Perintah Puasa Ramadan Bukan Ditujukan untuk Mukminun

Iwan Mirwanuddin Seorang Alumni FISIP Unmuh Malang dan Mantan aktivis IMM
Iwan Mirwanuddin Seorang Alumni FISIP Unmuh Malang dan Mantan aktivis IMM
Silahkan Share ke :

BERITABANGSA.COM Perintah shiyam ramadan di dalam Surah Al Baqarah, 183, ternyata bukan fokus ditujukan untuk “mu’minuun,” tetapi, untuk “aamanuu.”

Apa bedanya? Bukankah sekilas arti keduanya sama ?

Bacaan Lainnya

Namun apabila ditelaah lebih dalam, dengan menggunakan ilmu alat (grammar) Bahasa Arab maupun Tata Bahasa Alquran, ternyata dua kata tersebut memiliki spesifikasi berbeda.

Mengapa Allah SWT kadang membuka ayat Alquran dengan menggunakan kalimat ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ) dan tidak menggunakan kalimat (يا أيها المؤمنون)? Padahal dua kalimat ini sepintas memiliki terjemah makna yang sama dalam bahasa Indonesia, yaitu “wahai orang-orang beriman.” Tentu hal ini bukanlah tanpa ada alasannya.

Ads

Sungguh, ini menunjukkan bukti tingginya sastra bahasa Alquran dalam menerapkan diksi dan kosakata, sekaligus menjadi bukti yang menegaskan bahwa Alquran bukanlah karya atau hasil rekayasa Nabi Muhammad SAW.

Setiap kata, frase dan kalimat dalam Alquran ini sangat detil dan tepat karena teks sesuai konteks dan mengandung makna yang sangat mendalam.

Kata aamanuu (آمَنُوْا) merupakan kata kerja lampau (fi’il madzi) berbentuk plural (jamak), yang bermakna orang- orang yang telah mengaku beriman.

Bentuk singular (tunggal) kata ini ialah aamana (آمَنَ), yaitu pola (wazan) tiga huruf asli dengan tambahan satu huruf atas af’ala.

Asalnya, dari kata tiga huruf dasar (tsulasi mujarrad) amina (أَمِنَ), yang berarti aman.

Hal ini, bukan sesuatu yang ruwet atau njlimet, atau mempersulit, namun, justru sangat menarik bagi yang terbiasa dengan tradisi ilmiah, jika mengikuti proses derivasi kata “amina” hingga menjadi “aamanuu” dan “mu’minuun.”

Kata amina (أَمِنَ) mengalami penambahan hamzah (أ) di awal kata sehingga menjadi aa’mana (أَأْمَنَ). Selanjutnya, hamzah kedua pada kata a’mana (أَأْمَنَ) berubah menjadi mad (~) guna meringankan bacaan hingga terlahir kata aamana (آمَنَ), dan dipluralkan menjadi aamanuu (آمَنُوْا).

Fungsi penambahan hamzah pada kata ( أمن ) ialah untuk menghasilkan makna baru yang berkaitan dengan makna asal. Makna baru yang dimaksud dalam kalimat aamana ( آمن ) ialah “orang yang memiliki iman”.

Sedangkan hubungannya dengan makna asal, terangkai dalam kalimat berikut: “orang yang memiliki iman merupakan orang yang aman”.

Dalam konteks ini, ketika Allah Swt berfirman dalam Alquran: Yaa ayyuhalladziina aamanuu (يا أيها الذين آمنوا), seolah-olah Allah hendak menyampaikan bahwa: “Duhai orang-orang yang beriman kepada-Ku yang dengan iman itu kalian akan merasa aman dari kegelisahan dunia dan keresahan akhirat”.

Berita Menarik Lainnya:  Jelang Malam Tahun, Kapolres Tanjung Perak Ingatkan Jam Malam Secara Humanis

Makna ini juga seolah menyiratkan pesan bahwa di antara ciri orang beriman ialah kondisi hatinya yang selalu aman, tentram dan jauh dari kegelisahan (tatma’inul_quluub).

