Sidang Kasus Ambruknya Jalan Gubeng Di Gelar Di Lokasi

Surabaya, beritabangsa.com – Sidang kasus ambruknya jalan Gubeng kembali digelar Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Jum’at (20/12/2019)

Sidang kali ini digelar langsung di lokasi karena hakim ingin meninjau dan memastikan langsung adanya tindak pidana pada kasus ambruknya Jalan Gubeng.

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Hakim juga melihat langsung fakta di lapangan meskipun kondisi proyek tersebut sudah rata dengan tanah.

“Minimal kita tahu letak dari alat – alat yang terpasang di mana saja,” terang Anton Widyo Priyono, Ketua Majelis Hakim PN Surabaya.

Sidang langsung ini akan menjadi pertimbangan majelis hakim dalam menjalankan putusan.

“Kita masih dalam rangka pemeriksaan melengkapi dalam rangka melengkapi pemeriksaan terhadap saksi – saksi,” tandasnya.

Hasil fakta di lapangan mengungkapkan lokasi pemasangan anchor dan bentonite maupun soldier pile sejauh ini tidak ada perbedaan fakta antara di lapangan maupun persidangan.

“Ndak ada, semuanya sesuai persidangan. Kita di persidangan visualisasi hanya peta saja nah kita perlu faktanya itu saja,” ungkapnya.

Berita Menarik Lainnya:  RSI A. Yani Selenggarakan Vaksinasi Gotong Royong Tahap 1

Tidak ada saksi yang dihadirkan dalam persidangan ini. Namun, hakim berencana menghadirkan saksi ahli di persidangan nanti.

Ia menegaskan jika hakim hanya memeriksa fakta – fakta di lapangan tanpa menghadirkan saksi itu sah – sah saja.

Dari hasil temuan secara teknik di lapangan ini akan menjadi bahan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memeriksa saksi ahli.

Sementara kuasa hukum PT Nusa Kontraktor Enjiniring (NKE) Janses E. Sihaloho, S.H mengatakan, pihaknya kooperatif mengikuti jalannya persidangan tersebut.

“Kita serahkan ke pengadilan, namun yang kita inginkan hakim menilai dan memutuskan persidangan sesuai dengan fakta di lapangan,” ungkapnya.

Pihaknya tidak ingin jika JPU menuntut tidak sesuai dengan fakta yang ada.

“Artinya keterangan – keterangan saksi itu dikonfirmasi langsung di lapangan,” katanya.

Rahmat Hari Basuki, JPU Kejaksaan Tinggi mengungkap beberapa fakta antara lain bentonite yang tidak terpasang. Pihaknya mempertanyakan apakah ini terjadi atas unsur kesengajaan.

“Apa memang tidak ditanam bentonite atau bentonitenya hilang. Ternyata tadi fakta di lapangan bahwa itu tidak ada bentonitenya,” ungkapnya.

Berita Menarik Lainnya:  Mantan Ketua NasDem Surabaya: Jangan Sampai Ketua DPD Lengser Di Tengah Jalan!

Seperti diketahui, PT NKE merupakan kontraktor struktur dari pemberi kerja, PT Saputra Karya. PT NKE juga merupakan kontraktor pelaksana yang melanjutkan kontraktor terdahulu, PT Indonesia Pondasi Raya (Indopora).

Jaksa menilai PT Indopora tidak mengerjakan spesifikasinya secara benar. Kesalahan PT Indopora antara lain proyek terlalu banyak disubkan.

“Saya ingin menggali karena bentonite maupun soldier pile di tanah ini memiliki kualitas buruk,” tandasnya.

Sebab, lanjut Rahmat Hari Basuki, sejak awal pengerjaan proyek pada akhir 2017 lalu telah terjadi berbagai kasus mulai kebocoran dan keretakan. Bahkan ground anchor yang otomatis bertumpu pada dinding penahan tanah itu sempat tiga kali putus.

“Nanti kita ada pemeriksaan ahli nanti kita tanyakan bagaimana kawat baja yang memiliki nilai kekuatan itu bisa putus dan dinding penahan tanah juga jebol,” ungkap jaksa.

Sementara yang turut menjadi permasalahan, pekerja Indopora yang menjadi saksi adalah orang yang baru bekerja pada 2017.

“Karena 2017 sudah pengerjaan, nanti juga akan kami tanyakan pada ahli,” katanya.

Berita Menarik Lainnya:  Depot Lenny di Surabaya, Bandel Langgar Inpres No.06 Tahun 2020

Meskipun pihaknya juga sudah mendapat masukan bahwa untuk sebuah soldier pile, bentonite dan segala macam harus segera dilakukan pengerjaan.

“Tapi ini kan ada jeda waktu yang terlalu lama, dikhawatirkan kualitas dari semen bisa getas sehingga mudah lapuk. Kemudian struktur tanah labil atau gerak,” paparnya.

Fakta lain yang turut terungkap pada sisi timur PT Ketira Consultan Engginering sebagai konsultan perencana tidak pernah menghitung beban gravitasi meliputi kendaraan yang berjalan, beban statis, maupun beban dinamis dalam meyangga kekuatan tanah.

“Ini terungkap fakta di persidangan. Oleh itu kenapa yang runtuh malah yang tidak pernah bermasalah. Sedangkan yang bermasalah justru pada sisi barat, utara, dan selatan,” jelasnya lebih lanjut.

Sesuai fakta dan data yang ada, PT Ketira Consultan Engginering sebagai konsultan rencana tidak menghitung beban dinamis jalan dan dianggap ini aman.

“Mungkin tanahnya saja tapi jalan ini kan dilalui kendaraan berat ini yang tidak dihitung. Awal pengerjaan selama satu tahun lebih ini yang bermasalah justru di daerah sana,” pungkasnya. (AW)

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *