Lebih Penting Uang atau Manusia?

CEO
Moch. Atha' illah, CEO Beritabangsa.com
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM Lebih penting mana uang atau manusia. Pertanyaan tersebut kerap dilontarkan dalam konteks berbisnis atau saat kita mendirikan sebuah usaha di sektor apapun, terlebih di sektor industri pers. Namun menurut saya yang lebih penting itu manusia, alasan sederhananya karena manusia bisa menghasilkan uang, sedangkan uang belum tentu bisa menciptakan manusia yang berintegritas dan berkarakter.

Saat kita ingin membangun yang namanya usaha apapun itu, kita butuh perencanaan modal jangka pendek, menengah dan panjang untuk membangun usaha, modal tersebut adalah ‘uang’. Ketika membangun bisnis, harus mempunyai catatan perencanaan yang harus kita sediakan, kita harus menyiapkan apa saja yang dibutuhkan, yang jelas kita butuh tempat untuk berbisnis.

Bacaan Lainnya
banner 1024x1366

Okelah semua hal itu membutuhkan uang. Namun ketika berbisnis apakah ‘uang’ adalah segalanya dan hal yang paling penting? Tidak, ketika kita berbisnis, uang saja tidaklah cukup untuk membuat bisnis kita berkembang, ada beberapa faktor yang mempengaruhi maju atau tidaknya bisnis kita nanti. Setidaknya ada catatan yang lebih penting daripada uang.

1. Jaringan atau Networking

Siapa yang bilang uang itu adalah segalanya ketika kita akan membangun bisnis? Jika kita tidak berjejaring dengan manusia atau istilahnya networking yang luas, maka semuanya akan sia-sia. Kita akan lelah sendiri ketika membangun bisnis tanpa yang namanya manusia.

Bisnis itu membutuhkan yang namanya konsumen, customer atau pelanggan. Teman kita adalah hal yang lebih penting dari uang. Mereka akan memberikan banyak keuntungan kepada kita. Maka dari itu penting sekali menjaga networking. Karena kita membutuhkan mereka dan mereka juga membutuhkan kita.

2. Niat

Tidak semua orang dapat mempertahankan bisnis yang telah dibuat dan dibangun dari dulu. Banyak orang yang membangun bisnis lalu terseok bahkan kandas di tengah jalan. Semua itu bukan tanpa sebab, faktor utama yang membuat bisnis berhenti di tengah jalan adalah karena kita tidak ada yang namanya ‘niat’ dalam menjalani bisnis tersebut.

Berita Menarik Lainnya:  Niat Sambung Rohani, Pesantren Nurul Huda akan Gelar Majelis Zikir Perdana

Penting sekali untuk menjaga kestabilan bisnis. Jangan sampai kita malah kehilangan niat dan membuat bisnis yang kita dibangun bubar. Niat tentunya harus dibarengi totalitas, jika hanya niat setengah-setengah mending tidak usah membangun bisnis. Oleh karena itu totalitas juga penting.

Kita harus berkomitmen untuk menjaga bisnis itu. Niat ini lebih penting daripada uang. Jika kita ingin berbisnis hanya punya uang saja tanpa adanya niat dan totalitas, maka saya yakin bisnis itu tidak akan bertahan lama. Tapi jika kita mempunyai modal uang, jaringan, niat dan totalitas maka bisnis kita bisa berjalan dengan baik.

3. Kepercayaan

Selain uang, networking, niat dan totalitas, kepercayaan adalah modal yang paling urgen dan vital juga ketika kita membangun bisnis. Kepercayaan bisa dikatakan lebih penting dari uang. Contohnya saat kita mempunyai customer baru. Dan kepercayaan itu sangat sulit untuk didapatkan dengan mudah.

Menjaga kepercayaan yang dibangun dengan customer dan rekan bisnis dari awal akan memberikan kita nilai plus. Mereka akan menilai kita sebagai orang yang dapat dipercaya. Oleh karena itu peliharalah kepercayaan yang didapatkan tersebut.

Jadi bisa disimpulkan bahwa bisnis memang membutuhkan selain modal berupa uang, kita juga butuh komponen pendukung seperti yang namanya jaringan atau networking, niat dan kepercayaan dalam menjalani dan menjaga bisnis.

 

SDM Industri Pers

Dalam konteks industri pers itu ada keunikan tersendiri daripada industri bisnis lainnya. Menghasilkan karya tulis, memberikan informasi ke masyarakat luas sejatinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, hal itu sesuai fungsi pers melalui amanat undang-undang pers no. 40 tahun 1999. Makanya ada yang berujar, bekerja di industri pers itu selain menyalurkan dan mengembangkan hobi menulis juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Keduanya harus berjalan beriringan.