Dalam beberapa referensi, kata aamanuu disebutkan terulang sebanyak 258 kali dalam Alquran dan bentuk tungggalnya aamana terulang sebanyak 33 kali.

Sedangkan kata al-mu’minuuna terulang sebanyak 35 kali dan kata al-mu’miniina terulang sebanyak 144 kali.

Ayat yang menggunakan kata aamanuu dan al-mu’minuuna.

(1) Contoh ayat Alquran yang menggunakan kata (آمنوا)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang (mengaku) beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS al-Baqarah: 183)

Menurut Jalaludin as suyuthi, di dalam kitabnya al-Itqan, penggunaan lafaz fi’il (kata kerja) di dalam Alquran menunjukkan arti tajaddud (munculnya sesuatu yang baru) dan huduts (temporal atau perbuatan itu hanya sementara saja, tidak tetap).

Kata aamanuu merupakan kata kerja yang mengandung makna: orang-orang yang telah beriman. Dalam kaidah Bahasa Arab, setiap sifat dan keterangan yang diungkapkan dengan kata kerja menunjukan bahwa sifat dan keterangan tersebut tidaklah konstan (tetap; permanen), melainkan senantiasa mengalami fluktuasi. Terkadang menguat, adakalanya juga melemah.

Dalam konteks ini, kepemilikan iman yang diwakili oleh kata kerja menyiratkan, bahwa iman yang dimiliki terkadang dapat menguat dan melemah alias masih labil.

Menguat ketika ia ditopang dengan amal baik, dan melemah ketika dikoyak oleh maksiat. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW bahwa iman itu terkadang menguat, adakalanya juga melemah. Menguat dengan (meningkatkan) ketaatan dan melemah karena (mengerjakan) maksiat.

Karena itu, kita sering dapati bahwa kalimat ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ) dalam Alquran selalu diiringi dengan amal shaleh yang didisain Ilahi untuk menguatkan iman hamba-Nya. Amal shaleh ini dapat berwujud puasa, shalat, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, menegakkan hukum, memenuhi janji dan kontrak , dan lain-lain.

Dalam ayat puasa diatas misalnya, Allah SWT seolah ingin menyiratkan bahwa : “bagi setiap insan beriman yang berkeinginan untuk menguatkan sinyal imannya, maka training Ramadhan merupakan media yang amat efektif untuk ditempuh”.

Kata “aamanu” menunjukkan pada mereka yang sedang berupaya menyempurnakan imannya (prosses of becoming), dan bukan hanya mereka yang sudah sempurna keimanannya (mu’minuun).

Berita Menarik Lainnya:  Viral, Warga Desa Kembang Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah, PWI Bondowoso Beri Bantuan

Kata (آمنوا) juga mengandung arti seluruh orang yang beriman baik yang kuat imannya, yang sedang imannya maupun yang lemah keimanannya. Jadi dalam ayat tersebut, Allah memanggil orang yang beriman agar menyempurnakan keimanannya dengan media puasa.

(2) Contoh ayat Alquran yang menggunakan kata (المؤمنون)

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS al-Muminun: 1-6)

Menurut Jalaludin as Suyuthi di dalam kitab Al Itqan_ nya, penggunaan ism (kata benda) dalam Alquran adalah menunjukkan arti tsubut (tetap) dan istimrar (berkelangsungan) dalam sebuah keadaan. Lafaz ini mempunyai makna dan tempat sendiri yang tidak dapat diganti atau ditukar dengan yang lainnya untuk menghadirkan makna yang sama.

Kata al-mu’minuuna yang artinya “orang-orang beriman” termasuk dalam ranah isim atau kata benda. Sehingga, kata al-mu’minuuna bermakna orang yang memiliki stabilitas iman. Dalam ayat di atas, garansi kebahagiaan yang diraih oleh al-Mukminuun ini diungkapkan dengan kata aflaha.

Kata ini sejatinya berasal dari kata kerja falaha yang berarti mengolah, memproses, sehingga dapat menuai hasil. Seorang petani dalam bahasa Arab dinamai fallâh, karena ia harus memproses lahan taninya dengan mengolah tanah, menanam bibit unggul, memupuk, menjaga dari hewan perusak dan pemangsa tanaman, hingga dapat memanen jerih payahnya.

