Korban Penyerobotan Tanah, Keluarga Abdul Karim Tuntut Keadilan

Ibu Jumaati dan Abdul Karim Korban Penyerobotan Tanah | Foto: Noval
Ibu Jumaati dan Abdul Karim Korban Penyerobotan Tanah | Foto: Noval
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Probolinggo – Ibu Jumaati atau yang akrab dipanggil ibu Karim berserta tujuh ahli waris, warga Desa Binor Kecamatan Paiton, Probolinggo menuntut keadilan atas tanahnya yang diserobot paksa oleh Rudiyanto kontraktor asal Surabaya, Jumat (15/10/2021).

Polemik ini terungkap, ketika Bunawar yang merupakan salah satu ahli waris Abdul Karim mengadu kepada aktivis lingkungan Probolinggo, Bath Kamal untuk membantunya mengungkap kasus dugaan penyerobotan tanah seluas dua hektar persegi atas nama Abdul Karim tersebut oleh Rudiyanto kontraktor asal Surabaya.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Februari Cuaca Ekstrem BPBD Bangka Petakan Daerah Rawan Bencana
banner 1920x1080

Bunawar mengambil langkah demikian lantaran sudah merasa jemuh dengan pemerintahan terkait, karena beberapa kali meminta penjelasan atas tanahnya yang diserobot paksa, namun pemerintah terkait tidak pernah mengindahkannya.

“Udah berganti tiga kepala desa dalam urusan pergantian tanah milik bapak Karim, sebab, ketika diurus ternyata ada kejanggalan dalam antara pepel surat tanah yang dipegang ahli waris dengan Buku C dan karawang buku lama sudah hingga berubah atas nama kontraktor Surabaya Pak Rudi dari China,” kata Bunawar setelah diminta keterangannya.

Berita Menarik Lainnya:  UMKM Bhayangkari Gelar Bazar, Demi Kembangkan Potensi Anggota

Abdul Karim semasa hidupnya juga mengatakan bahwa ia tidak pernah menjual tanahnya kepada siapapun. Kepemilikan tanah tersebut masih sama pemiliknya, sesuai surat ketetapan iuran pembangunan daerah yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembangunan Daerah pada tahun 1981.

Dalam surat tersebut No. 461, disebutkan pemiliknya atas nama Karim, desa Binor Kecamatan Paiton, Kewedanan Paiton Kabupaten Probolinggo, Keresidenan Malang, Jawa Timur. Bahkan sesuai surat keputusan Pengadilan Agama Kraksaan Nomer 461, disebutkan bahwa tanah tersebut merupakan milik ahli waris Abdul Karim.

Melihat arsip yang ada, dengan keabsahan kepemilikan tanah tersebut atas nama Abdul Karim dan Ahli warisnya. Bunawar didampingi aktivis lingkungan Mbah Kamal mendatangi kediaman Rudiyanto di Surabaya untuk meminta penjelasan, namun di sana mereka hanya ditemui oleh istri Rudiyanto.

Berita Menarik Lainnya:  Menumbuhkan Semangat Nasionalis Ala Santri Nurul Huda Pule

Dalam keterangannya, istri Rudiyanto tidak tahu – menahu detail pembelian tanah di desa Binor tersebut. Ia Cuma mengatakan bahwa tanah itu sudah lama dibelinya. Namun ditanya lebih lanjut Rudiyanto membeli kepada siapa, ia tidak dapat menjawabnya.

Harapannya, para ahli waris meminta pihak terkait segera menyelesaikan polemik ini supaya tidak berlarut – larut tida ada kepastian dan keadilan.

“Karena sudah lama mereka memperjuangkan tanah tersebut namun hasilnya nihil,” tutup Bunawar.

banner 600x310

Pos terkait