Di Jatim Pernikahan Dini Masih Tinggi, Kurun 2021 Ada 17.151 Kasus

Gubernur Jatim Khofifah saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Provinsi Jatim Tahun 2022
Gubernur Jatim Khofifah saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Provinsi Jatim Tahun 2022

BERITABANGSA.COM-SURABAYA- Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK), melansir data angka dispensasi perkawinan (diska) yang meningkat signifikan. Pada 2019 diska di Jawa Timur mencapai 5.766 kasus, di 2020 naik menjadi 17.214 kasus dan di 2021 menurun sedikit jadi 17.151 kasus.

Penyebab tingginya angka diska disebabkan antara lain karena tradisi dan budaya, faktor internal, emosional, pendidikan, media massa dan internet.

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Akibat pernikahan dini, pemenuhan hak anak untuk tumbuh dan berkembang baik terganggu.

Berita Menarik Lainnya:  Wagub Emil Tekankan 5 Langkah Strategis Penuhi Kebutuhan Migas Jatim

Bahkan pernikahan dini akan menambah masalah baru mulai dari potensi angka kematian ibu dan bayi, prevalensi stunting, kekerasan dalam rumah tangga, angka perceraian tinggi, hingga melanggengkan kemiskinan.

Untuk itu dibutuhkan strategi preventif yang dilakukan terus menerus untuk menekan laju pernikahan dini di Jawa Timur tersebut.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan agar ada edukasi tentang usia ideal minimum pernikahan yakni 19 tahun baik untuk perempuan maupun untuk laki-laki.

“Selanjutnya literasi masyarakat mengenai pernikahan juga harus ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi informasi digital. Dengan kencangnya arus informasi yang ada, masyarakat dapat lebih mudah memperoleh pengetahuan ikhwal pernikahan,” tegasnya di acara Hari Kesatuan Gerak PKK Jatim 2022 di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim, Kota Surabaya, Selasa (22/3/2022).

Berita Menarik Lainnya:  Begini Jika Para Pengasuh Ponpes se Jatim Bertemu, Bahas OPOP

Literasi digital menjadi sangat penting untuk mencegah pernikahan anak dini usia, kalau yang diambil adalah dari perspektif literasi digital, maka intervensinya langsung ke anak-anaknya, tetapi untuk faktor budaya intervensinya adalah kepada orang tuanya

Untuk itu maka perencanaan dan persiapan mutlak diperlukan dalam setiap pernikahan, termasuk dari sisi psikologis pasangan dan pertimbangan finansial. Dengan begitu, setelah menikah tidak lantas menjadi permasalahan baru.

Karena digitalisasi tidak dapat dielakkan saat ini. Maka dari itu, pendampingan dan penguatan literasi digital penting untuk anak-anak. Sehingga kader PKK dalam hal ini bisa ikut menjelaskan kepada anak-anak bahwa tidak semua hal yang dapat diakses dari internet dapat begitu saja dilakukan.

Berita Menarik Lainnya:  Gelar Audiensi dengan Polrestabes, BNPM Surabaya Suarakan 3 Tuntutan

“Memang seperti dua mata pisau kalau kita mencari kebaikan dari internet kita akan mendapatkan semua kebaikan, tetapi jika keburukan yang dicari ya akan buruk yang kita peroleh,” imbuhnya.

Terakhir kata Khofifah, untuk membentuk ketahanan keluarga, maka semua hal telah dipersiapkan diawal. Kematangan setiap pribadi menjalani pernikahan menjadi salah satunya. Karena menurutnya keluarga adalah unit terkecil sebuah negara dan berkontribusi terhadap pembentukan ketahanan negara yang kuat dan kokoh.

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *