Tutorial Menulis Esai Khusus Jamaah Perserikatan Digitaliyah

Gafur Abdullah Wartawan Beritabangsa.com
Gafur Abdullah Wartawan Beritabangsa.com
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM TULISAN ini sebenarnya materi penulisan esai untuk teman – teman LPM IQRO di Bangkalan pada awal Desember lalu.

Ya, namanya juga dakwah literasi, tidak ada salahnya saya bagikan tulisan ini kepada Jamaah Digitaliyah lainnya di sini.

Bacaan Lainnya

Beberapa minggu lalu, musuh bebuyutan dalam perngakakan- Mahrus- meminta saya mengisi materi esai pada pelatihan kilat di pers kampus yang saya juluki Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lokkilok.

Usia organisasi pers mahasiswa tunggal di kampus STIUDA Bangkalan ini terbilang remaja, tapi semangatnya untuk terus berkembang, menjadi wadah belajar kaum agen – gas elpiji, Bahaha – perubahan dan menjadi corong kebenaran melalui karya jurnalistik dan sastra begitu berapi – api.

Seperti api yang membakar daun – daun kering. Sorry, ini bukan rasis, ya. Julukan LPM Lokkilok ini hanya sapaan akrab saja. Saya mencintai LPM ini seperti kecintaan saya pada jurnalisme, terpatri di lubuk hati yang paling dalam.

Awalnya, saya berniat menolak permintaan ini atas dasar ingin fokus pada pekerjaan. Tapi karena unit kegiatan mahasiswa dengan identitas formal LPM Iqro’ ini tercatat dalam dairy Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Madura, maka saya mengiyakan permintaan manusia paling kocak se Pulau Garam itu.

Saya memang tidak gampang menerima permintaan jadi pemateri pada pelatihan kepenulisan, apapun kemasan dan dimana pun tempatnya. Tapi karena ini permintaan musuh bebuyutan, maka saya merasa tertantang. Bukan sok jual mahal dan sombong, hanya saja belajar untuk mencapai tingkatan itu. Bahaha.

Perihal materi menulis esai, sebenarnya berseliweran di ragam medium. Bahkan, pelatihan menulis esai pun kerap dilaksanakan oleh komunitas dan instansi. Hanya saja, jutaan kali membaca materi dan mengikuti pelatihan menulis esai tidak menjamin kita bisa menulis esai tanpa aksi nyata dengan latihan.

Artinya, penulis jenis tulisan apapun itu bisa menulis karena sering latihan, bukan hanya pamer foto momen pelatihan di media sosial yang kadang dibuli oleh para netijen nakal dan bikin kesal. Bahaha, rasain.

Syarat untuk Menulis Esai

Ada yang harus disetujui terlebih dahulu, yakni menulis itu gampang jika tahu caranya dan sudah terbiasa menulis. Susah jika tidak tahu caranya dan tidak pernah menulis. Kali ini saya mau memberikan resep dan tutorial menulis esai khusus-pejuang kesejahteraan hidup di masa depan.

Bahaha. Plisss, jangan merah muka. Ini hanya candaan- Jamaah Perserikatan Digitaliyah.

Tapi kalau semisal habis membaca materi ini, anda –para Jamaah Digitaliyah tidak juga menulis dengan kata lain tidak praktik sendiri di lain waktu, berarti sama saja anda mengingkari potensi diri yang diberikan Tuhan.

Berita Menarik Lainnya:  Trik Anti Boros, Berikut Cara Ampuh Mengatasinya

Bahkan, saya berani katakan Anda menistakan kerja keras editor yang rela tahan ngantuknya untuk mengedit dan mempublikasikan tulisan ini. Hihi.
Perihal menulis esai itu ibarat membangun rumah.

Membangun rumah sekecil apapun harus ada modal meski hanya modal kemauan, desain rumah, bahan material, tukang, mau dipoles dengan cat apa saja, dan kapan mau digarap. Begitupun dengan menulis esai.

Dalam menulis esai, harus mempersiapkan dulu; kemauan, topik, kerangka, dan mau ditulis dengan gaya bahasa seperti apa dan mau dikirim media mana.

Kita mulai dulu dari kemauan sebagai modal utamanya. Kemauan itu bisa karena beberapa hal; Pertama, ingin menulisnya karena ingin memenuhi tugas akademis seperti tugas dan lomba.