Berita Menarik Lainnya:  Juli, Lelang BTS, Pemkab Malang Minta Bumdesma Segera Penuhi Dokumen Lelang

Dalam sebuah perusahaan pada umumnya ada beberapa tipikal gaya kepemimpinan, ada istilah ‘bos’ dan ‘pemimpin’. Jelas gaya keduanya berbeda, jika bos lebih cenderung memerintah, sedangkan pemimpin cenderung mengajak, bahkan mencontohkan terlebih dahulu dengan tujuan agar bisa menjadi teladan kepada para karyawannya.

Yang dibutuhkan dalam bidang Industri Pers adalah sosok pemimpin, bukan bos yang lebih cenderung memerintah, tidak mencontohkan teladan terlebih dahulu yang baik. Pemimpin di perusahaan pers harus kaya gagasan, inovatif, tidak kaku, menerima masukan-masukan konstruktif dari karyawannya, bijaksana dan bisa mengambil keputusan yang tepat.

Konteks membangun perusahaan pers sendiri memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, bimsalabim langsung survive. Hal pertama yang dibangun adalah sumber daya manusia (SDM), di samping mempunyai SDM yang profesional, perusahaan pers harus mempunyai SDM organik.

Yang namanya membangun SDM sifatnya adalah jangka panjang, sebab tidak bisa langsung jadi manusia paripurna. Di samping itu perusahaan harus bisa mengembangkan potensi SDM yang dimiliki dengan melakukan pendekatan pelatihan-pelatihan. Pendekatan tersebut harus dikonsep sharing dengan suasana informal, tidak dengan menggurui dan saling memuji satu sama lain.

Perusahaan pers harus bisa menciptakan sebuah lingkungan dan suasana kerja yang santai, cair dengan komunikasi hangat di keluarga seperti mengobrol dengan anak, adik dan kakak. Sebab, suasana yang santai, tidak kaku itu kerap menghasilkan gagasan, inovasi baru, orang di sekitar tidak takut mengemukakan pendapatnya dengan riang gembira.

Menciptakan SDM itu ada dua wilayah, pertama di wilayah kanan yang lebih mengandalkan intuisi, kreatifitas, kepekaan, dan lain sebagainya. Yang kedua wilayah kiri mengedepankan wilayah rasionalitas, analisa dan data menjadi pelengkap wilayah kanan. Perusahaan pers dalam menciptakan SDM yang berintegritas dan berkarakter harus menggabungkan pilihan kedua wilayah tersebut.

 

Pers Memberi Makna

Ketika kita mau membangun perusahaan pers, kita harus punya tujuan utama. Sebisa mungkin, tujuan utama itu bukanlah uang. Maksimalkan tujuan utamanya yaitu memberi makna terhadap kehidupan orang lain, baik itu pelanggan, maupun karyawan.

Berita Menarik Lainnya:  Cara Hidup Hemat Ala Anak Kost yang Bisa Dicoba

Ada ungkapan tersohor dari Seno Gumira Ajidarma, seorang sastrawan dan seniman, begini bunyinya, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa”.

Mungkin sekilas, ungkapan itu cukup membuat kita bertanya-tanya apa maknanya. Namun jika boleh saya tafsirkan, sebuah kehidupan perusahaan tidak hanya sebagai wadah untuk mengejar target pengembangan produk dan menghasilkan nilai rupiah saja, tapi juga harus sebagai wadah pengembangan manusia.

Ungkapan Seno Gumira itu sekilas nampak menohok para karyawan di dunia kerja. Mereka memang terlihat keren. Tak jarang mereka terobsesi untuk mencapai kesuksesan di usia muda, padahal dalam prosesnya kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Secara rumus kasat mata, semakin rajin bekerja, semakin dekat jalan untuk mencapai kesuksesan.

Bangun tidur langsung cek email, kerja mati-matian hingga larut malam, mengambil side job, hingga mengabaikan waktu untuk beristirahat. Mirisnya, budaya ini menjadi hal yang lumrah lantaran tidak ada batasan yang jelas antara karier dan kehidupan pribadi. Ambisi sukses dan produktif malah mengabaikan kesejahteraan fisik dan mental.

Namun budaya seperti itu tidak cocok dikembangkan di bidang Industri Pers. Seperti yang sudah diungkapkan di atas, sebisa mungkin perusahaan pers harus menciptakan suasana yang santai dan cair, bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mengembangkan potensi SDM menurut keahliannya masing-masing. Saya yakin ketika perusahaan menempuh cara seperti itu akan bisa mengoptimalkan berbagai peluang bisnis kedepannya.

 

*) Moch. Atha’ illah – CEO Beritabangsa.com

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280