Kenalan dengan Jurnalisme Sastrawi

Buku jurnalisme sastrawi | Foto: www.andreasharsono.net
Buku jurnalisme sastrawi | Foto: www.andreasharsono.net
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM Menjelang akhir tahun 2021, saya diajak ‘ngobrolin’ seputar jurnalisme di LPM Maharaja, Universitas Wiraraja Sumenep.

Ada yang bikin saya geli sekaligus tertantang dalam ajakan ini. Apa sebab? Karena temanya cukup luar biasa; jurnalisme sastrawi. Mendengar itu, saya bergumam “Saya pantas nggak ya, membincangkan tema itu? Sedang saya masih ingusan.”

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Bukan apa-apa. Saya ini jurnalis –itu pun kalau layak dengan label itu- muda yang belum seberapa melahap ilmu –jurnalistik- yang bermula dari zaman Julius Caesar, 40-100 sebelum masehi ini. Ibarat air telaga, saya baru seteguk meminumnya. Itu pun hanya sebatas menghilangkan dehidrasi keilmuan ini. Tapi namanya juga diajak ngobrol, ya saya turuti.

Sebagai jurnalis yang masih belia, saya konsultasi kepada Andreas Harsono, salah satu pendiri Yayasan Pantau perihal tema itu.

Sekilas, Yayasan Pantau adalah badan hukum di Jakarta, berdiri pada 2003. Ia bergerak di bidang jurnalisme. Tujuannya, meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia. Kegiatan termasuk riset, pelatihan maupun penerbitan.

Yayasan ini juga menerbitkan Majalah Pantau. Mulai terbit Maret 2001, menurunkan laporan-laporan panjang dan mendalam, dari soal media hingga terorisme. Riset dalam, banyak referensi, dan disajikan dengan gaya bercerita (story telling) sehingga enak dibaca. Majalah Pantau berhenti terbit Maret 2004.

Meskipun sudah tidak terbit lagi, tapi majalahnya bisa dilihat di laman Pantau.or.id dan rekomended banget untuk dijadikan bahan ajar. Bahkan, secara khusus, melalui Yayasan Pantau, bersama jurnalis senior lainnya, dia mengadakan kursus jurnalisme sastrawi ini.

Sekilas Tentang Jurnalisme Sastrawi

Andreas menyambut hangat komunikasi pada Rabu (28/12/201) malam. Dia pun mengirimkan link yang membahas tentang jurnalisme sastrawi. Dalam laman itu, beliau menulis “Jurnalisme sastrawi” adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre ini dengan nama “new journalism” (jurnalisme baru)”.

Dari penjelasan itu, saya mencoba bergumam lagi “apakah jurnalisme sastrawi sama atau beda dengan feature?” Saya dulu simpan pertanyaan itu di memori terdalam. Lalu saya lanjutkan membaca penjelasan lanjutan di laman itu. “Pada 1973, Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul The New Journalism. Mereka jadi editor. Mereka memasukkan narasi-narasi terkemuka zaman itu. Antara lain dari Hunter S. Thompson, Joan Didion, Truman Capote, Jimmy Breslin, dan Wolfe sendiri. Wolfe dan Johnson menulis kata pengantar. Mereka bilang genre ini berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail.” Tulisnya.

Berita Menarik Lainnya:  Tutorial Menulis Esai Khusus Jamaah Perserikatan Digitaliyah

Dia juga menuliskan, beberapa pemikir jurnalisme mengembangkan temuan Wolfe. Ada yang pakai nama “narrative reporting.” Ada juga yang pakai nama “passionate journalism.” Pulitzer Prize menyebutnya “explorative journalism”. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam daripada apa yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik. Laporannya panjang dan utuh –tidak dipecah-pecah ke dalam beberapa laporan.

Lalu bagaimana dengan wawancaranya? Dari laman itu saya membaca bahwa wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.