Begitu pula dengan al-Mu’minuun. Sang Pencipta seolah hendak menyampaikan bahwa kebahagian yang diraih oleh al-Mu’minuun membutuhkan proses dan perjuangan yang tidak ringan seperti proses dan perjuangan yang ditempuh seorang petani.

Bibit iman yang telah dimiliki haruslah diolah dengan terus meningkatkan kebaikan, dipupuk dengan semangat, dan dijaga dari segala tipu daya nafsu dan bisikan durjana setan, sehingga dapat memanen kebahagian yang didambakan.

Di antara kebaikan yang harus ditempuh oleh muslim yang ingin meraih derajat al-Mu’minuun ialah khusyu’ dalam shalat (ayat 2), menghindarkan diri dari senda gurau yang tidak bermakna (ayat 3), gemar berzakat (ayat 4), menjaga syahwat (ayat 5), menunaikan amanah, dan menjaga waktu shalat.

Berita Menarik Lainnya:  DPR RI Komisi 8 Kunjungi Bondowoso, Bupati Mengadu Banyak Masalah Serius

Adapun kebahagiaan yang telah disediakan Allâh bagi al-Mukminûn ialah menjadi penghuni abadi surga firdaus .

Dalam surat Al-Mu’minuun ayat 1 di atas, kata (المؤمنون) al-Mu’minun yang berarti orang-orang beriman diikuti isim (kata-kata benda) di ayat-ayat berikutnya, bisa juga berarti memiliki ciri tidak perlu diperintah lagi untuk mengerjakan amal shaleh, dan tidak membutuhkan larangan untuk meninggalkan kemaksiatan.

Seorang mu’min senantiasa mematuhi segala perintah dan meninggalkan segala larangan dengan otomatis tanpa keterpaksaan atau sami’na waatho’na (kami dengar dan kami taat). Karena seorang mu’minun adalah seorang yang memiliki kualitas keimanan yang sempurna.

(3) Contoh ayat Alquran yang menggunakan kata (آمنوا) dan (المؤمنون) secara bersamaan

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.
(QS al-Hujurat ayat 15)

Kata al mu’minuun (orang-orang yang beriman) pada ayat diatas menggunakan isim dan diikuti kata aamanuu yang berbentuk fi’il, menunjukkan bahwa keimanan adalah sesuatu yang harus selalu ada dan sifatnya tetap selama keadaan masih menghendakinya, sebagaimana halnya ketakwaan dan kesabaran.

Jadi, maksud penggunaan isim al Mu’minuun pada ayat ini menegaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang imannya tetap ada di hati dan tidak pernah hilang atau kadang ada kadang tidak. Iman itu akan selalu ada di hatinya, tidak pernah goyah dan selalu menemaninya dalam setiap aktifitas. Hingga di akhir ayat diberi predikat الصَّادِقُونَ atau orang-orang yang benar, yang juga merupakan kata benda (isim) yang bermakna stabil.

Kesimpulannya, diperjelas dan diperkuat oleh Quraisy Shihab dalam Tafsir al-Mishbah nya. Menurut beliau, kata ”yang beriman” (آمنوا) dan “yang mu’min” (المؤمنون) berbeda dari sisi kedalaman maknanya.

Beliau menganalogikan dengan membedakan antara “yang menyanyi” dan “penyanyi”. Yang menyanyi adalah orang yang hanya mendendangkan lagu sekali atau dua kali, bahkan bisa saja tidak di depan umum, sementara penyanyi adalah orang yang telah berulang-ulang menyanyi, bahkan telah menjadi profesi yang diyakininya. Begitupula dengan kata ”yang beriman” (آمنوا) dan “yang mu’min” (المؤمنون). Jadi, kata “yang mu’min” (المؤمنون) memiliki makna yang lebih dalam dibanding kata ”yang beriman” (آمنوا).

*) Iwan Mirwanuddin Seorang Alumni FISIP Unmuh Malang dan Mantan aktivis IMM

Pos terkait

banner 768x1152