2 Tahun Jokowi-Ma’ruf: Pembangunan SDM Melalui Pendidikan

Azry Almi Kaloko, Koordinator Divisi Komunikasi dan Informasi - Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR) | Dokumen Istimewa
Azry Almi Kaloko, Koordinator Divisi Komunikasi dan Informasi - Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR) | Dokumen Istimewa
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com – Sejak awal pandemi Covid-19 di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang telah melanda seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, layaknya seperti kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan, dan sekaligus mengasah untuk menjadi bangsa yang tahan banting.

Indonesia diuji di berbagai pilar kehidupan, namun hal ini juga turut menjadi kesempatan untuk memperbaiki bangsa. Pandemi yang telah berjalan hampir dua tahun membuat dampak pada seluruh aspek kehidupan sehingga terjadi perubahan yang cukup pesat. Sejatinya, pandemik memacu untuk berubah agar mampu mengembangkan cara-cara baru serta meninggalkan kebiasaan lama yang menyulitkan.

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam dua tahun memimpin telah memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk peningkatan produktivitas dan kualitas SDM dengan anggaran yang tidak sedikit, sebesar Rp541,7 triliun. Pada 2030-2040 mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana angka populasi usia produktif mencapai 64 persen dari sekitar 297 masyarakat Indonesia. Untuk itu prioritas pada pembangunan SDM harus terus dikerjakan secara kontinyu. Bonus demografi harus dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan SDM yang produktif, inovatif, dan berdaya saing secara global namun tetap mengamalkan nilai- nilai Pancasila dan rasa nasionalisme terhadap bangsa.

Berita Menarik Lainnya:  Rumitnya Perhitungan Usia di Korea Selatan Beserta Dampaknya

Dalam meningkatkan SDM, Kebijakan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset dan Teknologi RI (Kemendikbudristek) melanjutkan reformasi pendidikan dengan: (1) peningkatan kualitas SDM melalui penguatan PAUD dan sekolah penggerak; (2) pemerataan sarana prasarana pendidikan; serta (3) menyelesaikan mismatch pendidikan dengan penguatan pendidikan vokasi, pengembangan riset terapan dan inovasi yang tersambung dengan industri dan masyarakat, program magang dan teaching industry, serta pelaksanaan program Merdeka Belajar, yang semuanya ini harus terus didukung berbagai stakeholder pendidikan ke depan.

Upaya untuk meningkatkan SDM unggul, pemerintah melalui Kemendikbudristek juga telah berkomitmen untuk memperkuat investasi di bidang pendidikan, antara lain mendukung perluasan program beasiswa, melakukan adopsi dalam teknologi informasi dan komunikasi, pemajuan kebudayaan, penguatan perguruan tinggi menuju kelas dunia, serta pengembangan riset dan inovasi.

Sebenarnya fungsi ristek yang melekat ke Kemendikbud membuat kementerian ini harus menangani kebijakan riset, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Padahal, sebelumnya Kemendikbud sudah menangani banyak hal tentang pendidikan, di mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, vokasi hingga pendidikan tinggi, serta kebudayaan dan pembentukan karakter. Bisa dibilang bahwa kementeriaan ini menangani bidang yang cukup luas. Hal ini dapat berakibat kurangnya efektivitas dan focus kemendikbudristek dalam mengelola kebijakan bidang pendidikan.

Berita Menarik Lainnya:  Ketua HIPMA MPH Dukung Upaya Pelaksanaan Reforma Agraria

Pendidikan filosofinya sebenarnya adalah pendampingan untuk membentuk rasa (taste), hasrat (desire) dan kebiasaan (habit) bagi peserta didik, sementara riset berfilosofi sebagai pembangunan cara berpikir (thinking), menelisik (inquiry), dan membuat penjelasan (reasoning). Sehingga penggabungan pendidikan dan riset bagaikan kesempatan namun juga tantangan agar jangan sampai terjadi tumpang tindih antar lembaga dari kemendikbudristek dan BRIN. Karena seperti yang tertuang dalam visi Indonesia 2045, bahwa untuk menjadi 1 dari 5 negara dengan ekonomi terbesar, Indonesia harus memiliki basis dalam pengetahuan dan inovasi sehingga peran Kemendikbudristek sangat besar dalam hal ini.

Merdeka Belajar adalah salah satu program yang didorong pencapaiannya oleh Kemendikbudristek, misalnya saja dilihat dari episode 9 hingga 13 sejak tahun 2020 hingga 2021 ini, pada episode 9 diberlakukan Kartu Indonesia Pintar, episode 10 pemberlakuan perluasan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Episode 11 membuat Kampus Merdeka Vokasi, Episode 12 dengan tema Sekolah Aman Berbelanja bersama SipLah, dan Episode 13 tentang Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesia. Gebrakan dan capaian-capaian positif yang diberlakukan sejak dibentuknya Merdeka Belajar akan berdampak positif kepada peningkatan SDM dan kemajuan Indonesia.

Berita Menarik Lainnya:  Setor Pajak dengan e-Commerce

Untuk itu program yang sudah dibangun oleh Kemendikbudristek harusnya didukung oleh berbagai stakeholder pendidikan di pusat hingga daerah, karena dalam situasi pandemi saat ini, dunia pendidikan di awal 2020 bahkan sempat tersendat, untuk itu dukungan agar dunia pendidikan terus berjalan dengan baik harus optimis dilanjutkan sekaligus dilakukan evaluasi dan pembenahan. Karena sejatinya, komitmen, sinergi hingga kerjasama dan evaluasi yang berasaskan gotong royong akan mampu memberikan jalan keluar berbagai persoalan pendidikan di Indonesia.

*) Azry Almi Kaloko, Koordinator Divisi Komunikasi dan Informasi – Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi beritabangsa.com

banner 600x310