Kata dia, Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa), where (dimana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

“Pada narasi, menurut Clark dalam sebuah Essay Nieman Reports, “who” berubah menjadi karakter, “what” menjadi plot atau alur, “where” menjadi setting, “when” menjadi kronologi, “why” menjadi motivasi, dan “how” menjadi narasi.” jelasnya.

Ada juga yang bilang, tulis Andreas, genre ini adalah jawaban media cetak terhadap serbuan televisi, radio, dan internet. Hari ini praktis tak ada orang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Orang mengandalkan media elektronik. Suratkabar tak bisa bersaing cepat dengan media elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan media cetak. Suratkabar bisa berkembang bila ia menyajikan berita yang dalam dan analitis. Genre ini makanya disajikan panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah menerbitkan sebuah laporan hanya dalam satu edisi majalah. Judulnya “Hiroshima” karya John Hersey yang dimuat pada 31 Agustus 1946 tentang korban bom atom Hiroshima.

Ada juga yang justru merekomendasikan, kalau ingin tahu contoh tulisan beraliran jurnalisme sastrawi, baca Buku Jurnalisme Sastrawi Antologi Liputan Mendalam dan Memikat terbitan Pantau. Dalam buku ini di dalam kata pengantar yang ditulis oleh Andreas Harsono akan dijelaskan secara lebih mendetail apa itu Jurnalisme Sastrawi berikut contoh-contoh tulisannya.

Berita Menarik Lainnya:  PK PMII Unusa Dorong Kader Punya Skill Menulis

Sebelum lanjut lebih jauh, saya menyisir beberapa referensi untuk menjawab pertanyaan tadi. Apakah jurnalisme sastrawi berbeda dengan feature? Sebelum membedakan keduanya, perlu kiranya paham dulu bahwa cukup sulit mendefinisikan secara baku dan konkret apa itu feature. Di dalam ilmu Matematika saja jika semakin masuk ke sisi telaah filosofisnya akan sampai pada kenyataan bahwa kepastian itu ternyata relatif, apalagi jika berbicara dalam ranah hasil karya tulisan.

Akan tetapi, dalam penjelasan lanjutan, feature adalah artikel kreatif yang kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang, menghibur, serta memberikan informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek dalam kehidupan. Ada juga yang memberi pengertian feature sebagai tulisan yang cenderung lebih untuk menghibur daripada untuk menginformasikan. Hati-hati dengan pengertian ini! Di dalamnya ada rambu-rambu “untuk membuat senang” dan “cenderung lebih untuk menghibur”

Lalu sepanjang apa tulisan yang disebut feature itu? Dalam kegiatan jurnalisme, panjang pendeknya tulisan feature ditentukan oleh sepanjang apa penulisnya menganggap tulisannya itu menarik. Bisa cuma tiga atau lima paragraf. Bisa pula hingga 30.000 atau malah 50.000 karakter.

Di sela-sela menulis ini, saya mendapatkan sketsa dari Andreas Harsono, perihal jurnalisme narasi ini. Inti dari sketsa itu, panjang tulisan jurnalisme sastrawi bisa 10.000 sampai 100.000 kata.

Dari penjelasan itu, saya menarik kesimpulan bahwa dalam konteks peliputan dan penyajian, feature dan jurnalisme sastrawi itu berbeda. Perbedaan itu sederhana. Feature bisa sekali liputan dan singkat. Sedang jurnalisme sastrawi lebih lama. Pun dengan penulisan atau pengerjaannya.

Kembali lagi ke penjelasan dalam laman andreas, dia menulis tentang Robert Vare yang pernah bekerja untuk majalah The New Yorker dan Rolling Stones. Menurut Vare, tulisnya, ada tujuh pertimbangan bila hendak menulis narasi:

Pertama, fakta. Jurnalisme menyucikan fakta. Walau pakai kata dasar “sastra” tapi ia tetap jurnalisme. Setiap detail harus berupa fakta. Jurnalisme sastrawi bukan, bukan, sekali lagi bukan, reportase yang ditulis dengan kata-kata puitis. Kedua, konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila berminat bikin narasi, Anda sebaiknya pikir berapa besar sengketa yang ada? Ketiga, karakter. Narasi minta ada karakter-karakter. Karakter membantu mengikat cerita. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Ia harus punya kepribadian menarik. Tak datar dan tak menyerah dengan mudah.

