Mengaku Tak Terlibat Penebangan Pohon Sonokeling, Kepala DLHP Sebut PUPR Jadi PJ

Pohon Sonokeling di Taman Magenda yang dipotong, Jumat (15/10/2021) | Foto: Muslim
Pohon Sonokeling di Taman Magenda yang dipotong, Jumat (15/10/2021) | Foto: Muslim
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Bondowoso – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso, Aris Agung Sungkowo, mengaku tidak terlibat dalam penebangan tiga pohon sonokeling di taman magenda.

“Itu memang pengawasan DLHP. Kami hanya menerima pemberitahuan. Penebangan tersebut murni inisiatif dan dalam tanggungjawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR),” ujarnya, Jumat (15/10/2021).

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Woro - woro dan Sosialisasi PTSL Desa Puger Kulon
banner 1920x1080

Untuk pemotongan pohon tersebut, kata Aris, harus ada pengajuan ke perijinan untuk pemotongan pohon, yang  mengajukan ijin adalah penanggungjawabnya yakni PUPR. Aris berasumsi akan ada pelebaran jalan sehingga pohon di taman magenda memang perlu ditebang.

“Izin penebangannya karena pohon itu menggangu jalan. Maka kami pikir akan ada pelebaran jalan. Ketika penanggungjawabnya PUPR saya pikir yang motong ya tim PUPR. Bukan tim DLHP,” jelasnya.

Berita Menarik Lainnya:  Penebangan Penuh Kejanggalan, 3 Pohon Taman Magenda Ditaksir Laku Rp. 120 Juta

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR saat hendak dikonfirmasi tidak ada di kantor. Saat dihubungi lewat sambungan telepon mau pesan whatsapp belum merespon.

“Pak Kadis sedang rapat di luar. Kabid yang membidangi juga lagi ada kerjaan,” ujar petugas penerima tamu di Kantor PUPR.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Kelurahan Badean protes atas penebangan yang dilakukan. Pasalnya, selain karena pohon tersebut masih dibutuhkan warga, dalam proses penebangan pun tak ada satupun dari petugas. Semua dilakukan oleh pekerja yang mengaku suruhan seorang pembeli kayu.

Berita Menarik Lainnya:  SK P3K Guru Honorer di Bondowoso Rampung, 1056 Terima Kontrak Kerja 5 Tahun

“Setelah saya telusuri kepada penebang, ternyata pohon itu sudah dibeli seharga Rp 120 juta dari seorang bernama Jauhari. Saya pikir dia pegawai. Ternyata bukan,” jelas Miftahul Huda.

banner 600x310

Pos terkait