Marak Pelecehan Seksual oleh Oknum di Pesantren, PWNU Jatim Angkat Bicara

Plt Ketua RMI atau Asosiasi Ponpes se-Indonesia di bawah naungan NU Jatim KH Abdussalam Shohib (tengah) didampingi KH Romadhon, LBM PWNU Jatim (kiri) dan Ust Abdul Mustakim, Plt Sekretaris RMI Jatim (kanan) saat Konferensi Pers | Foto: Mahmudah
Plt Ketua RMI atau Asosiasi Ponpes se-Indonesia di bawah naungan NU Jatim KH Abdussalam Shohib (tengah) didampingi KH Romadhon, LBM PWNU Jatim (kiri) dan Ust Abdul Mustakim, Plt Sekretaris RMI Jatim (kanan) saat Konferensi Pers | Foto: Mahmudah
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Surabaya – Semakin hari kasus pelecehan seksual mengemuka. Ironisnya, banyak yang terjadi di pesantren. Ironisnya lagi, oknum ustadznya menjadi pelaku.

Jika tidak ada penanganan khusus maka kasus guru pesantren yang mencabuli puluhan santri akan membuat masyarakat cemas, ragu, dan tidak percaya dengan lembaga pesantren.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, prihatin. Untuk itu Pengurus Wilayah NU Jatim angkat bicara dengan menggelar konferensi pers tentang “Kekerasan Seksual di Lembaga Keagamaan.”

Berita Menarik Lainnya:  Aliansi Pewarta Bondowoso Bersatu Minta Kasus Kekerasan Nur Hadi Diusut Tuntas

KH. Abdussalam, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur membenarkan ada kasus pelecehan yang terjadi di pesantren yang dalam naungan Nahdlatul Ulama.

Dia turut prihatin kejadian di sejumlah tempat tersebut. Dia menegaskan bahwa kejadian pelecehan seksual adalah merupakan tanggung jawab semua pihak.

“Kalau saling menyalahkan, tanpa solusi, maka dampak yang lebih krusial terjadi. Sekarang bagaimana tanggung jawab kita untuk mendampingi korban, baik secara hukum, moral, sosial, dan memastikan masa depan para korban. Itu lebih baik dari pada saling menyalahkan,” ujar anggota Asosiasi Pesantren NU Indonesia ini, Minggu (12/12/2021).

Berita Menarik Lainnya:  Gegara Rekam Tetangga Lagi Mandi, Pemuda Asli Joyoboyo Ditangkap Polisi

Dari potret contoh kejadian di Bandung, Jawa Barat, yang memakan korban puluhan maka Gus Salam biasa disapa itu, menegaskan bahwa sudah semestinya semua pihak untuk saling terbuka.

Terutama keluarga korban, bahkan tidak usah segan – segan melapor kepada pihak berwajib begitu ada indikasi tidak benar.

“Asosiasi pesantren akan mengadvokasi dan mendampingi serta berpihak pada korban. Akan kami pastikan bahwa NU akan mendampingi dan afirmasi terhadap korban dan keluarga korban,” ungkapnya.

Selanjutnya, PWNU Jawa Timur dalam menangani kasus pelecehan seksual di pesantren akan melakukan koordinasi dengan pihak internal maupun pihak eksternal.

Berita Menarik Lainnya:  Polres Tanjung Perak Gelar Pengungkapan Kasus Sepanjang 2020 dan Pemusnahan Barang Bukti

Di Internal, berkoordinasi dengan LBH NU, LKKNU (Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama) dan dengan RMI yang menaungi pesantren.

Kemudian eksternal berkoordinasi dengan LBH, KPAI (Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia) serta dengan Kementerian Agama.

“Penting juga dengan Kemenag, karena Kemenag yang memberikan kewenangan perizinan. Apalagi dalam berita yang beredar, ada kesan pesantren di Bandung memanfaatkan dana bantuan tidak untuk kepentingan pesantren tapi juga untuk kepentingan lain, khusunya belum adanya izin dari Kemenag,” tandasnya.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280