Berita Menarik Lainnya:  Diskominfo dan Bea Cukai Sinergi Bersama Jurnalis Sosialisasikan Produk Ilegal

Keempat, akses. Jurnalis seyogyanya punya akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, buku harian, gambar, kawan, musuh, dan sebagainya. Kelima, emosi. Ia bisa rasa cinta. Bisa pengkhianatan. Bisa kebencian. Kesetiaan. Kekaguman.

Keenam, perjalanan waktu. Robert Vare mengibaratkan laporan suratkabar “biasa” dengan sebuah potret. Snap shot. Klik. Klik. Klik. Laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video. Ranah waktu jadi penting. Ini juga yang membedakan narasi dari feature. Narasi macam video. Feature macam potret. Sekali jepret. Ketujuh, unsur kebaruan. Tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang biasa yang jadi saksi mata peristiwa besar. John Hersey mewawancarai dua dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris, seorang penjahit, dan seorang pastor Jerman untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima.

Ketujuh hal ini bisa terfasilitasi dalam artikel-artikel yang dimuat di Pantau, media yang berdiri di bawah Institut Studi Arus Informasi, yang memberi ruang untuk tulisan-tulisan hasil peliputan yang panjang dan berelemen “sastrawi” seperti itu.

Seperti Apa Karakteristik Jurnalisme Sastrawi?

Pertama, menggunakan kaidah dan elemen-elemen sastra dalam penulisannya. Kedua, tidak menggunakan gaya piramida terbalik dalam pemberitaannya. Ketiga, sama seperti jurnalisme lainnya, jurnalisme sastrawi juga menggunakan unsur 5W+1H, Keempat, harus faktual.

Kelima, pelaporan berita tidak dibatasi oleh tenggat waktu. Keenam, penulisan dan reportasenya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ketujuh, sumber data diperoleh dengan mengandalkan reportase lanjut, menggunakan rekap publik dan catatan historis, diperoleh dari banyak narasumber (bukan hanya dari satu-dua narasumber), dokumen yang sah, buku harian, catatan pribadi, dan publikasi resmi lainnya. Kedelapan, isu-isu yang diangkat bukan yang populer atau sedang tren.

Elemen Jurnalisme Sastrawi

Elemen karya jurnalistik sastra meliputi: Penyusunan adegan (suasana demi suasana). Dialog (percakapan). Terakhir, detail (terperinci), layaknya cerita dalam novel atau drama. Karya jurnalistik sastra menampilkan fakta secara mendalam dengan menggunakan teknik penulisan karya fiksi. Ciri khas jurnalistik sastra antara lain mendalam dan struktur ceritanya bertema atau dalam bentuk kilas-balik (flashback).

Dari diskusi bersambung dengan Andreas, saya mendapat pencerahan bahwa istilah jurnalisme sastrawi lebih baik disebut jurnalisme narasi.

Mungkin begitu saja perkenalan dengan jurnalisme sastrawi. Tulisan ini mungkin pendek, amat pendek. Karena hanya membahas secara umum. Namun demikian, semoga saja bermanfaat. Selebihnya, banyak sumber atau referensi lain yang lebih luas penjelasannya.

Rujukan:
http://www.andreasharsono.net/2006/01/ibarat-kawan-lama-datang-bercerita.html
http://www.diptara.com/2010/12/jurnalisme-sastrawi-dan-feature.html . Diakses pada 16.22 WIB 31/12/2021 .
https://ajisolo.wordpress.com/2008/10/28/memahami-feature/ diakses pada 31/12/2021. https://www.terakota.id/jurnalisme-sastrawi/
https://romeltea.com/pengertian-jurnalistik-sastra/
https://pantau.or.id/

*) Gafur Abdullah Seorang wartawan Beritabangsa.com

banner 600x310

Pos terkait