Kekerasan Seksual dan Daya Dukung Pendidikan

Esti Nalurani, S.Sos., M.M.
Esti Nalurani, S.Sos., M.M.
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com Dari sekian banyak kategori kejahatan, kekerasan seksual agaknya menghuni kelas bawah dalam popularitas di media arus utama. Ia tidak seperti kasus pembunuhan, korupsi, atau bahkan kasus narkoba dan perselingkuhan selebriti yang mudah mencuri perhatian pemirsa layar kaca. Namun, zaman telah berubah, informasi bukan lagi dominasi media besar.

Akhir-akhir ini misalnya, banyak sekali kasus kekerasan seksual yang ditangani setelah viral di media sosial.
Warganet bekerja demi keadilan – akhirnya, untuk para korban dan akhirnya kasus itu ditangani pihak terkait. Pun, korbannya bukan lagi sekadar mengalami kekerasan seksual, tapi juga menderita efek domino setelahnya.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Novia Widyasari dan Novita Aji Syahputri misalnya, memilih mengakhiri hidup setelah rangkaian kekerasan yang mereka alami.

Tapi kalau kita kaji lagi ke belakang, saat pertama kali beredar secara online ada seorang mayat perempuan diketahui bunuh diri di sebelah makan ayahnya, sontak komentar warganet banyak yang juga meninggalkan komentar miring menghakimi sang jenazah perempuan ini dengan segala macam komentar negatifnya, yang bisa jadi, jika komentar ini dibaca sang korban akan menjadi depresi dua kali lipat.

Berita Menarik Lainnya:  Tak Sekadar Ikhlas, Guru Juga Perlu Sejahtera

Hal ini merupakan fakta bahwa masyarakat kita juga belum membuka hati dan siap empati secara pengetahuan dan mental untuk mendengarkan curahan hati dan aduan berkenaan dengan kasus serupa dengan Novi dan Novita.
Dua kasus di atas sejatinya adalah sebuah puncak gunung es.

Setelahnya, kasus-kasus lain bermunculan – seringnya lewat media sosial. Pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat yang memperkosa belasan santrinya adalah contoh paling baru. Dan di luar sana, masih sangat banyak orang yang masih ragu untuk bersuara soal pengalamannya.

Berdasarkan data dari Kementerian PPPA misalnya, terdapat peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak dan perempuan. Sementara menurut keterangan Kemendikbud, terdapat peningkatan kasus yang sama selama pandemi COVID-19.

Khusus mengenai kasus Novia dan Novita, kekerasan seksual membuka mata kita semua mengenai aspek-aspek di dalamnya.

Novia misalnya, memilih mengakhiri hidup setelah tidak mendapatkan dukungan orang-orang sekitarnya, bahkan dari keluarga sendiri. Maka, gunung es ini juga bukan hanya soal angka tetapi juga soal bagaimana orang-orang sekitar dalam menyikapinya.

Berita Menarik Lainnya:  Terdakwa Dugaan Kekerasan Seksual di SMA SPI Batu Belum Ditahan, Ini Jawaban PN

Dalam konteks keluarga, apa yang dialami keduanya adalah bukti hilangnya daya dukung lingkungan. Ini agaknya semakin mempertebal keyakinan bahwa masyarakat Indonesia sampai saat ini masihlah patriarkis dan sulit mendukung korban. Hingga, akhirnya, mereka berada dalam penderitaan berkepanjangan, sebuah efek domino dari kekerasan seksual yang dialami.

Yang lebih mengejutkan, masalah kekerasan seksual juga turut subur di instansi pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Ini bukan lagi sebuah tamparan keras tetapi sebuah kejahatan luar biasa.

Bagaimana, contohnya, seorang dosen predator bebas selama bertahun-tahun melakukan aksinya. Alih-alih memberikan rasa aman dari kekerasan seksual, instansi pendidikan malah kecolongan dari adanya tindakan semacam itu.

Maka, pendidikan seksual sejak dini pada akhirnya tidak hanya dibutuhkan demi mencegah pergaulan bebas terjadi, namun ada baiknya juga diberi ilmu dan pemahaman bagaimana tata cara mengenali gejala-gejala kejahatan pelecehan seksual baik yang verbal maupun mengarah ke tingkah laku serta prosedur atau alur membuat pengaduan, sehingga hal-hal seperti itu tidak kembali terjadi.

Pendidikan tingkat dasar hingga menengah misalnya, harus memperbaiki lembaga bimbingan konseling mereka sehingga bisa lebih peka terhadap kondisi di kalangan murid.

Berita Menarik Lainnya:  Teror dan Nisfu Sya'ban

Hal yang sama, agaknya, juga bisa diterapkan di tingkat pendidikan tinggi dengan adanya lembaga khusus semacam bimbingan konseling di tingkat internal.

Selain itu, hal lain yang penting dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan dan juga keluarga adalah mengubah persepsi terhadap korban kekerasan seksual. Apalagi, di masa sekarang, kekerasan seksual bukan sekadar pemerkosaan semata. Ada banyak hal yang kini dikategorikan sebagai kekerasan seksual. Dampaknya bagi korban pun beragam, dari ringan hingga berat.

Tentu, semua itu demi sebuah kehidupan dan sistem sosial yang lebih baik. Sehingga, semoga, tidak ada Novia dan Novita lain di masa mendatang. Dan semua itu bisa dimulai dari sebuah sistem pendidikan, baik di keluarga maupun di instansi resmi.

 

*) Esti Nalurani,S.Sos.,M.M, Seorang Pengusaha, Mahasiswa Program Doktor Pengembangan SDM Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Bendahara Umum BPD HIPMI Jawa Timur, Ketua Departemen Pendidikan Kadin Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280