Sarung Tenun yang Tembus Pasar Timur Tengah di Jombang Ini Optimis Bangkit dari Tidur

Sugeng Riyadi Pemilik usaha kerajinan sarung tenun di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang
Sugeng Riyadi Pemilik usaha kerajinan sarung tenun di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-JOMBANG- Sejumlah perajin sarung tenun ikat di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang tetap semangat mempertahankan usahanya. Meski sebelumnya usaha kerajinan yang dibuat dengan alat tradisional ini, sempat tertidur akibat dihajar pandemi Covid-19.

Salah satu perajin sarung tenun desa setempat, Sumarni mengatakan dalam menjalani usahanya dibutuhkan kesabaran. Karena diakui hasil karyanya, tidak selamanya mengalami banjir pesanan.

Bacaan Lainnya

“Saya kan cuma karyawan di sini, jadi lancar tidaknya pesanan itu dari Pak Sugeng Riyadi (pemilik usaha sarung tenun di Desa Plumbongambang, Gudo, Jombang). Tapi katanya, usahanya itu sempat alami penurunan pesanan di awal-awal pandemi itu. Tapi saya tetap sabar, berdoa dan terus semangat saja, rezeki sudah ada yang ngatur,” ujar ibu rumah tangga berusia 52 tahun ini pada Rabu (6/4/2022).

Di usia hampir mendekati masa lansia ini, Sumarni terlihat masih semangat menenun sarung dengan alat manual yang terbuat dari kayu itu. Dengan bahan pokok benang tenun, ia sambungkan terlebih dahulu menggunakan keting.

Berita Menarik Lainnya:  Di Bondowoso Pembelian Premium Akan Dibatasi

Sebelum proses tenun berjalan, sejumlah benang tenun disambungkan sesuai warna atau motif yang diperlukan. Setelah itu diletakkan ke Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang kemudian siap dijalankan secara manual.

Wajah Sunarni ini terlihat sudah dibanjiri keringat dalam ruangan yang cukup sempit. Selain tangan yang bergerak, kakinya juga bergerak untuk menjalankan tali yang melontorkan teropong.

“Ya beginilah pekerjaan saya setiap harinya mas, begini ini sudah sejak 6 tahun yang lalu. Memang lama prosesnya, jadi satu hari itu hanya bisa menghasilkan satu sarung tenun ini,” jelasnya saat ditemui di kediamannya.

Meski begitu, pihaknya tetap optimis bahwa usahanya akan menjadi berkah di bulan Ramadan 1443 Hijriah ini. Sementara kesulitan saat menenun dengan alat manual, kata Sumarni benangnya seringkali putus.

“Ya kesulitannya, benangnya saja kadang putus gitu, sehingga harus berulang-ulang disambung gitu. Tapi kalau diproses dengan alat manual begini, kwalitas hasilnya malah tambah bagus. Kalau harapannya, semoga tetap lancar dan makin banyak pesanan di bulan jelang lebaran ini,” imbuhnya memungkasi.

Berita Menarik Lainnya:  Bupati Bondowoso Sebut Curahdami Siap Jadi Contoh Kecamatan Ramah Lansia

Dikonfirmasi secara terpisah, Sugeng Riyadi pemilik usaha tenun setempat mengaku usahanya kini masih dirasa alami kendala. Rupanya berawal dari makin mahalnya harga kapas tenun, hingga dirasa sulit untuk mendapatkan bahan baku setelah terdampak situasi global tersebut.

“Akhir-akhir sejak peristiwa Rusia pecah itu, pasar agak seret uangnya. Dari harga kapas tenun yang makin mahal, dan sulit untuk mendapatkannya. Kalau saya pesannya di luar negeri tepatnya di China, karena melihat kwalitas yang bagus dan nyaman. Kalau di dalam negeri ini, kwalitasnya saya rasa masih kurang maksimal gitu saja. Mudah putus dan pendek,” tutur pria 50 tahun ini saat ditemui.

Meski begitu, pemasaran usaha yang digelutinya ini sudah tembus hingga luar daerah bahkan tingkat nasional. Kata Sugeng, tak jarang mengirimnya ke Timur Tengah dan wilayah Kalimantan.

“Pengirimannya paling jauh ke timur tengah, ya memang ke situ ngirimnya. Selain ke situ ada juga seperti di wilayah Kalimantan gitu. Tapi Ramadan ini masih belum banyak pesanannya, meski begitu ya tetap optimis bangkit saja kedepannnya. Bismillah gitu saja,” bebernya.

Berita Menarik Lainnya:  Hutang Tak Dibayar, Culik dan Sandera Anak di Bawah Umur
Sumarni salah satu pengrajin sarung tenun di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang
Sumarni salah satu pengrajin sarung tenun di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang

Bersama 25 karyawannya, Sugeng mengaku dalam satu bulannya bisa menghasilkan puluhan sarung tenun dengan bermacam motif. Per potong sarung tenun ini, ia bandrol dengan harga Rp 500 ribu rupiah.

“Perpotong sarung tenunnya saya jual 500 ribu. Tapi dijamin kwalitas bagus dan nyaman. Perbedaan sarung tenun ini dengan lainnya, terasa dingin saat cuaca panas. Dan terasa hangat saat cuaca dingin, jadi menyesuaikan,” cetusnya.

Sementara disinggung soal omzet yang didapat dalam setiap kali melakukan pengiriman, Sugeng mengaku mendapatkan sekitar 50 an juta.

“Tidak mesti waktu pengirimannya, kadang perminggu kadang juga setiap dua Minggu sekali gitu. Setiap ngirim, jumlah sarungnya sekitar seratusan. Jadi kalau ditanya omzet setiap pengiriman, dapatnya sekitar 50 an juta gitu dah. Ya kali ini harapannya terus berjalan dengan lancar, optimis bangkit meski kendala pandemi masih saya rasa hingga saat ini,” pungkasnya.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280