Kedua, karena ingin berbagi gagasan kepada publik melalui tulisan esai. Ketiga, karena ingin mencari cuan dengan cara menulis di media berbayar. Tiga hal itu sudah jamak dialami oleh para penulis esai.

Selanjutnya, menentukan topik untuk esai yang diinginkan. Memilih topik bahasan dalam esai itu penting untuk dilakukan oleh calon–sarjana pengangguran kelak. Bahaha.-penulis esai.

Karena itu sebagai acuan untuk lebih memudahkan calon penulis dalam mencari sumber referensi, fakta, anekdot, juga kejadian di sekitar kita untuk bisa dijadikan sebagai ilustrasi.

Kalau menurut petuah penulis bernama Iqbal Aji Daryono, si Raja Esai Populer, kita bisa memilih topik yang hangat. Semisal dalam minggu ini sedang ramai soal elit politik sedekah palsu dengan senyuman di sudut-sudut persimpangan jalan.

Maka kita bisa menulis esai soal narsistik para elit politik itu. Untuk mendapatkan topik ini bisa didapat dari banyak hal.

Bisa melalui berita di media berbasis pers baik digital maupun cetak, media sosial, bahkan kejadian yang terjadi di sekitar kita. Penulis kolom, esai, artikel, bahkan jurnalis sekalipun, akan selalu memasang CCTV manusiawinya dimana pun dia berada.

Tujuannya satu, untuk bisa mendapatkan ide yang bisa menjadi bahan tulisannya.

Menentukan kerangka dalam menulis itu hukumnya fardu ain. Jika bagian ini ditinggalkan akan mendapat dosa literat. Ibarat berbicara, kalau tidak terstruktur, lawan bicara akan bingung memahami pembicaraan kita. Kita sebagai penulis memiliki lawan bicara, yaitu pembaca.

Bedanya, penulis berbicara dengan tulisan.

Nah, membuat orang lain bingung dalam membaca tulisan kita itu yang saya sebut dosa literat. Meskipun ganjarannya tidak terbayar dengan api neraka, dosa literat itu tidak ada ampunannya.

Artinya, penulis itu dituntut untuk bisa menyampaikan gagasannya dengan terstruktur. Nah, kerangka ini berfungsi untuk memudahkan bagi penulis. Mudahnya begini. Apa yang mau diletakkan pada paragraf pembuka, bagian tengah (tubuh esai) dan penutup.

Berita Menarik Lainnya:  Kenalan dengan Jurnalisme Sastrawi

Kemudian, mau ditulis dengan gaya bahasa seperti apa esai yang akan kita garap. Untuk bagian ini, tidak ada salahnya kita meniru cara hidup bunglon sementara waktu.

Sepakat atau tidak, jika kita menulis esai, perlu adaptif seperti bunglon. Tapi bukan manusia berkarakter bunglon, ya. Yang hidupnya menyamar di sana sini untuk mendapatkan mangsa. Bahaha.

Misal kita menulis esai karena tugas akademik, maka kita kudu menulisnya sesuai perintah dosen. Jika dosen meminta menulis esai ilmiah, jangan sampai kita menulis esai populer.

Begitupun dengan menulis esai untuk media massa. Jangan sampai menulis esai ilmiah, karena esai yang dimuat di media massa itu adalah esai populer.
Keduanya memiliki perbedaan yang mencolok. Wabilkhusus pada cara penulisan dan bahasanya.

Penulisan esai ilmiah cenderung kaku sebab harus ada abstrak, pendahuluan, pembahasan, menggunakan bahasa yang baku, kesimpulan, referensi harus ditulis lengkap (footnote dan daftar pustaka) dan jumlah katanya pun lebih banyak.

Sedang esai populer sebaliknya. Bahasa lebih singkat, lebih komunikatif dan bisa menyesuaikan dengan media massa yang kita tuju. Semisal kita menulis esai di Mojok.co dan Tirto.id itu pasti berbeda.

Menulis di Mojok.co, kita bisa membubuhkan bahasa sehari-hari; seperti bahasa candaan, ngapak, ngejawa dikit pun nggak masalah.

Berbeda dengan menulis di Tirto.id yang narasinya lebih tegas.

Rukun dalam Menulis Esai Kita

Judul : Membuat judul tulisan apapun itu harus singkat dan menarik.

Semisal topik yang kita akan kita angkat seputar toleransi dan intoleransi. Secara umum, dua istilah itu selalu dibahas bergandengan. Contoh: kita mau membahas Negara Kesatuan Republik Indonesia ini bisa tetap bertahan meski warganya terdiri dari ragam suku, ras, budaya, dan agama dengan cara tetap menghargai satu sama lain.

