GAWANI Desak Polisi Usut Oknum Wartawan Bekingi Niaga Solar Ilegal dan Pengancaman Jurnalis

Gerakan Wartawan Indonesia (GAWANI) foto bersama setelah mengadakan rapat | Foto: Sakur
Gerakan Wartawan Indonesia (GAWANI) foto bersama setelah mengadakan rapat | Foto: Sakur
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-GROBOGAN – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Gerakan Wartawan Indonesia (GAWANI) rapat mendadak.

Hasil rapat memutuskan mendesak agar aparat penegak hukum Kepolisian RI memproses dugaan pengusiran, pengancaman dan menghalangi tugas wartawan, Minggu (26/12/2021).

Bacaan Lainnya
Ads

Untung Ketua GAWANI menjelaskan perkara yang dialami anggotanya sehingga dilakukan rapat mendadak tersebut.

Menurutnya kasus yang menimpa anggotanya akan dilaporkan ke Polisi berupa dugaan pelanggaran Undang – undang Pokok Pers nomor 40 tahun 1999.

Kata Untung, yang ironis adalah pelaku pengancaman, intimidasi, dan pengusiran itu adalah oknum wartawan yang diduga membekingi praktik niaga BBM ilegal di SPBU 44.541.08 Trengguli Demak.

Menurut Untung, kronologi kejadiannya berawal saat korban (wartawati,red) saat istirahat di SPBU 44.541.08 Trengguli Demak, mencurigai sebuah truk yang sedang mengisi BBM solar.

Insting wartawan berjalan. Dia mencurigai di SPBU 44.541.08 Trengguli, Kabupaten Demak ada dugaan praktik “ngangsu” BBM memakai truk modifikasi.

“Di bak truk sudah ada kempu dan kita curiga soalnya waktu ngisi sangat lama,” ujar PN wartawan, menyergah.

Melihat keganjilan itu, wartawan berinisiatif mengklarifikasi dengan menemui sopir truk untuk konfirmasi. Sialnya, sopir tak mau menjawab. Diam seribu bahasa.

Sialnya, malahan PN, wartawati ini malah didatangi 2 oknum wartawan. Keduanya langsung marah – marah, membentak, mengintervensi, mengancam, mengintimidasi serta mengusir PN.

“Tak hanya itu, mereka menelpon seseorang menyuruh semua anak buahnya datang. Dan benar puluhan orang datang mengusir kami, menantang, mengancam kami,” ujar PN, bersaksi.

Selanjutnya, PN berusaha mengontak Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Demak. Sehingga laporan langsung ditindaklanjuti.

Untuk menghindari benturan maka wartawan dan temannya memutuskan untuk menghindar dari lokasi.

Alvin wartawan Bratapos, mengaku sempat merekam pengancaman itu dengan video berdurasi 2 menit 42 detik.

Dalam rekaman video itu jelas sejumlah wartawan mendapat tekanan dan intimidasi ancaman oleh oknum wartawan dan pihak SPBU.

Akibat kejadian itu PN wartawan perempuan korban pengancaman mengalami syok dan trauma.

Untuk itulah GAWANI melakukan pelaporan resmi ke aparat penegak hukum agar pelaku pengancaman dan intimidasi, dan pengerahan massa oleh oknum wartawan itu diproses hukum sesuai UU Pokok Pers nomor 40 tahun 1999.

“Bisa dijerat pasal berlapis itu. Di UU jelas menyatakan barang siapa yang menghalang – halangi tugas wartawan diancam hukuman 5 tahun, apalagi ada intimidasi, pengancaman dan pengerahan massa,” ujar Untung.

Kata Untung, wartawati saat itu menjalankan tugas sebagai wartawan dan dilindungi UU. Sehingga pelanggaran hukum yang diperbuat oknum pelaku adalah melanggar Undang – undang Pokok Pers.

banner 768x1152