Walikota Surabaya Gagal Mengentas Angka Pengangguran Warga

Beritabangsa.com – Pembangunan kota dengan banyaknya gedung-gedung tinggi dan taman-taman kota maupun tempat wisata tidak menjadikan jaminan bahwa warga kota Surabaya sejahtera dalam aspek ekonomi.

Di kota Surabaya masih ada puluhan ribu warganya yang tidak mendapatkan ruang yang layak untuk membantu perekonomian warga surabaya. Dalam arti banyak warga, khususnya dari elemen pemuda masih banyak pengangguran.

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Surabaya adalah kota terbesar nomor dua setelah Jakarta yang juga menjadi pusat perekonomian warga asli Surabaya maupun warga pendatang dari luar kota Surabaya. Harusnya pembangunan yang indah dari kota Surabaya bisa berimbang dengan index perekonomian warganya, namun pada kenyataannya berbanding terbalik.

Ekonomi yang tidak merata atau masih banyak warga miskin di Surabaya ini membuktikan bahwa pada aspek pembangunan kota Surabaya tidak berimbang. Kita bisa lihat sendiri di pinggiran Kota seperti misal di pesisir laut Surabaya Utara dan masih banyak lagi di pinggiran kota bahkan dikolong jembatan masih banyak ditemui orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, miris sekali sekelas Surabaya yang katanya kota Metropolitan!

Berita Menarik Lainnya:  Ketua HIPMA MPH Dukung Upaya Pelaksanaan Reforma Agraria

Sementara mengutip data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Jawa Timur, mereka mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) di Surabaya termasuk tertinggi di Jawa Timur pada 2019. Tercatat IPM di Surabaya mencapai 82,22 pada 2019. Angka ini naik dari periode 2018 dengan capaian 81,74. Tentu angka ini perbandingannya jauh sekali dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Surabaya selama 10 tahun terakhir yang ada di BPS.

Tercatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2010 sebesar 6,84 persen, 2011 sebesar 7,81 persen, 2012 sebesar 5,27 persen, 2013 sebesar 5,32 persen. Kemudian meningkat menjadi 5,82 persen pada 2013 dan 2015 sebesar 7,01 persen. Sementara itu, data 2016 tidak tersedia. Data TPT kembali hadir pada 2017 dengan angka 5,98 persen. Tingkat TPT kembali meningkat menjadi 6,12 persen pada 2018 dan Agustus 2019 sebesar 5,87.

Berita Menarik Lainnya:  Lestarikan Kekayaan Kultural Spiritual, NU Surabaya Bersama Wali Kota Gelar Rutinan Nariyah

Hal ini menunjukkan dari setiap 100 orang angkatan kerja terdapat lima sampai enam orang yang menganggur. Berarti Walikota Surabaya Tri Rismaharini selama memimpin Surabaya 10 tahun terakhir gagal dalam hal mengentas angka pengangguran.

Meminjam statement Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi yang menyoroti kondisi ketenagakerjaan dengan TPT turun signifikan dari 7,01 persen pada 2015 menjadi 5,98 persen pada 2017. Ia menilai, pada 2017, jumlah angkatan kerja di Surabaya naik lagi 1,89 persen menjadi hampir 1,5 juta orang dibandingkan periode 2015 sebesar 1,47 juta orang atau terjadi penambahan sekitar 33 ribu orang angkatan kerja yang menganggur.

Berita Menarik Lainnya:  Penanganan Bencana di Era Pandemi Covid-19

10 tahun bukan waktu yang sebentar untuk membangun kota Surabaya. Walikota Surabaya masih jauh dari sempurna. Selama ini perempuan yang banyak diblow-up media sering menyabet penghargaan masih jauh dari panggang api, hanya saja media terlalu berlebih yang hanya memblow-up kesuksesan Walikota Surabaya membangun di tengah kota, namun pada nyatanya di pinggiran masih terabaikan alias gagal. Masihkah kita berpangku tangan lagi kepada Risma yang suka memamerkan kegiatannya kemana-mana dengan membawa puluhan awak media?

Surabaya hari ini adalah Surabaya ke depan. Pemerataan pembangunan harus diimbangi dengan kesejahteraan warganya. Jika kotanya semakin maju, harusnya warga semakin makmur. Bukannya begitu kira-kira?

*)Charis – Pemuda Pinggiran Kota

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *