Kafe Mini di Jombang Kurangi Porsi Sebagai Upaya Bisa Bertahan di Masa Pandemi

Warung kopi Tamaram
Keterangan foto : Warung kopi Tamaram
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Jombang – Selain sebagai tanda bahwa kafe tersebut hampir gulung tikar, dengan mengurangi porsi tiap menu minuman dikatakan berupaya untuk tetap usahanya bertahan di masa PPKM yang terus diperpanjang.

Adalah Temaram, salah satu tempat nongkrong ala milenial yang berada di halaman pasar tradisional Peterongan, Jombang. Kafe yang menyediakan berbagai menu kopi alami gilingan tersebut mengalami perubahan drastis daripada sebelumnya, yakni penurunan porsi tiap menu minumannya.

Bacaan Lainnya

Mahmud Nedja selaku owner Kafe mini mengatakan bahwa usahanya dalam menjalankan kafe tersebut untuk tetap bisa bertahan, merasakan kesulitan dan butuh bantuan. Dikarenakan, selain mengalami penurunan pelanggan, omzet pendapatan selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mengalami penurunan hingga 70 persen.

Berita Menarik Lainnya:  Dorong PEN, Khofifah Minta OPD Gercep Realisasikan APBD 2022

“Agar tidak tutup atau bangkrut, salah satu yang bisa saya lakukan untuk kafe ini ya mengurangi porsi minuman. Jadi kalau pesan es biasa pakai gelas yang besar jadi tanggung, sementara untuk kopi yang biasa pakai gelas tanggung, kopinya dikurangi. Karena kalau gak gitu, bisa jadi bangkrut,” ujarnya kepada media ini, Kamis (26/8/2021).

Selain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa sudah cocok dengan ketersediaan jenis kopi, bila porsi minuman dikurangi. Karena memang dikatakan, bahwa dari keseluruhan menu kopi setempat alami dengan proses penggilingan.

“Jadi sempat berpikir bahwa ala ngopi elit gitu, karena memang jenis kopinya bagus dan prosesnya juga alami semua dengan cara digiling. Selain itu dengan porsi sedikit, cocok sama bangunan mini kafenya. Juga konsepnya juga semacam banyak keunikan,” jelas pria berusia 28 tahun itu.

Dari pengalamannya yang dikatakan hampir gulung tikar tersebut, mengaku bahwa imbas dari PPKM yang membuatnya tidak bisa buka hingga larut malam karena keterbatasan kapasitas pelanggan.

Berita Menarik Lainnya:  Anas Thahir: Jangan Cekik Petani di Masa Pandemi

Padahal, pria yang kerap disapa Mahmud itu menjelaskan bahwa arti dari nama kafenya sendiri itu diambil dari kebiasaan keberadaan kafe tersebut saat awal dibuka. Jadi sebelum resmi dinamakan temaram, kafe tersebut beroperasi tanpa nama.

Kendati demikian, para santri Njoso dan sejumlah mahasiswa tetap berkunjung hingga kafe tersebut tampak ramai hanya di saat sore hingga malam hari. Maka dari itu, setelah momentum tersebut, kafe mini itu dinamakan Temaram dengan arti pergantian sore ke malam.

“Karena sampai masa pandemi pun, sebelum PPKM itu tetap pelanggan banyak berdatangan saat sore hari dan malam hari. Nah pas PPKM dimulai dan diterapkan, sangat berdampak besar bagi usaha ini. Biasanya omzet pendapatan bersihnya itu 4 hingga 5 juta perbulan, pas PPKM hanya 1 hingga satu setengah juta perbulannya,” jelasnya.

Berita Menarik Lainnya:  Tinjau Pasar Kramat Jati, Mendag Pastikan Harga Migor Sesuai HET

Sementara itu pihaknya berharap akan dapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jombang, disisi lain dirinya berupaya bahwa aturan tidak diperketat meskipun PPKM level 4 telah resmi diperpanjang.

Ditempat yang sama, Yusril Ferdiansyah (22) salah satu pelanggan setempat mengatakan bahwa meskipun porsinya dikurangi, tidak sampai membuat rasa kopi berbeda. Sehingga menurutnya tetap senang dan mengatakan wajar tentang perubahan dari kafe mini langganannya itu.

“Cukup sering saya ke sini, soalnya juga kebetulan dari mahasiswa Njoso. Yang penting tidak merubah rasa kopi dan nikmatnya ngopi dengan suasana di pinggir perjalanan dan di bawah pohon sejuk ini, saya tetap senang dan nyaman ngopi disini. Karena kopinya banyak yang alami khas Wonosalam dan diolahnya langsung dengan cara digiling. Hingga terasa nikmat,” jelas pria asal Desa Senden, Peterongan, Jombang.

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280