang dhahir menyatakan tidak berlaku hukum wajib apapun terkait dengan masyimah. Sementara menurut pendapat Al-Barmawi, kalau masyimah itu merupakan yang biasa disebut sebagai al-khallash (plasenta), maka hukumnya sebagai layaknya anggota tubuh bayi (sehingga wajib ditajhiz). Dan karena ia dipotong dari tubuh bayi, maka masyimah itu adalah bagian dari bayi. Adapun bila masyimah merupakan yang disebut sebagai wadah bayi, maka tidak bisa disebut sebagai bagian dari anggota tubuh, baik terhadap ibu maupun terhadap anak yang mati.” (Hasyiyatu al-Jamal Juz 2, halaman 190)

Berita Menarik Lainnya:  Paylater dengan Sistem Bunga Hukumnya Haram

Plasenta Sebagai Obyek Stem Cell

Kesimpulan sementara berdasarkan penjelasan di atas, adalah bahwa plasenta anak adam, ada 3 pandangan hukum. Pertama, berdasarkan qaul dhahir, dinyatakan bahwa masyimah adalah bukan termasuk barang muhtaram sehingga tidak berlaku kewajiban apapun terhadapnya. Namun demikian, meski tidak disebut muhtaram, namun masyimah juga tidak bisa disebut sebagai bangkai (mayit), alhasil statusnya adalah suci. Dalam hemat penulis, masyimah jenis ini bisa dijadikan sebagai bahan penerapan stem cell.

Kedua, masyimah dari jenis plasenta, menurut al-Barmawi adalah merupakan juz dari bayi. Oleh karenanya termasuk barang muhtaram dan suci. Padanya berlaku hukum mayit (bukan bangkai). Padanya tidak bisa digunakan teknologi stem cell sebab unsur muhtaramnya.

Ketiga, masyimah dari jenis wadah bayi (uterus), maka tidak dihukumi sebagai juz bagian dari bayi dan ibu. Oleh karenanya, bukan termasuk muhtaram, dan bukan termasuk bangkai sebab berasal dari anak adam. Padanya bisa digunakan untuk obyek teknologi stem cell.

Semoga, tulisan ringkas ini bisa memicu diskusi lainnya bagi para pegiat kajian fikih terapan. Penulis hanya menyampaikan berdasarkan pemahaman saja dari apa yang tertuang di dalam teks-teks turats Islam. Wallahu a’lam bi al-shawab

*) Muhammad Syamsudin – Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

*) Untuk pertanyaan seputar fiqih kontemporer bisa menghubungi penulis di kontak HP/WA: 0823-3069-8449 atau email: muhsyamsudin@el-samsi.com

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280