Pendidikan Politik Bagi Demokrasi SULUT

SULUT, Beritabangsa.com – Sehan Salim Lanjar tidak paham dengan kata Dinasti, dan juga istri anak serta Sehan Salim Lanjar sendiri lagi mencalonkan diri jadi cawagub Sulawesi utara.

Sehinga diera reformasi, oleh Rakyat Indonesia dan pemerintahan presiden Soeharto, Tumbang oleh Reformasi. Apakah Rakyat Indonesia setuju dengan sistem pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang ini?

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

5 Tahun, Presiden Joko Widodo-Djusuf Kala Menurut Penilayan Rakyat Indonesia sebagai Putra terbaik Bangsa seorang Negarawan Sejati, yang mampu membawa negara Republik Indonesia di mata Dunia sebagai Presiden yang betul-betul tunduk dan taat kepada Pancasila sebagai Idiologi Bangsa menuju keadilan sosial bagi seluru Rakyat Indonesia.

Hai !!!!! Putra Putri Bangsa yang lagi berkuasa, ajarilah generasi Bangsa Indonesia ini, Pendidikan Politik Bagi Demokrasi.

Dengan Politik demokrasi yang santun berwibawa, jujur tidak serahkah, ke jatuhan presiden Soekarno, karena Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN), ini semua terjadi karene bisikan dari lingkaran pembisik Soeharto.

Karena keserakahan kekuasaan serta memasukan Tutut dalam kabinet sebagai Mentri sosial pada tahun 1998 sehingga Rakyat Indonesia menganggap pemerintahan Soeharto sudah menganut sistem Dinasiti kekuasaan, Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN).

Berita Menarik Lainnya:  Jika Rekom PKB Diberikan "Last Minute" Pada Pilkada Sidoarjo, Pengamat: Sangat Merugikan Cabup

Perjuangan Reformasi pada tahun 1996,1997 sampai 1998 yang penuh dengan pengorbanan sampai berdarah-darah seakan-akan dilupakan dan tidak ada artinya sama sekali. Dengan melihat sistem pemerintahan Presiden Joko Widodo, sekarang ini yang sudah terjangkit ke Gubernur, Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia, Hampir 90% Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN) lagi merebak dengan menghalalkan segala cara.

Dengan berjalannya waktu dan kembali terpilih sebagai presiden Republik Indonesia dalam perhelatan demokrasi periode 2020-2025 Joko Widodo-KH.Ma’ruf Amin kembali terpilih sebagai Putra terbaik Bangsa Indonesia, yang kita cintai bersama ini.

Hanya saja keserakahan Para Oknum Pembisik di sekeliling Joko Widodo Merusak Citra Jokowi kepada seluruh Rakyat Indonesia, Tentang Idiologi Pancasila, UUD Pancasila mana lagi yang harus dirubah?

Sedangkan landasan Negara Republik Indonesia sudah 75 tahun merdeka itu sangat jelas, Para pejuang yang ikut berperang melawan para penjajah bukan dari satu etnis golongan saja, Sehinga Rakyat Indonesia berharap Demokrasi ini jangan ditumpangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang tidak cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti yang di katakan Sehan Salim Lajar SH. Mantan Bupati Bolaang Mongondow Timur, itu sah, katanya bukan Dinasti karena kalau Bapak, anak, Istri mencalonkan dalam satu partai itu juga bukan Dinasti, karena Sehan Salim Lanjar tidak paham Dinasti, tapi harus paham KKN, paling tidak perjuangan, Reformasi Bangsa ini dari orde lama harus tau sejarahnya.

Berita Menarik Lainnya:  Dinkes Bondowoso Minta Tambahan Anggaran Covid Senilai 6,5 M

Reformasi itu berdarah-darah memakan banyak korban, perjuangan Rakyat Indonesia memerangi Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN) ini sudah tidak ada harganya sama sekali perjuangannya, Sehan Salim Lanjar SH, harus belajar menghargai sejara perjuangan bangsa ini, jangan hanya karena ada maksud dan tujuan tertentu berspekulasi memberikan statmen karena ada maunya.

Menurut Yossy S Manoppo kepada media ini di Jakarta pada hari Senin, tanggal 27 Juli 2020, Perubahan IDIOLOGI PANCASILA yang direncanakan oleh DPR RI untuk disahkan itu sangat keliru dan tidak mewakili Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia, ucap Yossy Manoppo di depan Preiden LSM Lira Drs. Yusuf Rizal, karena sudah bertentangan dengan IDIOLOGI Undang undang dasar 1945, Haluan Negara ini akan di bawa kemana?

“Rakyat yang berani menyuarakan suara Rakyat yang Benar, berarti Rakyat yang mewakili suara Rakyat yang banyak, suara Rakyat adalah sura TUHAN, Indonesiaku adalah Indonesiamu juga, Bangsaku adalah Bangsamu juga, Suara ini mewakili suara Rakyat Indonesia yang tidak setuju dengan HIP, yang di gagas oleh partai tertentu di DPR RI, lebih khusus Rakyat Sulawesi utara,” ungkap Yossy Manoppo.

Dengan lantang menolak dengan tegas, karenah menimbulkan dampak perpecahan etnis, Agama dan Suku, di Sulawesi Utara, Apalagi Sulawesi Utara selama ini menjadi barometer Bangsa Indonesia dimata dunia tentang kerukunan umat beragama, yang mempunyai kata slogan Kitorang Samua Bersaudara, diwaktu Natal pemuda Muslim yang harus menjaga keamanannya Ibadah Natal dan sebaliknya diwaktu Idul fitri Pemuda Kristiani yang menjaga jalannya Ibadah Solat Id dimasjid-masjid, ini merupakan, Sejarah serta contoh suri teladan kepada Bangasa Indonesia atas makna IDIOLOGI Pancasila Ketuhanan yang maha ESA.

Berita Menarik Lainnya:  Raih Penghargaan Anti Korupsi 2022, Wali Kota Probolinggo Ajak Bersama Lawan Korupsi

Yossy S Manoppo menambahkan kepada Presiden LSM Lira Drs Yusuf Rizal di kantor DPP Lira Jakarta Selatan sebaiknya Presiden Joko Widodo, Pemeritah Pusat menunda Pemilihan Kepala Daerad diseluruh Indonesia, Karena kondisi Covid-19 yang menelan angaran sudah 975 triliun sudah hampir 1 biliun pemerintah gelontorkan bukan berkurang tapi bertambah menurut data statistik Menkes, ini rakyat di repotkan lagi dengan Pilkada.

Dengan anggaran yang tidak sedikit, Kalau negara ini jatuh miskin, Kan Negara kita semua Rakyat Indonesia.

Kalau negara, Kita ini banyak utang, Kan negara kita Rakyat Indonesia Juga, Pemerintah membentuk kabinetnya untuk memimpin rakyatnya, Jika rakyatnya, Mati semua karena Covid-19, Pemerintah serta kabinetnya memimpin negara yang tidak punya rakyat, Jangan jadikan Negara Republik Indonesia yang kita cintai bersama ini sebagai Negara Kelinci Percobaan KKN.

*)Yossy S Manoppo
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *