Dosen Politeknik Jember Latih Warga Desa Wonosari Buat Kain Ecoprint

Desa Wonosari
Warga Desa Wonosari praktik membuat kain ecoprint dengan pendampingan dari kelompok dosen Politeknik Negeri Jember

BERITABANGSA.COM – JEMBER – Situasi perekonomian yang sulit pasca pandemi Covid-19 membuat omset penjualan kain batik tulis warga Desa Wonosari Kecamatan Tempurejo Jember semakin menurun. Padahal masyarakat desa setempat banyak menggantungkan hidupnya dari membuat batik tulis, dengan membentuk Koperasi Usaha Bersama atau KUBE Merubetiri sebagai badan hukumnya.

Mengetahui kondisi ini, tiga dosen dari Politeknik Negeri Jember di antaranya Elly Antika dan I Putu Dody Lesmana yang merupakan Dosen Teknologi Informasi, serta Asep Samsudin yang merupakan Dosen Bahasa dan Komunikasi Pariwisata, memberikan pelatihan pembuatan kain ecoprint kepada warga setempat.

Bacaan Lainnya
Berita Menarik Lainnya:  Jimmy Liechen Awali Karir MC dengan Konsep Berbeda
banner 1920x1080

“Mereka selama ini berjualan kain batik yang mana per meternya Rp. 1,5 juta ke atas, harga tersebut tidak terbeli atau susah jualnya di tengah perekonomian yang seperti ini,” ujar Elly kepada beritabangsa, Selasa 22 November 2022.

Elly menjelaskan bahwa Desa Wonosari tempat mereka tinggal, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Meru Betiri, hutan lindung terbesar di Jawa Timur.

Hal ini menurutnya sebuah peluang yang sangat besar bagi masyarakat sekitar.

Elly menjelaskan ecoprint merupakan seni cetak daun, bunga, batang, dan kulit kayu di atas kain serat alami. Proses cetak ini dapat juga menggunakan pewarna alam yang berasal dari kayu, akar, kulit buah, dan daun.

Berita Menarik Lainnya:  Semarak HUT RI ke-77, Jadi Momentum Jaga Soliditas Antar Perangkat Desa

“Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alam di Desa Wonoasri di antaranya kulit kayu jambal, kulit kayu mahoni, kulit buah jolawe, kayu nangka, daun ketapang, daun mangga, daun juwet, daun jati, rumput indigoreva dan rumput putri malu. Itu tersedia melimpah di sana,” kata Elly menambahkan.

Sedangkan bahan untuk motif ecoprintnya menggunakan daun, bunga dan rerumputan dari Desa Wonoasri, di antaranya daun jati, daun jaranan, daun kelengkeng, daun akalipa, daun mahoni,  daun kenikir, bunga waru, bunga sepatu, bunga kenikir, dan rerumputan.

Teknik yang diajarkan kepada anggota KUBE Merubetiri di Desa Wonoasri ini adalah teknik steam (kukus) dengan teknik penataan daun dan penerapan zat warna alami menggunakan teknik basic, mirroring dan blanket.

Berita Menarik Lainnya:  Alumni SMP Wachid Hasyim 4 Surabaya Gelar Pengajian Sekaligus Silaturahmi Lintas Angkatan 93

Dalam desiminasi ini juga dijelaskan cara mengujian kualitas kain yang akan digunakan pada pembuatan kain ecoprint.

Selain pemilihan kualitas kain, dijelaskan juga pemilihan jenis daun dan kualitas daun yang akan menghasilkan warna yang optimal dalam proses pembuatan kain ecoprint. Selama proses pelatihan dalam desiminasi teknologi ini diikuti dengan sangat antusias.

“Kini setelah kami ajari teknik ecoprint dengan pewarna alam, mereka menjual kain ecoprint permeternya lebih terjangkau, mulai Rp. 400 ribuan, yang mana harga ini masih bisa dicapai atau masih bisa dibeli oleh masyarakat umum di situasi ekonomi seperti sekarang ini,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

 

banner 600x310

Pos terkait

[masterslider id="23"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *