Catatan Refleksi Akhir Tahun

Silahkan Share ke :

Oleh H. A Syafiq Syauqi

Ketua Pimpinan Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Indonesia adalah gugusan yang tak terperikan keindahannya. Tak hanya alam-nya yang indah, adat istiadat serta kerukunan warga Indonesia juga tak kalah mengesankan. Untuk urusan yang paling akhir, kita sudah membuktikan kedewasaan kita.

Aneka rupa peristiwa di 2019 menunjukan hal tersebut. Ya, Indonesia bisa dibilang cukup matang dalam berdemokrasi. Pemilihan Presiden dan para legislator, selesai dengan mulus pada tahun ini. Meski sempat diwarnai sejumlah demonstrasi, pemilu yang damai patutlah kita syukuri.

Momen pemilu yang mempertemukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden kini sudah usai. Tak hanya pemilu yang selesai, kini Joko Widodo dan Prabowo sudah menjadi dalam satu gerbong. Yakni, gerbong Kabinet Indonesia Maju. Joko Widodo sebagai presiden, dan Prabowo Subianto sebagai menteri pertahanan.

Sikap legawa Prabowo, serta sikap Jokowi yang terbuka merangkul sang rival, adalah peristiwa bersejarah di 2019. Ini adalah bekal, bahwa kita adalah satu kesatuan. Ungkapan bijak bahwa politik tak boleh memecah persatuan, seperti sedang ditunjukan dalam sebuah orkrestra indah yang dipermainkan oleh Jokowi dan Prabowo.

Berita Menarik Lainnya:  Gus Syafiq: Rencana Deklarasi IKA GP Ansor Batalkan saja!

Tak hanya soal politik, soal kerukunan umat beragama yang dirilis oleh Kementrian Agama (Kemenag) baru-baru ini menunjukan data yang melegakan. Berdasarkan survey kemenag, indeks kerukunan beragama di Indonesia pada tahun 2019 berada pada angka 73,83.

Indeks ini meningkat dibandingkan tahun 2018. Yakni, pada tahun lalu indeks-nya mencapai 70,90. Dengan demikian, berdasarkan data itu, kita sebagai sebuah bangsa, tak hanya rukun dalam hal ‘politik’ dengan bergabungnya dua elit yang berival, tapi diakar rumput, umat antar agama sangatlah rukun.

Berdasarkan data itu juga, diketahui, kalau indeks tertinggi adalah di Papua Barat. Sedangkan terendah ada di Aceh. Ini tentu menarik, Papua yang pasca pemilu sempat ada kericuhan, ternyata jika diteliti lebih dalam akar rumputnya, mempunyai indeks kerukunan paling tinggi.

Meski data survey ini perlu diuji, tapi apa yang dilakukan oleh Kemenag sudah patut diapresiasi karena sudah menggunakan data survey yang ilmiah. Yakni, menggunakan metode multistage clustered random sampling dengan margin error 4,8 persen untuk tingkat provinsi dan 1,7 persen untuk tingkat nasional. Setiap provinsi, ada 400 persen responden yang disurvey.

Berita Menarik Lainnya:  PC IPPNU Bondowoso Gelar Pelatihan Administrasi

Lalu, Bagaimana dengan 2020?

Presiden sudah terpilih. Menteri sudah terpilih. Banyak menteri sudah melakukan terobosan yang menjanjikan. Dengan aneka macam fakta tersebut, maka 2020 sejatinya adalah tahun untuk kita semua untuk bekerja, memberi yang terbaik pada Bangsa dan Negara.

Tentu, meski tidaklah begitu paham tentang outlook ekonomi 2020, penulis beranggapan kalau tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan harapan. Langkah Presiden Joko Widodo yang berjanji untuk membuka kran investasi sebesar-besarnya, patut ditunggu untuk menggeliatkan ekonomi daerah. Khususnya, ekonomi pedesaan yang menjadi denyut nadi kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU).

Selain dalam hal ekonomi, dalam hal kerukunan umat beragama, Ansor dan Banser Jawa Timur siap mengawal kerukunan tersebut. Indeks kerukunan yang bagus, perlu ditingkatkan lagi dengan kerja-kerja nyata dalam menjaga stabilitas di akar rumput. Apalagi, stabilitas di akar rumput, menentukan perkembangan ekonomi kita.

Ansor dan Banser dengan jaringannya yang sampai pada tingkat RT dan RW, mempunyai peran strategis untuk menjaga stabilitas itu. Cerita Ansor yang menjaga gereja ketika malam natal tiba, sejatinya bukanlah lipstick dari sebuah pluralisme, tapi itu adalah langkah konkrit dari pluralisme itu sendiri.

Meneladani Riyanto, Pahlawan dari Mojokerto

Berita Menarik Lainnya:  Silaturahim dengan Gubernur, Ansor Jatim Siap Bersinergi Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat

Cerita tentang pluralisme dan kerukunan, Ansor Jawa Timur mempunyai cerita tentang sosok Riyanto. Dia meninggal pada usia 25 tahun. Aktivis Banser ini meninggal pada tanggal 24 Desemer 2000 saat menjaga Gereja Eben Haezer di Mojokerto.

Dalam cerita yang sudah di film-kan itu, Riyanto rela mendekap bom yang ditemukan di sebuah gereja, lalu dia berlari agar bom tersebut tidak mengenai warga gereja. Sebelum tewas karena mendekap dan membawa lari bom itu, Riyanto mendapati sebuah bungkusan mencurigakan di dalam gereja. Setelah dicek, terdapat kabel-kabel yang diduga kuat adalah bom.

Setelah itu, Riyanto hendak membuang bom tersebut ke dalam tong sampah tapi terpental dan gagal masuk. Takut bom-nya terpental lagi, bom yang sudah memercikan api itu terpaksa didekap oleh Riyanto sambil memekikan kata tiarap. Tak lama setelah itu, bom meledak dan membuat tubuh Riyanto terpental hingga 100 meter. Karena kejadian ini, Riyanto meninggal dunia.

Nama Riyanto kini-pun abadi. Tak hanya kisah heroiknya di film-kan, tapi namanya dijadikan nama jalan di Mojokerto. Riyanto seolah ingin meneladani apa yang sering disebut Gus Dur: jika ingin membantu orang, tak perlu lihat apa agama orang itu.

Kepada Riyanto, kita perlu banyak belajar.

banner 600x310

Pos terkait