Khofifah Cek Kerusakan Pasca Gempa 5,1 SR Guncang Jember

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, mengecek langsung kerusakan akibat gempa yang melanda Jember, 5,1 SR. Ditemani para Kepala OPD Provinsi dan Bupati Jember, Drs Hendy Siswanto. Sekaligus mengucurkan bantuan Rp 500 juta dan bantuan pangan, Sabtu (18/12/2021) | Foto: Humas Pemprov Jatim
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, mengecek langsung kerusakan akibat gempa yang melanda Jember, 5,1 SR. Ditemani para Kepala OPD Provinsi dan Bupati Jember, Drs Hendy Siswanto. Sekaligus mengucurkan bantuan Rp 500 juta dan bantuan pangan, Sabtu (18/12/2021) | Foto: Humas Pemprov Jatim
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Jember – Jember baru saja diguncang gempa 5,1 skala richter (SR). Meski tak berpotensi tsunami namun, kerusakan yang terjadi sangat luas. Untuk itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengecek kondisi pasca gempa, Sabtu (18/12/2021).

Tiba di Jember Gubernur Khofifah segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten setempat. Dalam kesempatan kali ini Khofifah mengeluarkan warning kepada Pemerintah Daera yang ada di sepanjang wilayah selatan Jawa Timur untuk memperkuat mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.

Bacaan Lainnya

Hal ini menyusul selama kurun lima tahun terakhir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas kegempaan di wilayah ini mengalami peningkatan.

Berdasarkan catatan BMKG, kurun waktu 2013-2015, jumlah gempa bumi di Jawa Timur dengan beragam magnitudo terjadi 230 kali per tahun.

Pada 2016 – 2020, jumlah gempa bumi meningkat jadi 450 kali setahun, dengan frekuensi tertinggi 655 kali pada 2016.

“Kepada kepala daerah mohon untuk segera melakukan audit kelayakan konstruksi bangunan dan infrastruktur, penyiapan jalur dan sarana prasarana evakuasi yang layak dan memadai,” ungkap Khofifah, melihat dampak gempa di Desa Ambulu, Dusun Krajan, Kecamatan Ambulu, Jember dilanjutkan ke pantai Watu Ulo sentra gempa, Sabtu (18/12/2021).

Kata Khofifah, penguatan dalam hal mitigasi harus dilakukan untuk meminimalisir dampak yang terjadi jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menghantaml selatan Jatim.

Berita Menarik Lainnya:  Jelang Tanggal Larangan Mudik, Sekda Jombang Pastikan Santri Telah Pulang

Pemerintah Daerah harus segera membuat rencana aksi dengan berbagai skenario, dari yang ringan hingga antisipasi terburuk.

Rencana aksi tersebut harus juga mencakup jalur evakuasi, proses evakuasi dan pola penanganan pengungsi jika bencana terjadi.

Selain mitigasi, perlu juga penguatan literasi bencana ke masyarakat. Dengan begitu masyarakat tidak gagap dan bingung serta tahu harus berbuat apa saat bencana terjadi.

“Masyarakat ini harus mengerti kalau memang suatu daerah berpotensi untuk tsunami, gempa sebenarnya sudah menjadi early warning system. Maka sosialisasi tentang mitigasi bencana harus ditingkatkan karena masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri,” jelasnya.

“Karena gak akan nutut, kalau mengikuti ritme dan menunggu relawan datang. Sebab, kemungkinan jarak dari gempa ke tsunami biasanya hanya 20 menit saja,” lanjutnya.

Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut, antara lain Kepala Pusat Seismologi Teknik BMKG Rakhmat Triyono, Bupati Jember Hendy Siswanto, Dandim 0824 Jember Letkol Inf Laode Muhammad Nurdin, Kapolres Jember AKBP Arif Rahman Arifin, Kepala Bakorwil Jember, Kalaksa BPBD Provinsi Jatim, Kepala Dinas PUPR, serta Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan Provinsi Jatim.

Sebagai informasi, gempa berkekuatan 5,1 SR terjadi pada Kamis (16/12) pukul 06:01:33 WIB.

