Pro Kontra Soal Perwali Nomor 33 Tahun 2020, Ini Tanggapan Ketua DPP FKKNu

Surabaya, Beritabangsa.com – Aksi demonstrasi menuntut pencabutan Perwali Nomor 33 Tahun 2020 oleh Pekerja Hiburan Malam pada (03/08) menuai kritikan dari kalangan tokoh ulama.

Salah satunya Ketua Umum DPP Forum Kiai Kampung Nusantara (FKKNu) KH Abd Tawwab Hadlory juga ikut menyoroti permasalahan pro kontra Perwali Nomor 33 Tahun 2020.

Bacaan Lainnya
banner 1920x1080

Tokoh ulama Surabaya ini menilai pihaknya berhak untuk ikut urun rembug menanggapi permasalahan tersebut.

“Saya atas nama Ketua Umum DPP Forum Kiai Kampung Nusantara, mendukung sepenuhnya terhadap pelaksanaan Perwali Nomor 33 Tahun 2020,” ungkapnya, Saat ditemui dikediamannya. Kamis 06 Agustus 2020.

Menurut pengasuh Ponpes Darus Sa’adah Nginden Jangkungan ini, Perwali Nomor 33 Tahun 2020 adalah salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam memutus mata rantai COVID-19

Berita Menarik Lainnya:  SK Tak Kunjung Turun, PCNU Surabaya Terancam Tak Bisa Jadi Peserta Muktamar

“Saya mendukung Perwali 33, karena menurut saya langkah-langkah yang diambil oleh Pemkot Surabaya itu menuju kepada keberhasilan walaupun sementara ini banyak rintangan mulai dari kebijakan pemberlakuan PSBB sampai dengan timbulnya perwali Nomor 33 tahun 2020 ini,” tandasnya

Bahkan saat ini, lanjutnya, keberhasilan ini telah menjadikan Surabaya sebagai zona hijau yang sebelumnya berada di level zona merah pekat

“Perwali Nomor 33 tahun 2020 ini sudah kelihatan hasil yang lebih baik pada situasi dan kondisi kota Surabaya saat ini khususnya dalam masalah COVID-19. Dan sekarang menurut pakar kesehatan sudah menuju zona hijau, ini kita tidak boleh melihat dengan sebelah mata kepada keberhasilan ini,” jelasnya

Berita Menarik Lainnya:  Jika Rumah Bupati Terendam Banjir Alkon Sedot Air Dikerahkan

Tuntutan pekerja hiburan malam umum dinilai sangat kontradiksi dengan situasi dunia maupun negara yang saat ini tengah berduka. Sebab pandemi tidak hanya berdampak pada satu sektor saja.

“Karena yang dipikir itu cuma satu sektor. Ekonomi atau income dari pribadi. Makanya harus merubah mindsetnya tadi. Pantaskah bernyanyi atau bersuka ria ditengah duka nasional bahkan dunia, hanya karena alasan agar bisa bekerja,” tegasnya

Pandemi COVID-19 terpaksa merubah kehidupan dan mindset banyak orang. Termasuk para pekerja hiburan malam. Mereka sementara waktu harus bersabar. Namun kemarin (4/8) mereka turun ke jalan memenuhi depan Balai Kota Surabaya. Menuntut agar peraturan jam malam dalam perwali dicabut.

KH Tawwab berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini tidaklah lepas dari ketentuan Allah sebagai sutradara kehidupan. Berikut wabah Covid-19 yang melanda seluruh belahan dunia.

Berita Menarik Lainnya:  Bupati Tak Laksanakan Pansus TP2D, 34 Anggota DPRD Ajukan Hak Angket

“Allah memaksa dengan Covid-19 ini kepada masyarakat khususnya Surabaya untuk merubah mindset. Sekarang tidak perlu kok, hiburan malam seperti itu. Masa-masa prihatin. Kalau tidak merubah mindsetnya, saya rasa akan tetap berjalan,” ungkapnya.

“Cobalah masak kalah dengan orang-orang kampung punya inisiatif berjualan di kaki lima atau berjualan melalui online,” saran KH Tawwab.

Jika ingin berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL), lanjut KH Tawwab, kemungkinan Pemkot Surabaya bisa memfasilitasi. Contoh seperti sentra PKL yang ada di Kebon Bibit.

“Kalau solusi lain, saya rasa sangat berat. Apalagi pekerja hiburan malam itu kebanyakan orang-orang urban. Kok malah Pemkot Surabaya dalam hal ini yang dipimpin oleh Bu Risma, itu yang menjadi penanggung bebannya,” ucapnya.

Reporter : AW

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *