Budaya Akademis Santri Udik

Muhammad Syamsudin - Peneliti Bidang Ekonomi Syariah | Dokumen: Istimewa
Muhammad Syamsudin - Peneliti Bidang Ekonomi Syariah | Dokumen: Istimewa
Silahkan Share ke :

Santri, seringkali dicitrakan sebagai sosok dengan style individu khas dengan sarungnya, bersongkok hitam dan tasbih. Tercermin adanya kesahajaan dan keluguan dari pribadinya. Bahkan, kadang ia diilustrasikan sebagai sosok udik, dan berpola fikir terbelakang, jauh dari unsur kemajuan. Tidak pernah nonton Televisi, mendengarkan siaran radio, apalagi membaca koran. Benarkah penggambaran santri sebagai sosok seperti ini?

Sudah pasti, bagi yang pernah nyantri di pesantren, justru akan menertawakan sebab kesan itu jauh dari kenyataan. Bahkan ada kesan bahwa itu cara pandang yang terlampau berlebih-lebihan terhadap santri. Dalam hemat penulis, itu hanya sekedar bayangan dari para pembuat narasi film dengan tema keislaman dan penyusun naskah sinetron saja.

Bacaan Lainnya

Dalam realitanya, berdasarkan pengalaman penulis sendiri yang sempat nyantri di beberapa pondok pesantren kecil di Jawa Timur, semua gambaran itu justru malah terkesan mengada-ada dan tidak sesuai fakta. Apa buktinya?

Ada cerita yang sampai ke telinga penulis dan disampaikan oleh salah seorang rekan pegiat bahtsul masail di Jawa Timur. Suatu ketika Prof Mahfud MD, Menteri Pertahanan di Kabinet Jokowi – Amien saat ini, berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan mendapati hasil karya tulis santri yang dinyatakan sebagai lulus dari pesantren. Memang Lirboyo manmewajibkan setiap lulusan pesantren harus membikin sebuah karya tulis dengan merujuk literasi kitab-kitab turats yang ia pelajari dan telaah secara mendalam, selama di Ponpes tersebut.

Berita Menarik Lainnya:  Mengenal Token Kripto Berjamin Aset dalam FIkih Islam

Saat itu, Prof Mahfud kaget dan berseloroh, bahwa secara kelasnya, karya tulis santri itu tidak level bila dibandingkan dengan Sarjana Strata Satu. Lebih tepatnya, karya tulis itu adalah karya desertasi doktoral sebab sangat mendalam dan rinci. Karya tersebut bahkan terkesan tidak mampu disusun oleh doktor sekalipun, khususnya dalam keotentikan dan ketelitian penyajiannya. Ada metode yang menjadi ciri khas, yang dikenal dengan istilah metode manhajy (paradigmatik).

Siapa yang mengajarkan pola penerapan metode ini? Jawabnya adalah tidak ada? Apakah Kyai pengasuh pesantren? Sudah barang tidak juga. Coba anda bayangkan bila seorang pengasuh harus mengajari metode penulisan dari ribuan santri. Sudah barang tentu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Lalu bagaimana pola pemikiran ini terbentuk?

Sejauh yang dialami secara langsung oleh penulis, dan berdasar hasil penelusuran penulis terhadap beberapa budaya yang berkembang di santri, mereka belajar justru dari forum bahtsul masail. Forum inilah yang mendidik mereka menjadi pribadi yang bisa mengkomunikasikan pemahamannya dan diuji secara langsung di hadapan para kyai mushahih yang notabene bukan guru atau kyainya di Pondok Pesantren. Uniknya, semua pemahaman dan cara berfikirnya sama, yaitu paradigmatis.

Kita bisa menyaksikan berbagai produk hasil bahtsul masail diniyah di berbagai pondok pesantren. Secara umum, forum bahtsul masail ini dibagi menjadi 3 sub pembahasan dengan forum yang berbeda, yaitu waqi’iyah (kasuistik), maudlu’iyah (kausalitas) dan qanuniyah (peraturan dan perundangan). .