Gempa berpusat pada lintang 8.55 LS, bujur 113.49 BT dengan kedalaman 10 Km. BMKG memastikan bahwa kekuatan 5,1 SR ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Gempa ini dapat dirasakan di Jember dengan intensitas IV MMI, Kabupaten Banyuwangi dengan intensitas II-III MMI, Kabupaten Malang dengan intensitas II MMI, Kabupaten Lumajang dengan intensitas I-II MMI, Kabupaten Bondowoso dengan intensitas I-II MMI, serta Kabupaten Trenggalek yang berintensitas I-II MMI.

Berita Menarik Lainnya:  Bupati Kendal Dico M. Ganinduto Beri Solusi Terbaik Relokasi Pasar Weleri

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Jember sedikitnya terdapat 46 unit rumah warga di Ambulu, yang mengalami kerusakan.

Di mana, 34 unit mengalami rusak ringan, 11 unit mengalami rusak sedang, dan 1 unit mengalami rusak berat. Sementara, 5 unit fasilitas umum berupa 4 sekolah dan 1 gedung juga terdampak gempa tersebut.

Sementara, 6 warga mengalami luka ringan. Di antaranya adalah Siti Ulfia (30), Tari (75), Abd. Rosid, Endang Susilowati (19), Solikin Hermanto (52),dan Dewi Maratus Solikhah (13).

Di Dusun Krajan, Desa Ambulu, Kecamatan Ambulu, Khofifah menyempatkan diri berbincang dengan warga setempat yang rumahnya rusak.

Salah satunya yaitu Sairi di mana sebagian rumahnya ambruk dengan atap yang hancur.

“Pripun Bapak – Ibu ? Mugi-mugi sehat semua nggih. Sabar nggih Bapak/Ibu, Insya Allah kami bersama-sama Pak Bupati mencari solusi untuk panjenengan semua,” sapa Khofifah.

Mantan Menteri Sosial RI itu memastikan bahwa perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa akan dilakukan sesegera mungkin.

Untuk data total perbaikan pada rumah rusak berat, rusak sedang akan dikoordinasikan lebih lanjut untuk dapat dicover BNPB, ataupun bisa dari BPBD Kabupaten dan BPBD Provinsi.

“Perbaikan as soon as possible ada tingkat urgensi terutama untuk warga yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan jikalau ada gempa susulan atau ada angin khawatir genteng jatuh,” ujarnya.

Khofifah juga memberikan bantuan pada Kabupaten Jember untuk mereka yang terdampak berupa dana sebesar Rp 500 juta. Ada pula bantuan berupa 40 selimut, 200 paket sembako, 10 lembar terpal, 30 dus mie instan, 30 dus air mineral, dan 25 paket sandang.

Berita Menarik Lainnya:  Dapat BLT, Warga di Jombang Tak Persoalkan Kenaikan Harga BBM

Sementara itu, Kepala Pusat Seismologi Teknik BMKG Pusat Rakhmat menegaskan gempa berkekuatan 5,1 SR itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami maupun kerusakan parah. Hanya saja, ada struktur bangunan warga yang tidak kuat.

“Jadi ini ada yang salah kalau sampai ada kerusakan seperti ini. Nah, ini biasanya ada pada konstruksi warga yang tidak kokoh dan kuat. Ini yang seharusnya diperbaiki,” terangnya.

Rakhmat menambahkan, pemerintah berperan penting dalam menanggulangi hal-hal seperti ini. Ia berpendapat, harus ada kebijakan ketat terkait pembangunan suatu bangunan.

“Ini tugas kita bersama. Pemerintah harus ketat dalam memberikan ijin untuk bangunan. Pengecekan konstruksi harus ketat pula. Jadi struktur bangunan harus dibuat siap untuk skenario terburuk,” tekannya.

Di akhir, Rakhmat menjelaskan bahwa masih akan ada potensi gempa berkekuatan besar yang timbul di selatan Jawa Timur. Untuk itu, sudah harus ada penanganan dan persiapan dari sekarang.

“Skenario terburuk  ada di Selatan Jawa dengan skala VI VII MMI. Potensi kerusakan luar biasa dan bisa menimbulkan tsunami sampai 29 meter. Kerusakan juga berdampak ke 200-250 km dari bibir pantai. Sumber gempa sudah ada di sana dengan magnitudo 7.0, termasuk di daratan juga ada. Jadi kita sudah harus bersiap dari sekarang,” tutupnya.

banner 600x310
banner 1024x1280