Kurangi Angka Stunting, LPM Suramadu Bersama FOI Surabaya Berikan Bantuan Makanan Bergizi Tinggi

LPM Suramadu
Silahkan Share ke :

Beritabangsa.com, Surabaya – Dalam rangka mengurangi angka stunting, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Asemrowo gotong royong bersama pemerintah kecamatan, LPM Suramadu, dan Foodbank Of Indonesia (FOI) Kota Surabaya, memberikan bantuan berupa makanan dengan asupan gizi tinggi kepada anak stunting. (Minggu, 07/03/2021.

Berdasarkan data yang ada, pada September 2020, angka stunting di Kota Surabaya 7.040 balita dari 178.043 balita atau hanya sekitar 3,95 persen. Maka dari itu pihak Pemkot Surabaya bekerjasama dengan pihak swasta, terus bersinergi untuk mengurangi angka Stunting tersebut.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Cluster Salem Membludak, Sekda Kumpulkan Camat
banner 1920x1080

“Untuk saat ini, yang sudah terdata baru satu anak, yaitu di wilayah RW 05. Kita bantu dengan memberikan makanan bergizi, ada biskuit makanan tambahan balita dari pemerintah, juga ada susu dan snack bergizi dari FOI,” ujar Ketua LPMK Moch Widodo, Minggu (7/3/2021).

Pihaknya berharap, dengan terbentuknya sinergitas ini dapat mensejahterakan masyarakat Asemrowo. Sebagaimana pesan Walikota Surabaya Eri Cahyadi untuk bergotong royong demi kemaslahatan masyarakat Surabaya.

“Kami LPMK Kelurahan Asemrowo, selalu berusaha menampung jeritan warga termasuk stunting. Ini harapan Pak Eri, selalu gotong royong,” tegas Widodo.

H. Abdul Rohim, selaku ketua umum LPM Suramadu, dalam kegiatan hari itu turun tangan langsung ke lapangan. Tujuannya adalah memastikan bahwa apa yang dilakukan LPM Suramadu tepat sasaran.

Berita Menarik Lainnya:  Tak Bisa Bahagiakan Ibu, Satpam di Jombang Pilih Gantung Diri dan Tinggalkan Sepucuk Surat

“Sesuai dengan tujuan utama kita, yaitu ibadah, maka saya selalu siap untuk bersinergi dengan pihak-pihak terkait, apalagi tujuannya untuk kemaslahatan umat, insyaallah LPM Suramadu siap,” jelas Abah Rohim. (Panggilan Akrab, red)

Stunting sendiri adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang lain pada umumnya (yang sesuai).

“Biasanya, stunting itu kondisi gagal tumbuh pada bayi (0-11 bulan) dan anak balita (12-59 bulan) akibat dari kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan sehingga anak pendek seusianya,” terang Novelia Bambang Udi, istri Camat Asemrowo Bambang Udi Ukoro.

Menurutnya, stunting bisa disebabkan oleh praktik pengasuhan gizi yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan serta setelah ibu melahirkan.

Berita Menarik Lainnya:  Pemkab Bondowoso Ajak Jurnalis Jadi Pelopor AKB

“Apalagi di masa pandemi ini, banyak keluarga dan masyarakat yang terdampak ekonominya. Bulan depan akan kita lakukan pengecekan kembali secara berkala, tentang bagaimana perkembangannya,” kata Novelia.

Sementara itu, Doheri, orang tua dari anak penderita stunting di RW 05 Kelurahan Asemrowo mengaku senang dengan adanya bantuan berupa makanan dengan asupan gizi yang tinggi untuk anaknya.

“Ini adalah bantuan pertama yang kami dapatkan. Semoga setiap bulan dapat bantuan dari pemerintah atau relawan yang mau membantu,” pungkas bapak dari anak 10 tahun itu.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

 

banner 600x310

Pos terkait