Sebelum pembahasan, biasanya para santri akan dihadapkan pada praktik tashawwur masalah. Tashawwur merupakan salah satu menjelaskan kasus hingga sedetail-detailnya dari seorang ahli atau pihak yang secara langsung mengetahui masalah yang tengah di bahas. Untuk kasus cryptocurrency misalnya, maka para santri ini tidak segan-segan untuk menghubungi para ahli dan praktisi langsung di lapangan sehingga dapat mendudukkan objek yang dikaji itu sesuai dengan yang berlaku menurut ketentuan agama Islam.

Berita Menarik Lainnya:  Apakah Cryptocurrency Bisa dijadikan sebagai Alat Tukar?

Apabila kasus itu berkaitan dengan unsur yang bersifat kasuistik, maka mereka tidak segan-segan untuk menyodorkan berbagai alternatif pandangan dari para tokoh ulama salaf dan mutaakhirin serta tidak segan dengan mengadopsi kalangan mu’ashirin (kontemporer).

Secara keseluruhan, pemandangan para santri senantiasa ditimbang berdasar standar penjelasan para intelektual madzhab. Misalnya, untuk definisi harta (maal), maka kepatuhan terhadap definisi benar-benar merupakan faktor yang menjadi landasan pemicu utama untuk mencari sandaran pencarian solusi. Jadi, berbeda sekali dengan budaya akademis lainnya yang ketiadaan patuh terhadap panduan yang sudah ada dan baku kecuali bila hal itu bersangkutan dengan data angka-angka. Jadi, patuhnya adalah terhadap angka, dan bukan terhadap teks. Inilah poin penting perbedaan antara akademisi modern dengan akademisi ala santri.

Dalam dunia akademisi, metode analisis para santri sebagaimana diilustrasikan sering dikenal dengan istilah Analisis Delphi. Namun, Analisis Delphi ala santri berbeda dengan Analisis Delphi para akademisi. Letak perbedaan itu ada pada ketiadaan standar / tolok ukur kepatuhan baku yang dimiliki oleh para akademisi lengkap dengan biografi para tokoh yang dinukilnya. Terkadang pandangannya bagus berbicara soal solusi sengketa kasus, namun fakta kepribadiannya justru bertolak belakang dengan kenyataan. Dirinya ternyata figur pecandu narkoba, suka bermain perempuan atau bahkan teralienasi dari realitas sosial. Tentu ini merupakan suatu keanehan, sebab setiap individu orang itu dididik untuk menjadi cerdas dan sanggup menjadi agent of change (agen perubahan) di kalangan masyarakat, namun sebaliknya ia malah teralienasi dengan dirinya sendiri. Dalam al-Qur’an, sosok semacam ini tak ubahnya seperti lilin. Ia berusaha menerangi masyarakat sekitarnya, akan tetapi justru dirinya sendiri yang dibakar oleh sikap teralienasi dirinya.

Berita Menarik Lainnya:  Bagaimana Rasanya Wisuda Tanpa Dihadiri Orangtua? Ini Ungkapan Wisudawan Defi

Bagi santri, satu kasus persoalan religi dan sosial, bisa jadi akan dipandang secara berbeda-beda. Namun perbedaan itu masih dalam koridor kepatuhan terhadap syara’ serta keputusan hukum mengacu pada rekonsiliasi. Hal ini kadang tidak kita jumpai pada diri akademisi universitas. Mereka menyelesaikan masalah dengan jalan menukil dari pribadi yang kadang dianggap sebagai tidak sehat oleh lingkungannya..

Metode Delphi ala santri memiliki hasil berstandar etis, praktis serta shulhy (rekonsiliasi). Sementara Metode Delphi cenderung pada right oriented (berorientasi pada hak), kebebasan tanpa batas dan punishment (sanksi bagi pelanggar), sehingga kering dari nilai etika dan norma.

Itulah fakta sekelumit tentang santri. Biar dia pakai sarung, yang andaikata ada ulat masuk ke sarung Si Satri ini tanpa sengaja, maka ulat itu akan bingung mencari jalan keluar karena ngepir, namun peran akademisinya tidak diragukan lagi. Jika ulat saja tidak bisa keluar dari sarung nge-pir si santri udik, maka mana mungkin sifat buruk kemanusiaan akan melaju di tengah arena diskusi santri? Menurut anda apakah anda masih memandang bahwa Si Santri itu benar-benar udik?

Muhammad Syamsudin, S.Si., M.Ag
082330698449
Bank Jatim: 0362227321

banner 600x310

Pos terkait

banner 1024x1280