Saling menghargai satu sama lain itu disebut sikap toleran. Negara yang dibangun dengan penuh perjuangan dari berbagai kalangan ini hanya akan tinggal sejarahnya sebab percekcokan bahkan pertumpahan darah antar warganya jika terjebak sikap intoleran.

Jika pembahasan esai kita mengarah ke sana, maka kita bisa membuat judul esai dengan ; Epidemi Keberagaman Itu Bernama Intoleransi.

Paragraf yang Menarik

Ibarat toko, tampilan depan seperti etalase harus menarik bagi calon pelanggan. Kalau etalase kita sudah amburadul, tidak menutup kemungkinan calon pelanggan akan risih dan bisa jadi mengurungkan niat untuk membeli di toko kita.

Begitupun dengan tulisan esai kita. Nah, ibarat toko tadi, paragraf pembuka tulisan kita itu etalasenya. Kalau paragraf pembuka sudah tidak menarik, pembaca akan mengurungkan niat untuk menyelesaikan bacaannya.

Berita Menarik Lainnya:  Kenalan dengan Jurnalisme Sastrawi

Kita bisa membuka dengan fakta, opini, pendapat tokoh, pertanyaan dan pernyataan menggelitik, atau membuat anekdot. Seperti ;

Bagaimana santri memaknai dan melakukan visualisasi sikap toleran? Bagaimana agar santri tidak terjebak dalam sikap intoleran?

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan melakukan centang atau menandai antara huruf A, B, C, D bahkan mengisi baris kosong di atas kertas. Tidak. Karena ini bukan soal pilihan ganda pada ujian kenaikan kelas dan kelulusan kelas akhir di jenjang sekolah.

Buatlah Sub Tema: Bagian ini berfungsi untuk memberikan petunjuk kepada pembaca perihal bagian-bagian pembahasan dalam tulisan kita. seperti paragraf 2 dan 4 mau membahas apa.

Paragraf 3 sampai 6 mau membahas apa. Subtema ini tidak mengikat. Tapi sangat disarankan bagi penulis pemula untuk menerapkannya. Selain jadi petunjuk bagi pembaca, juga bisa memudahkan bagi kita untuk latihan menulis dengan terstruktur.

Perkuat dengan Sumber dan Fakta : Menulis tanpa sumber itu bagaikan menyajikan makanan tanpa bumbu, meski hanya garam atau penyedap rasa biasa, yang rasanya akan hambar.

Dalam menulis esai populer, misal menambahkan sumber dari buku tidak harus lengkap dengan halaman, nama penerbit, apalagi tahun terbit. Tidak perlu.

Tapi misal menambahkan fakta yang bersumber dari media massa, kita bisa mencatutkan nama media dan tanggal terbitnya.

Penutup : Membuat penutup dalam esai populer tidak seperti membuat penutup dalam makalah. Tidak perlu bertele-tele. Cukup berikan penegasan; baik itu berbentuk pernyataan maupun pertanyaan.

Seperti; Bahasan di atas, diharapkan menjadi penyelamat keberagaman NKRI dari epidemi bernama intoleransi. Dan, NKRI damai seperti Negara -Kamar- B6 dan tidak akan bernasib seperti Negara -Kamar- B5. Anda santri? Mau menjadikan NKRI ini seperti Kamar B5 atau Kamar B6?
Saya tidak suka perilaku boros. Pun dengan tulisan ini yang harus hemat kalimat.

Bahwa menulis esai itu harus punya niat, mencari ide, membuat kerangka yang jelas, harus bisa adaptif.

Meskipun sudah membaca materi bahkan mengikuti pelatihan esai di LPM Lokkilok (**) ini jangan terlalu bermimpi apalagi sombong dengan bergumam ‘akan bisa menulis esai pada waktunya’ padahal tidak pernah latihan.

Wahai….., para Jamaah Digitaliyah, segera bangun dari tidurmu, mungkin cara tidurmu terlalu miring. Bahaha.
Oh iya, jamaah sadar tidak, kalau sebenarnya materi ini adalah contoh esai sederhana yang bisa dibuat?

Tidak? Ah, lemah! Bahahaha. Selamat berlatih.

*) Gafur Abdullah Seorang wartawan beritabangsa.com.

*) Lokkilok – julukan akrabnya bahasa Madura di Bangkalan.

banner 600x310
banner 1024x1280