RUU TPKS Tak Segera Disahkan, Sulut Aktivis Perempuan Surabaya ‘Teriak’

Keterangan foto: Aktivis Perempuan asal Surabaya, Lia Istifhama (Ning Lia).
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Surabaya – Tak kunjung disahkannya Rancangan Undang – undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang sebelumnya berjudul RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) hingga hari ini memantik reaksi keras aktivis perempuan Surabaya, Ning Lia Istifhama.

Ning Lia sapaan akrabnya, teriak. Dia prihatin tak segera disahkannya RUU TPKS itu, mengingat kasus kekerasan terhadap perempuan terus terjadi. Dia bertanya kenapa tak segera disahkan, apalagi draft RUU TPKS sudah diusulkan oleh Komnas Perempuan sejak 2012 lalu.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Ning Lia, yang masuk 3 besar Tokoh Muda Jatim yang disukai versi ARCI menjelaskan urgensi RUU TPKS.

Berita Menarik Lainnya:  Reskrim Polsek Semampir Surabaya Ungkap Kasus Tindak Curanmor 14 TKP

“Saat direlevansikan pada fakta di lapangan terkait tingginya beragam macam kasus kejahatan atau kekerasan seksual, maka RUU TPKS ataupun regulasi lainnya yang bertujuan menekan kasus tersebut, harus kita segera disahkan dan kita dukung,” ujarnya, pada media ini, Sabtu (18/12/2021).

“Sebagai orang tua dan juga bagian masyarakat, kita semua tentunya wajib menjaga keselamatan anak-anak kita dan generasi mendatang. Bagaimana kehidupan mereka tetap nyaman, aman, dan bahagia, adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua mereka,” tegas Ning Lia.

Secara lugas, Ning Lia menjelaskan pentingnya efek jera bagi pelaku, sebagai contoh hukuman kebiri bagi pelaku seksual.

“Sanksi yang berat sangat diperlukan sebagai efek jera atas kejahatan seksual. Jika tidak, maka pelaku kejahatan seksual bisa berpotensi di mana pun, kapan pun, pada siapapun. Hal ini disebabkan sanksi hukuman yang dianggap ringan oleh mereka. Namun sebaliknya, jika sanksi berat diberlakukan, sebagai contoh kebiri, maka ini akan menjadi shock therapy dan secara psikologis mencegah seseorang melakukan kejahatan tersebut,” ucap Ning Lia.

Berita Menarik Lainnya:  Polemik PPKM Darurat di Surabaya, Ning Lia : Utamakan Kebijakan Persuasif yang Humanis

Saat disinggung sisi moral atas hukuman kebiri, Ning Lia menegaskan agar semua orang harus adil dengan memikirkan sisi traumatis yang dialami korban pelecehan seksual.

“Kebetulan saya pernah melakukan studi penelitian tentang resiliensi korban pelecehan. Dari studi tersebut, diketahui bahwa anak-anak memang mengalami trauma yang sangat mendalam. Bahkan, kadang kala banyak yang justru stress karena diinterogasi pihak tertentu tentang detail kejadian yang dialami mereka. Hal ini justru membuat mereka seolah dipaksakan mengingat pengalaman yang sangat pahit tersebut,” terangnya.

“Selain itu, studi yang saya lakukan juga menjelaskan bahwa perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual, lebih cepat memasuki fase resiliensi, yaitu bangkit dari masa trauma. Namun beda jauh dengan korban yang laki-laki. Bahkan kita harus jujur, anak laki-laki yang pernah menjadi korban, kebanyakan mengalami perubahan psikologis yang tidak mudah untuk dikembalikan seperti semula,” sambungnya.

Berita Menarik Lainnya:  Muktamar NU Rekom Pengesahan RUU PPRT

Ning Lia kemudian berharap agar segala dampak yang dialami anak-anak korban pecelahan seksual ataupun keluarga mereka, menjadi empati semua pihak.

“Marilah kita bangun empati, mau merangkul mereka dan berbuat agar mereka bisa melewati masa trauma dan hidup normal. Selain itu, mari kita bergandengan tangan mencegah kejahatan seksual. Setidaknya, sanksi sosial bagi para pelaku sangat wajar kita berikan sebagi bentuk efek jera. Sekalipun, sanksi tersebut tidak akan bisa setimpal dengan segala penderitaan korban pelecehan seksual dan keluarganya,” pungkasnya.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280