Asal Muasal Jember Fashion Carnaval yang Melegenda

JFC
Peragaan busana pada malam puncak Grand Carnival JFC 2022
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM-JEMBER- Even berkelas internasional, Jember Fashion Carnaval atau JFC kembali dilaksanakan untuk kali ke-20, pada 6 dan 7 Agustus 2022.

JFC 2022 ini mengusung tema “The Legacy” untuk menunjukkan bahwa JFC mewariskan semangat serta tujuan besar untuk memperkenalkan kepada dunia bahwa Jember adalah kota karnaval.

Bacaan Lainnya

Ini adalah grand carnival JFC pertama yang diselenggarakan secara full outdoor usai pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Presiden JFC Budi Setiawan menyampaikan, yang menarik pada Grand Carnival kali ini ialah menampilkan defile kostum terbaik dari penyelenggaraan JFC sebelumnya yakni 2011 hingga 2019.

Berita Menarik Lainnya:  Rakyat Bebas Mengadu di Call Center 112 Bebas Pulsa Full 1x24 Jam

“Sepuluh defile yang ditampilkan dalam ajang JFC 2022 yakni Defile Madurese, Defile Mahabharata, Defile Betawi, Defile Majapahit, Defile Garuda, Defile Sriwijaya, Defile Kujang, Defile Aztecs, Defile Sasando, dan Defile Poseidon,” rincinya.

JFC ada hingga saat ini berawal dari ide seorang perancang busana asal Jember, Jawa Timur, yang sekaligus pendiri JFC bernama Dynand Fariz.

Awalnya, Dynand Fariz mendirikan rumah mode pada 1998, kemudian tiga tahun berjalan atau tepatnya pada 2001, dia menyelenggarakan fashion week dengan tujuan mengenalkan rumah modenya ke masyarakat. Fashion week dilakukan dengan sederhana, Dynand Fariz mewajibkan setiap karyawannya memakai busana buatannya saat bekerja selama seminggu.

Kemudian, melanjutkan langkahnya dengan memperkenalkan hasil rancangan busananya ke lingkungan terdekatnya seperti arisan keluarga.

Berita Menarik Lainnya:  Mendag Tetapkan Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

Kemudian pada 2022, Dynand Fariz mengubah cara promosinya dengan menggelar pawai dimana para pesertanya adalah karyawannya sendiri.

Dynand Fariz merancang busana dari bahan daur ulang yang diperagakan para karyawannya. Sementara lintasan catwalknya adalah jalanan di lingkungan perumahan tempat rumah modenya berdiri. Pawai tersebut sukses dan mendapat tanggapan positif dari warga perumahan. Dari sinilah, Jember Fashion  Carnaval bermula, hingga saat ini menjadi kebanggaan Jember dan Indonesia di mata dunia.

Ilmu tata busana Universitas Surabaya, Esmod Jakarta serta Esmod Paris merupakan sederet pendidikan yang berhasil diselesaikan oleh Dynand Fariz.

Tak mudah memang untuk menyelenggarakan even fesyen di tengah masyarakat yang agamis di Kabupaten Jember, namun Dynand Fariz berhasil membuktikan bahwa keindahan fesyen bukan soal buka-bukaan aurat, lebih dari itu, keindahan fesyen ialah seni dari sebuah mahakarya busana yang dihasilkan menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat.

Berita Menarik Lainnya:  Tiga bulan Dipasung, Pemuda Desa Pajerruan Dinyatakan Sembuh Oleh Puskesmas Banjar

Dynand Fariz bersama tim kemudian mengonsep lebih matang dan lebig detil untuk menyelenggarakan karnaval fesyen jalanan yang lebih besar lagi. Ia melobi pemerintah daerah setempat untuk dapat menyelenggarakan karnaval fesyen di tempat umum.

Bertepatan dengan HUT Jember, Jember Fashion Carnaval pertama digelar pada 1 Januari 2003 di seputar Alun-alun Jember.

JFC pertama itu diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas karyawan rumah mode Dynand Fariz, karyawan salon Dyfa milik Dynand Fariz, dan karyawan salon Karisma milik Suyanto, kakak Dynand Fariz. Dengan mengusung 3 defile, yakni Punk, Gipsy dan Cowboy.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280